Epos Melawan Penguasa Korup

Oleh : Fajar Kurnianto
Alumnus UIN Jakarta

Judul : Di Kaki Bukit Cibalak
Penulis : Ahmad Tohari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun : III, Agustus 2005
Tebal : 176 halaman

Namanya Pambudi, usia 24 tahun, bekerja mengurus lumbung koperasi desa Tanggir. Pada awal-awal kepemimpinan lurah baru bernama Pak Dirga yang belum lama memenangi pemilihan lurah dengan berbagai kecurangan yang dia lakukan, hubungannya dengan lurah itu sedikit tidak harmonis. Pak Dirga tidak sesuai dengan karakter pemimpin yang diinginkan Pambudi. Hubungan mereka akhirnya retak ketika seorang ibu miskin bernama Mbok Ralem yang menderita penyakit bengkak di leher datang ingin meminjam uang kepada koperasi tapi ditolak sang lurah dengan alasan Mbok Ralem ini punya utang yang belum dibayar.

Melihat Mbok Ralem pulang tanpa hasil, padahal kas koperasi sebenarnya cukup untuk dipinjam berobat Mbok Ralem, tapi karena lurah menolak, Pambudi akhirnya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya. Hati Pambudi tidak tega melihat penderitaan Mbok Ralem. Ia pun bertekad akan membawa Mbok Ralem berobat ke Jogja, dengan uang Pambudi sendiri, sampai sembuh. Setelah dibujuk berkali-kali, akhirnya Mbok Ralem bersedia dibawa berobat ke Jogja oleh Pambudi. Sebelumnya, ia hanya bisa pasrah, karena tidak punya uang. Meski berat meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil, demi kesembuhan, ia pun ikut Pambudi.

Di rumah sakit Jogja, Mbok Ralem divonis kanker oleh Pak Mantri. Ini penyakit berat, dan biaya pengobatannya pun besar. Sementara uang yang dipunyai Pambudi tidak cukup. Mulanya ia tidak tahu harus berbuat apa. Tapi akhirnya tercetus ide untuk menarik sumbangan dari para dermawan melalui surat kabar yang terbit di kota itu, Kalawarta. Pak Barkah, pemilik koran itu, pun ditemuinya. Pambudi ingin mengiklankan Mbok Ralem yang terkena kanker di media, berharap para pembaca koran ini terketuk hatinya untuk membantu. Negosiasi pun berjalan lancar. Pambudi membayar uang muka iklan. Iklan Mbok Ralem dengan foto menampilkan lehernya yang ada tonjolan besar rupanya benar-benar menarik pembaca.

Sumbangan dari berbagai kalangan mengalir ke Kalawarta sebagai penampung. Uang cukup besar pun terkumpul. Biaya pengobatan Mbok Ralem pun tertutupi. Bahkan lebih. Mbok Ralem sendiri tidak mengetahui apa yang dilakukan Pambudi, dan ia sangat kaget ketika mengetahuinya. Syukur dan terima kasih ia panjatkan. Pambudi telah menolongnya, tanpa pamrih. Dan, mereka pun pulang ke desa Tanggir. Uang lebih dari sumbangan para dermawan ditolak Mbok Ralem. Ia merasa, bantuan itu lebih dari cukup. Tidak perlu ditambahi lagi. Pak Barkah akhirnya menitipkan pada Pambudi untuk keperluan anak-anak Mbok Ralem.

Sembuhnya Mbok Ralem cukup mengejutkan warga desa Tanggir. Lurah Dirga tidak menyangka Pambudi bisa berbuat begitu. Rasa tidak senangnya terhadap Pambudi makin bertambah, setelah sebelumnya Pambudi mengkritik lurah Dirga yang tidak memberi pinjaman untuk berobat kepada Mbok Ralem dua minggu sebelumnya, padahal kas koperasi cukup. Kini, Pambudi juga yang menyebabkan dirinya dan camat dimarahi bupati karena dinilai menelantarkan warganya yang sakit. Rupanya, bupati baca Kalawarta yang membuat iklan Mbok Ralem. Niat jahat pun terbetik di benak lurah Dirga. Ia ingin, Pambudi angkat kaki dari desa Tanggir. Untuk itu, dukun pun didatanginya. Meski gagal mengusir Pambudi dengan ilmu hitam karena ternyata seorang mantan maling yang disuruh lurah Dirga untuk melemparkan tanah kuburan ke atap rumah Pambudi seperti yang disuruh dukun kepergok Pambudi dan berhasil ditangkapnya, kemudian bercerita bahwa ia disuruh lurah itu, pada akhirya orangtua Pambudi memintanya untuk pergi untuk menjaga agar tidak ada konflik lebih besar dengan lurah Dirga.

