Biografi Surga dalam Alquran

Oleh : Fajar Kurnianto
Alumnus UIN Jakarta

Judul : Pesona Surga
Penulis : ‘Abdul Halim bin Muhammad Nashshar as-Salafi
Penerjemah : Fajar Kurnianto
Penerbit : Pustaka Imam asy-Syafi’i, Jakarta
Tahun : I, 2011
Tebal : xviii+540 halaman

Surga bagi seorang muslim menjadi dambaan di hari akhirat nanti untuk dimasuki. Surga adalah wujud nyata dari rahmat dan keridaan Allah bagi orang yang taat menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Inilah sebuah tempat yang digambarkan penuh dengan kenikmatan yang melebihi segala kenikmatan bahkan kenikmatan yang paling nikmat manusia rasakan di dunia. Nabi menyebut tempat ini sebagai tempat penuh kenikmatan yang tidak pernah terlihat mata, terdengar telinga, bahkan terbayangkan di benak manusia.

Buku karya ‘Abdul Halim bin Muhammad Nashshar as-Salafi ini mencoba membawa kita mengenal lebih dalam biografi surga, yang mencakup di dalamnya sifat-sifat surga, kenikmatan-kenikmatan surga dan bagaimana kondisi di surga serta keadaan para penghuninya. Buku yang merupakan disertasi doktoral penulisnya di Universitas Islam Madinah ini terbilang cukup lengkap dan detail tentang tema surga. Membaca buku ini kita seperti dihadirkan dengan gambaran surga di depan mata kita. Tentu saja, apa yang terjadi sebenarnya di surga jauh lebih dahsyat lagi, seperti dikatakan Nabi bahwa gambaran di surga tidak pernah terbayangkan di benak manusia.

Secara garis besar, buku ini dibagi ke dalam tiga pembahasan utama, yakni sifat-sifat surga, kenikmatan-kenikmatan di surga dan kondisi para penghuni surga. Di bagian sifat-sifat surga, misalnya dihadirkan tentang luas surga, tingkatan-tingkatan surga, kamar-kamar surga, sungai-sungai surga, mataair-mataair surga, taman-taman surga, pintu-pintu surga, dan penjaga-penjaga surga. Di bagian kenikmatan-kenikmatan surga dihadirkan tentang para penghuni surga yang melihat Allah, kekalnya surga, bejana-bejana surga, perhiasan-perhiasan dan pakaian penghuni surga, permadani-permadani, dipan-dipan, kasur-kasur, kemah-kemah, dan bidadari.

Di bagian kondisi para penghuni surga, misalnya dihadirkan tentang salam Allah kepada penghuni surga dan bagaimana Allah berbicara dengan mereka, salam malaikat kepada penghuni surga dan bagaimana mereka masuk kepada para penghuni surga melalui pintu-pintu surga, pelayanan yang diterima para penghuni surga, sifat-sifat penghuni surga, pujian para penghuni surga kepada Allah, dialog antar para penghuni surga dan neraka, dan para penghuni apa yang disebut dengan A’raf.

Buku-buku bertema surga sebenarnya sudah cukup banyak, bahkan sangat banyak, dengan berbagai variasi penyajian atau racikan bahan-bahan dari penulisnya, lengkap dengan berbagai perdebatan para ulama perihal surga. Perdebatan yang seru barangkali perihal apakah surga saat ini sudah ada saat ini atau belum di antara ulama-ulama ahli sunah dan kelompok Muktazilah yang rasionalis. Secara tegas, Muktazilah menyebut bahwa surga saat ini belum ada. Ia baru diciptakan nanti pada hari kiamat. Ulama ahli sunah membantah dengan mengatakan hal sebaliknya, bahwa surga sudah ada saat ini. Hanya saja, ia masih berupa lapangan luas dan kosong, dan orang-orang beriman sendiri yang membangun dan mengisinya dengan amal-amal ibadah dan kebaikan di dunia.

Perdebatan lainnya yang juga seru adalah perihal kemungkinan melihat tidaknya para penghuni surga kepada Allah. Muktazilah menyebut tidak mungkin manusia bisa melihat Allah, karena seperti disebutkan di dalam Alquran, di surah al-An’am ayat 103 bahwa Allah tidak bisa dilihat oleh mata-mata manusia, tapi Allah yang melihat manusia. Ahli sunah membantah bahwa bagi Allah itu mungkin saja. Selain itu, dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahwa para sahabat bertanya, “Apakah kita nanti bisa melihat Allah di surga?” Nabi menjawab, “Tentu saja.” Mereka bertanya lagi, “Bagaimana mungkin?” Nabi bertanya balik, “Apakah kalian bisa dengan jelas melihat purnama ketika tidak tertutupi awan?” Mereka menjawab, “Ya, tentu saja.” Nabi menegaskan, “Seperti itulah kalian nanti melihat Allah.”

Surga pada hakikatnya termasuk masalah gaib. Hanya Allah yang tahu hal sebetulnya. Apakah surga sudah ada saat ini atau belum? Yang tahu pasti hanya Allah. Kita hanya dituntut untuk percaya ada surga dan neraka. Surga bagi orang yang berbuat baik di dunia dan neraka bagi yang berbuat jahat. Seperti dikatakan Allah, perbuatan baik seorang mukmin akan dibalas kebaikan, dan tidak akan dizalimi sedikit pun. Kita beribadah hakikatnya bukan untuk mengejar surga, tapi mengejar keridaan Allah. Keridaan Allah jauh lebih dari apa pun, bahkan surga. Surga hanya salah satu bagian dari wujud nyata keridaan Allah. Bahkan, amal baik pun disebut Nabi bukanlah faktor utama yang dapat memasukkan seorang hamba masuk surga, tapi rahmat/keridaan Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s