Paradoks Kebangkitan Ekonomi China

Oleh : Fajar Kurnianto
Seputar Indonesia, Minggu 6 Mei 2012

Judul : Kartu Pos dari Tomorrow Square, Liputan dari China
Penulis : James Fallows
Penerbit : Elex Media Komputindo, Jakarta
Cetakan : I, Februari 2012
Tebal : 327 halaman
ISBN : 978-602-00-2001-3

China hari ini menjadi salah satu kekuatan besar dunia, pesaing berat Barat (Amerika dan Eropa). Kiblat ekonomi tidak lagi ke Barat, tapi ke China. Bahkan, dalam beberapa hal, kekuatan ekonomi dunia terbelah; Barat dan China. Barat yang selama ini mendominasi mulai merasa khawatir kebangkitan China bisa “menggoyang” kemapanan Barat. Tanda-tanda ke arah itu begitu jelas terlihat. Beberapa kali terjadi “ketegangan” antara Barat dan China. Menjadi semacam “perang dingin” yang dulu pernah terjadi antara Soviet dan Barat.

Bagaimana sebetulnya kebangkitan ekonomi China yang membuat Barat ketar-ketir dan apa yang terjadi sesungguhnya di China? James Fallows, koresponden The Atlantic Monthly, memberikan gambaran tentang kebangkitan dan kenyataan secara lebih dekat dan detail. Sejak tahun 2006 hingga 2008, Fallows dan keluarganya berada di Beijing, China, untuk melihat dari dekat China yang begitu dikhawatirkan dunia. Selama rentang waktu itu, tulisan-tulisannya tentang China memperlihatkan wajah China yang sesungguhnya, yang membuka mata dunia. Baik itu dari sisi ekonomi, sosial, politik, dan budaya.

Sejak Deng Xiaoping menggantikan Mao Zedong yang wafat tahun 1976, China memang melakukan revolusi besar-besaran. Jika di era Mao ada yang disebut dengan Revolusi Budaya, di era Deng adalah revolusi ekonomi politik dengan tetap berpijak pada konsepsi komunis model Mao. China ingin bermimpi menjadi “pemain baru” di dunia dengan slogan “kebangkitan secara damai di dunia”. Sektor ekonomi digenjot habis-habisan untuk mengejar ketertinggalan. Model politik satu partai, yakni partai komunis China, menjadi pendukung utama reformasi ekonomi, karena stabilitas politik terjaga.

Di beberapa kota berdiri begitu banyak pabrik dengan corong-corong asap hitam yang membuat polusi udara. Sampai-sampai disebutkan, China termasuk penyumbang emisi gas karbon terbesar di dunia selain Amerika. Fallows misalnya memberikan gambaran salah satu kota industri paling sibuk di China, yaitu Shenzhen, berada dekat di utara Hong Kong. Ini termasuk kota industri manufaktur di pesisir seperti halnya Xiamen, Guangzhou, Hangzhou, dan Shanghai yang memang sudah terkenal sejak lama. Kisah kebangkitan Shenzhen berada di babak pertama dalam masa industrialisasi China modern.

Liputan media setempat seperti dikutip Fallows menyebutkan, “Selama masa berdirinya, masyarakat Shenzhen berani dan kukuh menghancurkan nilai-nilai lama yang mengukung”. Dengan reformasi yang berorientasi pasar sebagai poin terobosan, mereka mengocok perekonomian secara terencana, yang secara perlahan-lahan membangun sistem manajemen yang baru (hlm. 99). Shenzhen diakui sebagai “zona ekonomi khusus”, di mana hanya sedikit batasan atau kontrol yang diberlakukan, dan bisnis dari seluruh dunia diundang untuk mendirikan toko. Hampir semua aturan yang menghambat perkembangan bisnis diubah atau dihapus di Shenzhen.

Namun, berbagai kemajuan yang dicapai China di bidang ekonomi, ternyata ada semacam paradoks di sisi lain. Dalam hal ekonomi, China memang membuka diri, menjadi bagian dari pemain kapitalis dunia, ekonomi pro pasar, tapi tidak dengan kebebasan mengakses informasi tentang sosial-politik China. China tetaplah China yang tertutup, terutama jika itu berkaitan dengan kebebasan memperoleh informasi melalui media internet. Di China ada yang disebut dengan “Great Firewall” semacam dinding penutup akses terhadap isu-isu sensitif terkait China. Misalnya, isu Tibet atau Tiananmen tahun 1989. Bahkan, ketika China menyelenggarakan Olimpiade Beijing tahun 2008 yang diharapkan membuat China lebih terbuka perihal informasi, ternyata tidak terjadi. Isu-isu sensitif itu tetap tidak bisa diakses, karena sepenuhnya berada dalam kontrol pemerintah.

Jika Barat saat ini tampak begitu mengkhawatirkan kebangkitan China, buku ini menganggap kekhawatiran tersebut sebagai hal yang terlalu dini dan berlebihan. China memang tengah bangkit secara ekonomi dan menjadi kekuatan dunia. Tapi dengan ketertutupan pemerintah dalam soal akses informasi, justru ini menjadi masalah bagi China. Belum lagi jika melihat kondisi ril masyarakat China, terutama di wilayah bagian barat, seperti diungkapkan Fallows, di mana kemajuan ekonomi masih belum menyentuh ke sana. Jadi, China tidak hanya dihadapkan pada masalah dunia, dengan negara-negara ekonomi maju (Barat) tapi juga dihadapkan dengan persoalan dalam negeri, dengan masyarakat di belahan barat China yang belum tersentuh industrialisasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s