Peran Ulama dalam Perubahan

Oleh : Fajar Kurnianto
Bisnis Indonesia, Minggu 29 Juli 2012

Judul : Ulama & Kekuasaan; Pergumulan Elite Muslim dalam Sejarah Indonesia
Penulis : Jajat Burhanuddin
Penerbit : Mizan, Bandung
Tahun : I, Juni 2012
Tebal : xii+482 halaman
ISBN : 978-979-433-691-5

Buku karya Jajat Burhanuddin yang merupakan disertasinya di Universitas Leiden, Belanda, ini coba menelusuri lebih jauh peran ulama tersebut. Studi ini, seperti dikatakan Jajat, menekankan sejarah sosial dan intelektual, yang relatif terabaikan dalam studi-studi tentang ulama Indonesia.

Kajian ini dimaksudkan untuk memberi sebuah penjelasan historis tentang apa yang sekarang muncul sebagai suatu bahasa konseptual tentang ulama kontemporer: revitalisasi dan reformulasi tradisi dalam rangka beradaptasi dengan tuntutan-tuntutan baru modernitas (hlm. 6).

Jajat memulai penelusuran peran ulama dengan memaparkan sejarah penyebaran Islam melalui jalur perdagangan dan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara.

Jaringan ulama Nusantara-Timur Tengah semakin terbentuk kuat dengan munculnya apa yang disebut dengan Komunitas Jawi di Mekah. Ulama yang terkenal di komunitas ini antar lain Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani (1813-1897) dan Mahfudz Termas (1868-1919).

Dari merekalah lahir ulama-ulama seperti Khalil Bangkalan (w. 1923) dan Hasyim Asy’ari (1871-1947). Sepulang dari Mekah, mereka mendirikan institusi-institusi pendidikan dan penyebaran Islam tradisional yang disebut dengan pesantren (di Jawa), surau (di Sumatera Barat) dan dayah (di Aceh).

Ketika situasi sosial politik di Nusantara berubah, angin pembaruan Islam yang dibawa Jamaluddin al-Afgani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha, datang dari Mesir yang memengaruhi pandangan ulama-ulama Nusantara dan Komunitas Jawi di Mekah.

Sebagian ulama Komunitas Jawi yang terpengaruh ide pembaruan tersebut, lalu pulang dan menyebarkannya di Nusantara.

Terjadilah persinggungan yang tajam dengan ulama-ulama yang kuat memegang tradisi. Inti dari pembaruan Islam adalah kembali kepada Islam yang otentik dan meninggalkan praktik-praktik budaya lokal yang tidak sesuai dengan ajaran otentik Islam.

Buku ini menarik, karena menggambarkan terbentuknya kelompok eksklusif ulama dan peran mereka dalam merespons setiap perubahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s