Metamorfosis dan Dilema PKS

Oleh : Fajar Kurnianto
Bisnis Indonesia, Minggu 20 Mei 2012

Judul : Dilema PKS, Suara dan Syariah
Penulis : Burhanuddin Muhtadi
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta
Tahun : I, 2012
Tebal : xxviii+307 halaman
ISBN : 978-979-91-0438-0

Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang sebelumnya bernama Partai Keadilan (PK), di kancah perpolitikan nasional menjadi salah satu fenomena menarik.

Lahir dari sebuah gerakan sosial berbasis keagamaan (Islam), yakni harakah Jamaah Tarbiyah, kemudian menemukan momentum politiknya ketika rezim Orde Baru (Orba) tumbang pada 1998.

Setelah itu, partai tersebut mengambil jalan politik praktis. Memperjuangkan cita-cita ideologis gerakannya melalui jalur politik. Seperti AKP di Turki, PAS di Malaysia, JAI di Yordania, dan PJD di Maroko.

Buku Burhanuddin Muhtadi, peneliti di Lembaga Survei Indonesia (LSI) sekaligus dosen politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, ini coba membaca metamorfosis PKS dari gerakan Islam, yang ruang dan geraknya terbatasi, menjadi partai politik setelah Orba tumbang. Berbeda dengan studi-studi tentang PKS yang melihat PKS dari ideologi atau strateginya, Burhanuddin melihat PKS dari perspektif gerakan sosial.

Mirip dengan yang dilakukan peneliti-peneliti Barat, seperti Quintan Wictorowicz, Charles Kurzman, Carrie Wickham dan Emmanuel Karegiannis yang menggunakan teori-teori gerakan sosial untuk membedah gerakan salafisme, Hizbut Tahrir, dan Ikhwanul Muslimin.

Gerakan Islam di Indonesia pada umumnya dapat dibagi dua: gerakan yang prodemokrasi dan yang kontrademokrasi. Gerakan Islam prodemokrasi yakni gerakan Islam yang tidak menentang demokrasi, tapi memanfaatkan demokrasi sebagai jalan untuk mencapai tujuan-tujuan gerakan.

Adapun gerakan yang kontrademokrasi adalah gerakan yang memang ingin mengubah sistem demokrasi dengan sistem Islam formal. Gerakan ini umumnya tidak terlibat dalam politik praktis (apolitis), dengan mendirikan partai politik, misalnya, tapi tetap menjadi gerakan di luar politik di luar pagar.

Gerakan ini juga terbagi dua; ada yang menempuh jalan kekerasan, ada yang menempuh jalan lunak.

Tiga Tahap

PKS sendiri muncul setelah melalui tiga tahap perkembangan. Pertama, gerakan dakwah kampus. Munculnya Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) yang dipelopori Muhammad Natsir, tokoh dan elit Masyumi, tahun 1967, memiliki peran yang sangat penting dalam hal ini.

Kedua, pelembagaan gerakan mahasiswa. Di sini, dakwah kampus bermetamorfosis menjadi unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang resmi, yaitu Lembaga Dakwah Kampus (LDK). KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), lahir dari LDK ini.

Ketiga, gerakan politik. PKS terbentuk pertama kali dengan nama PK untuk ikut dalam Pemilu 1999. Partai ini didirikan oleh tokoh-tokoh KAMMI.

Pada Pemilu 1999, PK gagal karena hanya memperoleh 1,3 persen, sehingga tidak bisa ikut Pemilu berikutnya. PK lalu menjadi PKS pada Pemilu 2004, dan berhasil mendapat 7,34 persen suara.

Tampaknya, PKS sudah banyak belajar dari pengalaman Pemilu 1999. Eksklusivisme PK disinyalir menjadi penyebabnya. Pada Pemilu 2009, PKS menempuh strategi politik inklusif, yakni menjadi partai terbuka, dan hasilnya cukup memuaskan.

Hal ini menggoda PKS untuk melanjutkan strategi inklusif di Pemilu selanjutnya. Namun, di internal PKS muncul begitu banyak pertentangan, terutama dari kalangan senior, perintis PKS dan kader-kader militan PKS. PKS dihadapkan pada dilema strategi politik.

Mendayung di antara dua karang, ini yang disebut Burhanuddin sebagai dilema antara suara dan syariah di PKS. Apakah tetap mempertahankan strategi representasi basis sosial ataukah mengincar target pemilih yang lebih luas.

PKS di basis sosialnya memang lahir dari gerakan Islam konservatif eksklusif. Untuk menjadi partai terbuka jelas bukan perkara mudah. Tapi, dalam politik praktis, dukungan suara sangatlah penting.

Realitas PKS menunjukkan bahwa ketika partai menjadi inklusif, perolehan suara langsung melonjak. Gambaran PKS menjadi bukti kuat makin tidak diminatinya partai-partai eksklusif berbasis keagamaan (baca: partai-partai Islam).

Buku setebal 307 halaman ini cukup berharga untuk melihat gerakan Islam politik mutakhir di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s