Ancaman di Balik Kemudahan

Oleh : Fajar Kurnianto
Kompas, Minggu 8 April 2012

Judul : The Sh@llows
Penulis : Nicholas Carr
Penerbit : Mizan, Bandung
Cetakan : I, Juli 2011
Tebal : xvi+280 halaman
ISBN : 978-979-433-640-3

Setiap media baru lahir secara alami orang akan terperangkap di dalam informasi konten yang dibawanya. “Media listrik” abad 20—telepon, radio, film, televisi—akan mengakhiri tirani teks terhadap pikiran dan indera kita. Hilangnya pikiran linear adalah salah satu cirinya.

Diri kita yang terpisah dan terpecah, yang berabad-abad terkunci di dalam bacaan cetak partikelir, akan utuh kembali, menyatu ke dalam sebuah desa suku global. Ramalah itu sudah pernah ditulis pada tahun 1964 oleh Marshall McLuhan dalam bukunya Understanding Media: The Extensions of Man. Pendapat McLuhan memang masih diperdebatkan dan memberi pengaruh besar pada pemikiran tentang peran media.

Nicholas Carr adalah salah satu yang terpengaruh McLuhan. Ia menulis efek internet terhadap otak manusia yang kemudian mengubah cara berpikirnya dalam The Shallows ini. Bagi masyarakat dunia, internet adalah berkah, dan salah satu penemuan terhebat. Namun, penemuan teknologi apa pun itu, tidak terkecuali internet, selalu memiliki efek yang tidak selalu positif. McLuhan sudah meramalkan akan terjadi perubahan mendasar, terutama pada pikiran manusia, ketika media informasi—salah satunya internet—sudah memerangkap dan menguasai manusia, menguasai pikirannya.

Carr tidak main-main menyimpulkan bahwa internet mengubah cara berpikir penggunanya, bahkan bisa mendangkalkannya. Beberapa bukti empiris dan penelitian tentang otak terutama dia tunjukkannya di buku ini. Carr misalnya menyebut seorang yang tadinya kutu buku dan pintar menulis, setelah asyik tenggelam dalam komputer dan internet cukup lama, tiba-tiba merasakan perubahan drastis. Intensitasnya dalam membaca buku menurun, demikian juga dengan konsentrasinya dalam berpikir dan menulis. Ia merasakan ada perubahan dalam otaknya. Carr pun lantas memaparkan perihal struktur otak manusia.

Selama ratusan tahun, sebagian besar ahli biologi dan ahli saraf tetap percaya bahwa struktur otak orang dewasa tidak pernah berubah. Neuron kita akan menyambung dengan sirkuit di masa anak-anak, saat otak kita masih lentur, dan ketika kita semakin dewasa sirkuit itu akan bersifat tetap. Menurut pandangan dominan itu, otak adalah sesuatu yang menyerupai struktur beton. Setelah dituangkan dan dibentuk ketika masih muda, otak cepat mengeras menjadi bentuk akhirnya (hlm. 17). Tapi, dalam penelitian-penelitian selanjutnya makin terbukti bahwa struktur otak sesungguhnya lentur. Ahli biologi asal Inggris, J.Z. Young, pada kuliahnya yang disiarkan BBC tahun 1950 berpendapat bahwa struktur otak mungkin saja terus berubah menyesuaikan tugas apa yang dibebankan padanya.

Hasil-hasil penelitian selanjutnya, misalnya yang dilakukan Merzenich, peraih gelar doktor di bidang fisiologi dari Johns Hopkins, pada 1968, makin memperkuat pandangan tentang kelenturan otak. Menurutnya, otak tidak hanya lentur, tapi bahkan teramat sangat lentur. Kelenturannya berkurang saat manusia bertambah tua—otak mandek dengan caranya sendiri—namun tidak pernah hilang. Neuron kita selalu memecah hubungan lama dan membentuk hubungan yang baru, dan sel saraf yang benar-benar baru selalu tercipta. James Olds, profesor ilmu saraf di George Mason University mengatakan bahwa otak memiliki kemampuan untuk memprogram ulang dirinya sendiri dengan cepat sehingga mengubah fungsinya (hlm. 24).

Kelenturan otak membuatnya terpengaruh apa pun, termasuk internet. Sejak internet ditemukan, yang dalam perkembangan berikutnya muncul search engine, seperti Google dan sejenisnya, arus informasi dari berbagai belahan dunia membanjir di depan kita ketika menghidupkan internet (online). Tidak hanya informasi yang tadinya verbal, tapi juga nonverbal, seperti teks tercetak. Otak, di satu sisi, termanjakan dengan itu semua, tapi di sisi lain membuat kemampuannya berpikir secara linear menurun. Carr, menyebutkan hasil penelitian tentang orang yang membaca buku tercetak dan yang membaca buku di internet. Ternyata, membaca buku tercetak lebih fokus daripada buku di internet. Itu karena internet tidak hanya menghadirkan buku, tapi juga yang lainnya, melalui hyperlink informasi di sekitarnya, bahkan di dalam buku itu sendiri.

Bagi Carr, dengan mengombinasikan berbagai informasi di satu layar, internet semakin memecah isi dan menyita perhatian kita. Satu halaman web mungkin mengandung beberapa potongan teks, video, atau audio yang dapat diputar, seperangkat peralatan navigasi, berbagai iklan dan beberapa aplikasi perangkat lunak atau widget, yang berjalan di layar kita. Kita semua tahu betapa mengganggunya rangsangan yang ramai ini. Penggunaan internet, kata Carr, melibatkan banyak paradoks, namun yang menjanjikan pengaruh jangka panjang terbesar terhadap cara berpikir kita adalah: internet merampas perhatian kita hanya untuk mencecerkannya (hlm. 123). Perhatian pikiran terpecah, dan otak yang dihadapkan dengan semua itu pun kehilangan fokus. Buku ini membuktikan dengan argumen yang sangat kuat. Internet memang memudahkan, tapi di balik itu mengintai ancaman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s