Sejarah Konflik Aceh: Pelajaran bagi Penyelesaian Konflik

Oleh : Fajar Kurnianto
Nawala The Wahid Institute, Desember 2006 — Februari 2007

Judul : Asal Mula Konflik Aceh: Dari Perebutan Pantai Timur Sumatera hingga Akhir Abad ke-19
Judul asli : The Contest for North Sumatra Acheh, the Netherlands and Britain 1858-1898
Penulis : Anthony Reid
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia, Jakarta
Tahun : I, Juli 2005
Tebal : xviii+372 halaman

Rumitnya penyelesaian konflik Aceh pada masa orde baru hingga orde reformasi sebelum akhirnya sepakat diakhiri pada 15 Agustus 2005 di Helsinki oleh pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), tidak dibaca sebagai sekadar kekecewaan rakyat Aceh pada pemerintahan yang berkuasa, atau pola penyelesaian pemerintah kita di masa lalu yang cenderung represif dan otoriter. Ia bisa juga dibaca melalui perspektif sejarah konflik Aceh di masa lalu.

Buku Asal Mula Konflik Aceh: Dari Perebutan Pantai Timur Sumatera hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19, hasil terjemahan dari disertasi doktoral 40 tahun silam Anthony Reid, ahli sejarah Asia Tenggara, berjudul The Contest for North Sumatra Acheh, the Netherlands and Britain 1858-1898 bisa dijadikan rujukan penting untuk melihat konflik Aceh di masa lalu, sebagai bahan pelajaran untuk memetakan konflik Aceh saat ini demi merumuskan model yang tepat untuk menyelesaikan konflik secara permanen.

Disertasi ini, sebetulnya, tidak diarahkan pada klaim atas kemerdekaan Aceh, tetapi murni hasil penelitian sejarah dengan motivasi bernada simpatis terhadap suatu wilayah kecil yang mencoba bertahan hidup dalam lingkungan yang berseteru. Walau begitu, buku ini tetap menjadi satu-satunya catatan arsip studi yang cermat tentang masuknya Aceh ke dalam perpolitikan di Indonesia di kemudian hari.

Nuansa persaingan ekonomi dan politis pada konflik Aceh di masa lalu, misalnya, tampak pada persoalan perebutan Pantai Timur Sumatera (1858-1865). Pada 1854 Sultan Ismail gundah karena kedatangan sebuah armada Aceh yang mengultimatum semua negeri di Pantai Timur sampai Serdang di selatan agar mengakui kekuasaan Sultan Ibrahim.

Karena tidak berdaya, pada 1856 Sultan Ismail berlayar ke Singapura untuk meminta bantuan kepada Gubernur E.A. Blundell, meskipun sia-sia. Ia kemudian membuat perjanjian dengan Adam Wilson, yang bersedia mengirimkan tentara untuk meruntuhkan pengaruh Tengku Putra, ipar sendiri yang ternyata lebih berpengaruh daripada dirinya, dengan imbalan hak-hak istimewa di bidang perdagangan di Siak dan sepertiga dari laba wilayah yang direbut kembali.

Tanpa menghiraukan peringatan Blundell, Wilson membawa sebuah pasukan ke Siak pada bulan November dan menempatkan dirinya sendiri sebagai penguasa. Melihat gelagat buruk yang muncul, Tengku Putra dengan cepat meminta bantuan Blundell untuk mengusir Wilson, karena menurutnya, Wilson telah melanggar janji Inggris tahun 1824 yang menyatakan bahwa Inggris tidak akan campur tangan di Sumatera.

Sayangnya, Blundell mengaku tidak tahu menahu soal tindak-tanduk Wilson. Akhirnya, Tengku Putra, melalui Raja Muda dari Riau, meminta bantuan Residen Belanda yang juga berkedudukan di Singapura. Dan, rupanya, Sultan Ismail yang kecewa dengan Wilson juga meminta bantuan kepada Belanda. Belanda sepakat menyelesaikan persoalan di Siak, terutama Pantai Timur Sumatera, dengan permintaan imbalan yang lumayan beresiko: Siak dan Pantai Timur di bawah kekuasaan Belanda.

Konflik Aceh dulu dan sekarang tidak berbeda. Yang membedakan hanya soal waktu dan pelakunya. Kalau dulu, pelakunya melibatkan kekuatan-kekuatan asing, saat ini justru pelakunya adalah kekuatan-kekuatan politik dalam negeri sendiri. Beruntung, konflik saat ini telah berakhir. Rakyat Aceh telah memulai hidup baru dan berusaha melupakan konflik di masa lalu. Tetapi, Aceh tetaplah Aceh yang dilahirkan oleh sejarah masa lalu. Jika pemerintah saat ini tidak jeli memperhatikan ini, bisa jadi konflik meletup kembali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s