Ulama di Tengah Perubahan

Oleh : Fajar Kurnianto
Koran Tempo, Minggu 15 Juli 2012

Judul : Ulama & Kekuasaan; Pergumulan Elite Muslim dalam Sejarah Indonesia
Penulis : Jajat Burhanuddin
Penerbit : Mizan, Bandung
Tahun : I, Juni 2012
Tebal : xii+482 halaman
ISBN : 978-979-433-691-5

Dalam sejarah Indonesia umumnya, dan khususnya sejarah Islam Indonesia, ulama memainkan peranan yang sangat penting. Bukan hanya peranan dalam menyebarkan Islam dan membangun sarana-sarana pendidikan untuk kaum pribumi, tapi juga peranan dalam merespons perubahan sosial di Nusantara sejak zaman kerajaan-kerajaan Islam (prakolonial), zaman kolonial (Hindia Belanda), zaman kemerdekaan, bahkan hingga zaman sekarang ini.

Buku karya Jajat Burhanuddin yang merupakan disertasinya di Universitas Leiden, Belanda, ini coba menelusuri lebih jauh peran ulama tersebut. Studi ini, seperti dikatakan Jajat, menekankan sejarah sosial dan intelektual, yang relatif terabaikan dalam studi-studi tentang ulama Indonesia. Kajian ini dimaksudkan untuk memberi sebuah penjelasan historis tentang apa yang sekarang muncul sebagai suatu bahasa konseptual tentang ulama kontemporer: revitalisasi dan reformulasi tradisi dalam rangka beradaptasi dengan tuntutan-tuntutan baru modernitas (hlm. 6).

Jajat memulai penelusuran peran ulama dengan memaparkan sejarah penyebaran Islam melalui jalur perdagangan dan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara, seperti di Samudra Pasai, Malaka, Aceh, Demak, dan Banten, serta awal terbentuknya jaringan ulama Nusantara dengan pusat-pusat Islam di Timur Tengah (Mekah-Madinah). Pada masa ini, posisi ulama begitu dihormati dan dimuliakan pihak kerajaan. Sebagian ulama diangkat sebagai penasihat kerajaan, pendidik keluarga raja, dan ditempatkan di institusi-institusi hukum kerajaan untuk memutuskan perkara hukum di masyarakat berdasarkan hukum Islam.

Jaringan ulama Nusantara-Timur Tengah semakin terbentuk kuat dengan munculnya apa yang disebut dengan Komunitas Jawi di Mekah. Ulama yang terkenal di komunitas ini antar lain Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani (1813-1897) dan Mahfudz Termas (1868-1919). Dari merekalah lahir ulama-ulama seperti Khalil Bangkalan (w. 1923) dan Hasyim Asy’ari (1871-1947). Sepulang dari Mekah, mereka mendirikan institusi-institusi pendidikan dan penyebaran Islam tradisional yang disebut dengan pesantren (di Jawa), surau (di Sumatera Barat) dan dayah (di Aceh). Sejak kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara, lalu menaklukkan kerajaan-kerajaan Islam, situasi berubah. Sebagian ulama tidak lagi di pusat kekuasaan, tapi di luar, membentuk institusi-institusi sendiri yang terus dihormati masyarakat.

Ulama-ulama yang di luar kekuasaan umumnya menentang penguasa kolonial. Sebagian dengan memberontak, sebagian dengan membangun institusi-institusi tadi, membangun basis perjuangan kultural dan peningkatan sumber daya manusia yang religius. Sementara ulama-ulama yang lain bersikap loyal dengan penguasa kolonial, bahkan ikut membantu kebijakan-kebijakan pemerintah kolonial khususnya terhadap masyarakat muslim. Misalnya, kebijakan kolonial tentang haji. Menurut catatan Stamford Raffles,dalam setiap pemberontakan selalu terdapat para imam agama Muhammad yang umumnya belajar ke belahan bumi timur. Mereka memberontak karena intrik dan desakan para pemimpin lokal untuk menyerang atau memerangi orang-orang Eropa sebagai kafir atau pengacau (hlm. 104). Resolusi 1825 adalah upaya pertama pemerintah kolonial untuk membatasi haji dan mengawasi secara ketat para jamaahnya.

Ketika situasi sosial politik di Nusantara berubah, angin pembaruan Islam yang dibawa Jalaluddin al-Afgani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha, datang dari Mesir yang memengaruhi pandangan ulama-ulama Nusantara dan Komunitas Jawi di Mekah. Kemajuan teknologi, terutama alat-alat cetak, membuat arus perubahan itu begitu kencang sampai ke Nusantara. Sebagian ulama Komunitas Jawi yang terpengaruh ide pembaruan tersebut, lalu pulang dan menyebarkannya di Nusantara. Terjadilah persinggungan yang tajam dengan ulama-ulama yang kuat memegang tradisi. Inti dari pembaruan Islam adalah kembali kepada Islam yang otentik dan meninggalkan praktik-praktik budaya lokal yang tidak sesuai dengan ajaran otentik Islam.

Organisasi Muhammadiyah, yang didirikan KH Ahmad Dahlan tahun 1912, menjadi salah satu wadah ulama-ulama pembaru ini. Melalui organisasi inilah, mereka “menyerang” ulama-ulama tradisional dan praktik-praktik keagamaan yang dipandang menyimpang. Empat belas tahun kemudian, organisasi Nahdlatul Ulama (NU) didirikan KH Hasyim Asy’ari, untuk mewadahi ulama-ulama tradisional, antara lain sebagai respons atas gelombang pembaruan Islam yang disuarakan Muhammadiyah. NU sebetulnya tidak sepenuhnya menolak ide-ide pembaruan Islam. Misalnya, NU dalam perkembangannya mengadopsi model pendidikan modern dengan memasukkan beberapa mata pelajaran umum dalam kurikulum pendidikan pesantren.

Sampai titik berdirinya dua organisasi itulah sebetulnya ulama telah “final” menegaskan eksistensi dan posisinya yang terus berlangsung hingga saat ini. Peran mereka juga terus berubah seiring perubahan yang terjadi. Dalam konteks Jawa, Clifford Geertz (1960) menyebut ulama adalah “pialang budaya”. Teori ini kemudian direvisi Hirokoshi (1987). Menurutnya, ulama juga berperan memblokir saluran-saluran komunikasi dan kekuatan-kekuatan perubahan serta menyembunyikan informasi untuk mencegah berkembangnya kaitan langsung di antara dua tujuan tersebut dan menghindari hal-hal yang membahayakan posisi mereka sendiri.

Buku ini menarik, karena menggambarkan terbentuknya kelompok eksklusif ulama dan peran mereka dalam merespons setiap perubahan di tengah masyarakat. Peran yang mereka mainkan tidak hanya di ranah kultural tapi juga di ranah politik, di institusi-institusi agama yang dibentuk pemerintah, hingga organisasi-organisasi Islam modern saat ini, dengan berbagai varian ideologi dan model gerakannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s