Kisah Kiki Syahnakri di Tanah Timor

timor timur untold story - kompasOleh : Fajar Kurnianto
Jurnal Nasional, Minggu 24 Februari 2013

Judul : Timor Timur, The Untold Story
Penulis : Kiki Syahnakri
Penerbit : Kompas, Jakarta
Cetakan : I, 2013
Tebal : xliv+436 halaman
ISBN : 978-979-709-683-0

“Lepasnya Timor Timur dari pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tahun 1999 dan menjadi negara sendiri bernama Timor Leste masih menyisakan kekecewaan yang mendalam bagi sebagian kalangan. Di antaranya adalah kalangan warga Timor Timur itu sendiri yang prointegrasi.”

Ada yang menyebut lepasnya Timor Timur merupakan kegagalan kepemimpinan nasional mempertahankan keutuhan NKRI, yang ironisnya justru terjadi di awal-awal reformasi pascajatuhnya rezim Orde Baru (Orba) pimpinan Soeharto. Di antara kalangan yang memendam kekecewaan atas lepasnya Timor Timur bisa disebut adalah warga Timor Timur sendiri yang prointegrasi. Setelah Timor Timur lepas, sebagian dari mereka harus mengungsi ke wilayah Indonesia, berada di kamp-kamp pengungsian, meninggalkan tanah kelahiran mereka. Kalangan lain yang kecewa adalah para pejuang prointegrasi dengan Indonesia yang bersama militer Indonesia harus mempertaruhkan nyawa demi bisa bergabung dengan Indonesia.

Kalangan lain yang kecewa adalah pihak militer Indonesia. Mereka yang berada di garis depan perjuangan mengintegrasikan Timor Timur ke wilayah Indonesia. Tidak kurang ribuan nyawa melayang untuk itu. Setiap saat bisa terjadi kontak senjata dengan pihak Fretilin, suatu kelompok politik berhaluan kiri di Timor Timur yang menginginkan kemerdekaan penuh dari Portugis (Portugal) pasca-Revolusi Bunga yang terjadi di Portugal tahun 1974 yang dimenangkan kalangan kiri. Kelompok ini juga yang berjuang untuk lepas dari Indonesia sejak integrasi tahun 1976 hingga akhirnya berhasil tahun 1999.

Di kalangan militer Indonesia, nama tokoh yang terkait masalah Timor Timur adalah Kiki Syahnakri. Bisa jadi nama beliau tidak terlalu dikenal luas. Padahal, dia salah satu tokoh penting di dalamnya. Dialah salah satu pemain lapangan yang terjun langsung dalam operasi tempur dan teritorial di wilayah ini. Dia yang pertama kali membuka arus pengungsian warga Timor Timur ketika terjadi konflik politik yang berujung perang saudara antarfaksi politik di sini pada akhir 1975. Konflik ini pula yang membuat Indonesia ikut campur, terutama setelah didesak pihak Amerika Serikat untuk menerjunkan pasukan di sini, khawatir Timor Timur jadi negara komunis.

Kisah perjalanan dan karier militer di Timor Timur inilah yang ditulis Kiki dalam bukunya, “Timor Timur, The Untold Story”. Bisa disebut, ini merupakan buku biografi militer Kiki. Di sini ada kisah pribadi, seperti pertemuannya dengan perempuan yang masih punya kerabat dengan orang Timor Timur yang kemudian menjadi istrinya, kemahiran Kiki berbahasa Tetun yang menjadi bahasa orang Timor Timur, juga kisahnya dalam konteks berbagai posisi di militer yang dijabatnya. Terakhir, ketika Timor Timur lepas, Kiki menjadi Pangdam IX/Udayana.

Beberapa kisah menarik diungkap Kiki, misalnya “gesekan” antara dirinya dengan Prabowo Subianto. Ini terjadi ketika Kopassus hendak menggelar operasi khusus di Timor Timur dengan sandi Operasi Melati pertengahan 1995. Ketika itu, Prabowo menjabat Wakil Komandan (Wadan) Kopassus. Operasi-operasi itu sebetulnya lazim. Tetapi, yang mengejutkan Kiki, dalam operasi itu ternyata ada program pembentukan “massa tandingan” untuk meredam gejolak demonstrasi yang terjadi. Ketika itu, Kiki adalah Komandan Korem. Kiki sangat menentang gagasan ini. Menurutnya, gagasan “massa tandingan” sama sekali tidak arif, pertimbangannya dangkal, dan ceroboh. Jika gagasan ini dijalankan, kata Kiki, akan memakan banyak korban, dan semakin lama akan kian meluas (hlm. 194).

Peran Kiki yang berat juga dia rasakan terutama pascareferendum. Ia harus berjuang menghadapi berbagai tudingan yang dialamatkan kepada pihak militer Indonesia sebagai pelanggar HAM, terutama pada masa darurat militer di wilayah ini. Tudingan itu kebanyakan dilakukan oleh media-media internasional dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat pegiat HAM. Pers lokal juga kerapkali menyudutkan militer Indonesia. Mereka banyak memberitakan sesuatu yang terkait dengan militer Indonesia tanpa konfirmasi atau verifikasi lebih dulu.

Disebutkan, misalnya, muncul tudingan terhadap Batalyon 613 yang bersiap untuk kembali ke basisnya di Kalimantan. Para prajurit batalyon ini dituding memperkosa 200 wanita di Qom, dekat Laga, tempat mereka menanti angkutan. Padahal, kata Kiki, Qom adalah kota kecil dengan jumlah penduduk tidak mungkin mencapai 200 orang, bahkan jika nenek moyang mereka ikut dihitung sekalipun. Isu lainnya, tentara melatih 15.000 milisi di Atambua untuk mengacaukan Timor Timur pascareferendum. Jika benar, tentu jumlah sebanyak itu akan jelas terlihat. Nyatanya, memang tidak ada.

Buku ini, melalui seorang Kiki, sesungguhnya merupakan suara pembelaan orang militer. Bisa dikatakan, curhat dari seorang yang tahu banyak tentang Timor Timur, karena hampir 11 tahun karier militernya berurusan dengan masalah Timor Timur. Kiki begitu merasa terpukul ketika akhirnya Timor Timur lepas. Ia dan pihak-pihak yang merasa telah berjuang mempertaruhkan nyawa selama ini merasa sia-sia. Ia tidak bisa mengerti bagaimana proses politik dan pelbagai pemikiran yang terjadi di Jakarta yang dipandangnya tidak tahu persoalan sebenarnya di Timor Timur dan bagaimana cara mengatasinya secara lebih elegan tanpa perlu referendum.

Indonesia di bawah Presiden BJ Habibie pada waktu itu memang tengah mendapat sorotan dari dunia internasional. Indonesia ingin memperlihatkan kepada dunia internasional komitmennya terhadap proses demokrasi pascarezim otoritarianisme Orba dan penegakan HAM. Habibie ingin menunjukkan diri sebagai seorang demokrat sejati dengan mengizinkan dilakukannya referendum untuk Timor Timur. Kiki menulis buku ini dalam perspektif militer yang tentunya berbeda dengan versi di luar militer. Buku ini setidaknya bisa menjadi sumber referensi pengaya terkait Timor Timur dari seorang militer, pelaku lapangan yang sudah lama berkecimpung di sini dan, seperti dikatakan penulisnya, sangat mencintai tanah Timor Timur dan masyarakatnya. Menarik disimak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s