Efek Pasar Bebas

Oleh : Fajar Kurnianto
Bisnis Indonesia, Minggu 3 Juni 2012

Judul : Politik Sistem Jaminan Sosial
Penulis : Dinna Wisnu
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : I, 2012
Tebal : xiii+273 halaman
ISBN : 978-979-22-8333-4

Era pasar bebas seperti saat ini di satu sisi menjanjikan peningkatan ekonomi suatu negara yang bisa berimbas pada terciptanya kesejahteraan warga negara bersangkutan.

Akan tetapi, pada saat yang sama juga mengintip ancaman bakal memakan korban mengerikan. Individu-individu yang tadinya bekerja, misalnya, tiba-tiba menjadi pengangguran, sehingga tidak lagi punya pendapatan tetap untuk memenuhi kebutuhan hariannya.

Atau masyarakat miskin yang makin tidak berdaya menghadapi kenaikan biaya-biaya kebutuhan dasar, seperti sembako dan kesehatan, akibat krisis ekonomi global.

Dalam pasar bebas ada semacam dogma; meminimalisasi peran negara. Dengan peran negara yang minimal, diharapkan laju perekonomian tidak terhambat atau tersekat-sekat peraturan negara.

Pada gilirannya, seperti yang diimajinasikan dalam teori pasar bebas, pemerataan kesejahteraan warga dunia dapat tercapai. Secara teoretis memang demikian.

Memakan Korban

Namun, kenyataan dalam praktiknya tidak selalu linear dengan teori. Pasar bebas justru lebih banyak memakan korban. Angka pengangguran dan kemiskinan dalam suatu negara naik, yang ironisnya justru ketika makro ekonomi sebetulnya naik.

Buku Dinna Wisnu, pengamat ekonomi-politik pembangunan dari Universitas Paramadina ini, coba memberikan sumbangsih pemikiran bagaimana mengupayakan peran negara untuk melindungi dan menyelamatkan warganya dari efek negatif pasar bebas.

Dalam perannya yang minimal di pusaran ekonomi pasar bebas, negara masih bisa melakukan langkah perlindungan dan penyelamatan melalui apa yang disebut dengan sistem jaminan sosial.

Negara tetap berada dalam pusaran pasar bebas, demi menggenjot perekonomian, dan pada saat yang sama melakukan proteksi terhadap warganya agar tidak jatuh dalam penderitaan.

Menurut Dinna, setidaknya ada tiga prinsip utama kenapa sistem jaminan sosial perlu (hlm. 26-27). Pertama, sistem jaminan sosial memberikan insentif hingga ke tataran individu.

Sistem ini berfungsi memberi tambahan kemampuan finansial pada individu peserta karena sejumlah kesulitan manusiawi telah disiapkan solusinya melalui sistem jaminan sosial sehingga penggunaan uang pribadi dapat berkurang.

Pemberian insentif ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari pemberian bantuan langsung tunai (cash transfer), pemotongan pajak (tax cut), pengumpulan iuran untuk mengurangi risiko bersama (pooling risk), pengecualian pajak (tax excemption), hingga penetapan sistem bagi hasil dari investasi dana publik tersebut.

Kedua, sistem jaminan sosial merupakan sistem pengumpul dana publik yang optimal. Sistem jaminan sosial mensyaratkan adanya sistem yang mewajibkan pengumpulan dana pada satu sistem yang diawasi atau dikelola langsung oleh negara.

Lembaga pengelolanya tidak mesti tunggal; yang penting sistemnya dipadukan secara sentral melalui ketetapan pemerintah. Artinya, dana yang terkumpul per bulan dan diakumulasi selama bertahun-tahun melalui sistem wajib itu akan berjumlah besar.

Apalagi bila diasumsikan semua warga negara yang bekerja turut mengiur. Untuk itu, sistem ini mengisyaratkan adanya sistem pencatatan pipulasi yang rapi, bahkan bila perlu hingga ke tingkat pencatatan riwayat pekerjaan, pendidikan, keluarga, hingga aset pribadi.

Ketiga, sistem jaminan sosial merupakan sistem distribusi dana publik yang menarik secara politik. Sistem ini dapat dipastikan menjadi instrumen politik yang menarik bagi politisi dalam pengambil kebijakan di suatu negara.

Melalui sistem ini kelompok yang berkuasa dapat melakukan tarik ulur insentif hingga ke tataran individu, mengendalikan penggunaan dana publik yang demikian besar dan karenanya membentuk citranya sebagai politisi di mata publik.

Studi menunjukkan bahwa politisi kerap mengucurkan dana lewat sistem jaminan sosial menjelang pemilu dan enggan menarik tunjangan karena perilaku pemilih dalam pemilu yang lebih waspada terhadap potensi penurunan keuntungan dan cenderung untuk curiga terhadap kebijakan baru jaminan sosial.

Secara substansial, prinsip sistem jaminan sosial jelas bermanfaat bagi masyarakat. Tapi, dalam pelaksanaannya selalu terjadi kontroversi. Menurut Dinna, secara umum biasanya akan muncul pengelompokan kepentingan berdasarkan cara pandang mereka terhadap risiko yang harus mereka tangung. Ada kelompok politisi, kelompok pimpinan negara, kelompok birokrat yang akan/sedang mengelola sistem jaminan sosial yang ada, kelompok pengusaha/pemberi kerja dari berbagai sektor.

Selain itu, kelompok pekerja (ini bisa bervariasi lagi berdasarkan politik dalam serikat pekerja), dan tentunya ada kelompok masyarakat umum yang relatif paling awam terhadap isu jaminan sosial, eonomi, atau politik pembangunan (hlm. 67)

Meski demikian, seperti dikatakan Dinna, untuk saat sekarang di mana perekonomian dihadapkan pada potensi krisis yang tinggi, adanya sistem jaminan sosial tetap memberi harapan bahwa krisis ekonomi tidak akan sampai memberi efek sosial yang buruk.

Dalam hal ini, yang perlu dicermati adalah pendanaan sistem jaminan sosial perlu mengedepankan sharing antarpemangku kepentingan, yakni pemerintah, pekerja dan pengusaha.

Selain itu, sistem jaminan sosial perlu dipandang sebagai mekanisme sistematis untuk menyalurkan insentif yang diarahkan pada peningkatan pertumbuhan ekonomi.

Lain daripada itu, sistem jaminan sosial perlu menjawab kebutuhan peningkatan jiwa kewirausahaan di antara warga negara. Jika ini berhasil, tampaknya warga tidak hanya terlindungi, tapi justu menjadi bagian dari pemain pasar bebas yang berdaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s