Berat rasanya pergi meninggalkan desa, tapi itu yang terbaik buat Pambudi dan orangtuanya. Pambudi pergi ke Jogja, dan tinggal di kontrakan temannya, Topo, yang jadi asisten dosen sebuah perguruan tinggi. Setelah bercerita panjang lebar, Topo pun menyarankan Pambudi agar sekolah saja. Pendaftaran masuk perguruan tinggi masih lama. Selain itu, yang mau masuk juga harus dites. Dengan buku-buku yang dipunyai Topo, Pambudi kembali belajar untuk persiapan tes. Selama masa menunggu dan belajar itu, Pambudi coba melamar kerja, dan diterima di toko milik orang Cina bernama Ibu Wibawa yang punya anak gadis manis bernama Mulyani.

Mulyani ini orangnya jutek, suka mengisi teka-teki silang (TTS). Suatu ketika, ia tidak bisa menjawab pertanyaan di TTS, lalu meletakkannya begitu saja. Pambudi yang tahu kebiasaan Mulyani mengisi TTS pun coba melihat TTS. Kotak yang membuat Mulyani dongkol karena tidak bisa dijawabnya pun berhasil dijawab Pambudi. Dari sinilah keakraban mulai muncul dari mereka. Malah, lama-lama di hati Mulyani terbetik perasaan cinta kepada Pambudi. Sayangnya, Pambudi tengah menaruh harapan kepada Sanis, gadis desa Tanggir yang masih SMP. Padahal, Sanis suka sama Bambang, anak pak camat. Pambudi tak menyadari, harapannya seperti bertepuk sebelah tangan. Saat yang sama, ia juga tidak tahu kalau Mulyani menyukainya.

Masa kerja Pambudi di toko Ibu Wibawa berakhir, menjelang jadwal pendaftaran dan tes mahasiswa baru. Pambudi lulus tes, dan diterima. Selama kuliah, ia diajak Pak Barkah untuk bergabung bersamanya. Selain alasan bahwa salah satu wartawan Kalawarta keluar, juga karena Pak Barkah sudah kenal Pambudi. Pambudi diposisikan sebagai pengganti wartawan yang keluar. Pekerjaan-pekerjaannya pun diestafetkan ke Pambudi. Masuknya Pambudi ke Kalawarta menghadirkan sedikit warna baru bagi tampilan koran itu. Rubrik-rubrik baru dibuat lebih menarik dan akrab dengan pembaca. Melalui rubrik inilah, Pambudi menulis artikel yang salah satu isinya mengungkap kecurangan lurah Dirga yang akhirnya membuat lurah itu dipecat, bahkan dipenjara karena ikut main judi yang sebenarnya sudah dirancang camat dan bupati untuk menjebak lurah itu. Jebakan itu sebenarnya ide Bambang, anak camat.

Pasca lurah Dirga, desa Tanggir kembali tenang. Lurah baru, namanya Hadi, masih muda, lulusan STM, sepertinya punya kemampuan untuk membuat perubahan di desa Tanggir. Bambang, anak camat ikut datang bersama Hadi melayat orangtua Pambudi yang meninggal. Sanis, yang dinikahi Dirga sebagai istri mudanya, setelah lurah dipenjara, menjadi janda. Tapi, janda tetaplah janda, meski masih muda belia. Pambudi yang tadinya menaruh hati kepada Sanis pada akhirnya menyadari bahwa Mulyani sesungguhnya yang tulus menyukainya. Novel ini bagi saya menjadi miniatur yang menggambarkan tentang kondisi bangsa ini. Tentang kebobrokan penguasa yang korup dan ketidakadilan terhadap warga miskin. Dan, akan selalu ada orang yang melakukan perlawanan secara tulus hingga mendapatkan kemenangan. Sebagaimana umumnya novel yang berisi pertentangan atau konflik, selalu yang menang adalah yang baik. Tokoh baik pada akhirnya menjadi ending. Ini pula yang dilakukan Ahmad Tohari, penulis novel ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s