Menyelami Relasi Tanda Lebih Dalam

Oleh : Fajar Kurnianto
Bisnis Indonesia, Minggu 12 Februari 2012

Judul : Semiotika Visual; Konsep, Isu, dan Problem Ikonitas
Penulis : Kris Budiman
Penerbit : Jalasutra, Yogyakarta
Tahun : I, September 2011
Tebal : xii+212 halaman

Dalam studi linguistik dikenal kajian yang terkait dengan tanda atau kode, yakni semiotika atau semiologi. Scholes (1982) mendefinisikan semiotika sebagai pengkajian tanda-tanda.

Semiotika pada dasarnya merupakan studi atas kode-kode, yaitu sistem apa pun yang memungkinkan kita memandang entitas-entitas tertentu sebagai tanda-tanda atau sebagai sesuatu yang bermakna.

Ferdinand de Sausurre (1966) menyebut semiologi sebagai ilmu umum tentang tanda, suatu ilmu yang mengkaji kehidupan tanda-tanda di dalam masyarakat.

Meski mengkaji tanda, kunci sebenarnya dalam semiotika adalah mengkaji relasi antar tanda; relasi tanda satu dengan tanda yang lainnya, relasi tanda-tanda dengan makna-maknanya, dan relasi tanda-tanda dengan para pengguna atau interpreternya.

Bidang-bidang studi semiotika sendiri cakupannya cukup luas. Mulai dari kajian perilaku komunikasi hewan (zoomsemiotics) sampai dengan analisis atas sistem-sistem pemaknaan seperti komunikasi tubuh (kinesik dan proksemik), tanda-tanda bebauan (olfactory signs), teori estetika, retorika dan seterusnya.

Charles Morris (1938) menyebutkan bahwa semiotika pada dasarnya dapat dibedakan dalam tiga cabang penyelidikan. Pertama, sintaktik atau sintaksis. Yaitu, cabang penyelidikan semiotika yang mengkaji “hubungan formal di antara satu tanda dengan tanda-tanda yang lain”.

Kedua, semantik. Cabang penyelidikan semiotika yang mempelajari “hubungan di antara tanda-tanda dengan designata atau objek-objek yang diacunya. Morris mengatakan, designata adalah makna tanda-tanda sebelum digunakan di dalam tuturan tertentu.

Ketiga, pragmatik. Yaitu, cabang penyelidikan semiotika yang mempelajari hubungan di antara tanda-tanda dengan interpreter-interpreter atau para pemakainya. Pragmatik berurusan dengan aspek-aspek komunikasi, khususnya fungi-fungsi situasional yang melatari tuturan.

Buku Kris Budiman ini mengulas perihal semiotika, terutama semiotika visual, yaitu sebuah bidang studi semiotika yang secara khusus menaruh minat pada penyelidikan terhadap segala jenis makna yang disampaikan melalui sarana indra lihatan (visual sense).

Semiotika visual ini tidak lagi terbatas pada pengkajian seni rupa dan arsitektur semata-mata, melainkan juga segala macam tanda visual yang kerap kali atau biasanya dianggap bukan karya seni.

Buku ini secara luas juga mengulas persoalan-persoalan dalam semiotika yang menjadi bahan perdebatan di kalangan ahli linguistik. Misalnya, antara Ferdinand de Saussure (1857-1913) dan Charles Sanders Pierce (1839-1914), dalam soal tanda, simbol, dan ikon. Menurut de Saussure, tanda (sign) adalah arbitrer dan simbol (symbol) adalah non-arbitrer. Bagi Pierce, yang arbitrer adalah simbol, sementara yang non-artibter adalah ikon (icon).

Buku ini menarik dan membawa kita menyelami studi semiotika untuk memahami bagaimana relasi-relasi tanda, simbol, atau ikon yang bertebaran di sekitar kita. Sebuah tanda selalu menyimpan pesan di baliknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s