Singapura, Antara Kemajuan dan Ironi

Oleh : Fajar Kurnianto
Alumnus UIN Jakarta

Judul : After Orchard
Penulis : Margareta Astaman
Penerbit : Kompas, Jakarta
Tahun : II, November 2010
Tebal : vi+194 halaman

Singapura, negara kecil di Selat Malaka, dikurung negara Indonesia dan Malaysia, tapi secara ekonomi begitu superior di kawasan Asia Tenggara, mengalahkan dua tetangganya ini. Inilah salah satu pusat bisnis terbesar di dunia. Berbagai perusahaan multinasional raksasa membuka kantor perwakilannya di sini. Negara yang bahkan tanahnya pun harus impor dari Indonesia ini memang tidak cukup punya sumber daya alam. Karena itu, mereka mengandalkan sumber daya manusia. Tidak hanya sumber daya dari dalam negeri, tapi juga luar negeri. Anak-anak paling berprestasi di berbagai negara berkesempatan mengenyam pendidikan-pendidikan kelas dunia di sini.

Saya, setidaknya hingga artikel ini saya tulis, belum pernah menginjakkan kaki ke negeri yang juga dijuluki sebagai negeri singa dan pusat belanja serta pusat hiburan yang paling diimpikan orang-orang kaya Indonesia, hingga para pejabat pemerintah yang korup sekalipun. Padahal, secara finansial tidak ada masalah untuk sekadar jalan-jalan selama beberapa hari di situ, mengisi liburan atau sekadar iseng ingin tahu negeri orang yang banyak dibicarakan orang sebagai surga Asia Tenggara, meski sebetulnya pemandangan alam Indonesia mungkin jauh lebih menarik. Saya kadang menduga-duga, orang-orang berduit yang pergi ke situ sekadar menaikkan prestise atau gengsi, menegaskan strata sosial yang lebih tinggi.

Tapi dugaan saya luntur ketika membaca buku Margareta Astaman, pelajar berprestasi asal Indonesia, masih ada darah Tionghoa, yang menerima beasiswa pendidikan strata satu di Nanyang Technological University (NTU) jurusan Jurnalisme. Bagi Margie, sapaan akrabnya, Singapura adalah tempat pendidikan paling bergengsi para pelajar paling berprestasi di dunia. Hanya mereka yang berprestasilah yang bisa masuk salah satu universitas di Singapura. Dan, hanya yang masuk universitaslah yang bakal bernasib baik untuk masa depan secara ekonomi, karena sudah dijamin setelah lulus akan langsung bisa bekerja di perusahaan-perusahaan multinasional kelas dunia dengan bayaran selangit. Tapi, mereka yang diterima di universitas ini pun bisa saja ditendang dan gagal jika tidak berprestasi.

Empat tahun belajar di NTU dan menjadi bagian dari masyarakat Singapura bagi Margie memiliki kesan tersendiri. Baginya, di balik kemegahan Singapura yang diwartakan ke seluruh dunia ternyata ada ironi. Melalui cerita-cerita pribadi yang dialaminya di buku ini, ia coba berbagi ironi ini. Singapura sebagai salah satu pusat bisnis tersibuk di dunia melahirkan manusia-manusia yang lebih sibuk memikirkan pekerjaan daripada sisi-sisi kemanusiaan yang secara natural dimiliki manusia. Margie misalnya bercerita bagaimana sulitnya dia mendapatkan seorang teman yang bisa diajak berbagi, kecuali dua orang, yaitu bibi yang biasa membersihkan asrama yang ia tinggali dan orang yang ia sebut dengan nama Oknum R. Teman hanya sebatas dalam pengerjaan tugas atau pekerjaan, setelah itu semua bubar, seperti tidak pernah bertemu. Margie kesepian, ingin teman.

Ironi lainnya, banyaknya kasus-kasus bunuh diri para pelajar di Singapura karena tekanan jiwa (stres) menghadapi sistem pendidikan yang sangat ketat. Ironi susulannya, hal itu dianggap bukan sesuatu yang luar biasa. Selain pemerintah setempat memang melarang pemberitaan untuk kasus-kasus bunuh diri, khawatir ini menular kepada yang lainnya, para pelajar Singapura sendiri memang tidak peduli dengan masalah bunuh diri. Mereka terlalu disibukkan dengan tugas-tugas kampus yang begitu banyak bahkan sering selesai larut malam. Ketidakpedulian ini menjadi karakter yang terus berlanjut setelah mereka lulus dan bekerja di perusahaan-perusahaan besar dan bergengsi. Margie melihat wajah-wajah sibuk di sekitarnya yang tak pernah memikirkan orang lain, karena di benak mereka juga tertanam pikiran bahwa orang lain juga tidak mungkin memikirkannya.

Tapi mungkin inilah memang yang membuat Singapura menjadi negara paling maju se-Asia Tenggara secara ekonomi. Segala tempat, baik itu di lembaga-lembaga pemerintah maupun swasta, diisi oleh orang-orang terbaik dari yang terbaik. Para pegawai pemerintah adalah orang-orang pilihan dari universitas-universitas kelas dunia di Singapura. Mereka bekerja sangat profesional. Ini ditopang dengan sistem yang sangat baik. Pembangunan sarana dan infrastruktur berjalan begitu cepat. Tingkat kepatuhan terhadap aturan dan hukum juga sangat tinggi. Bahkan, orang Indonesia yang tidak terbiasa mematuhi hukum di jalan raya, ketika di Singapura pun tiba-tiba menjadi patuh, seperti dikisahkan Margie. Meritokrasi benar-benar nyata dalam kehidupan masyarakat Singapura. Mereka yang berprestasi layak mendapat penghargaan. Ada harga untuk setiap kerja keras yang dilakukan, dan itu sangat sesuai.

Seperti halnya Singapura dengan NTU-nya yang punya kesan bagi Margie, buku ini juga memberi kesan tersendiri bagi saya dalam memandang Singapura. Singapura negara maju karena ditopang oleh sistem yang sangat baik dan sumber daya manusia yang unggul, meski proses untuk menjadi manusia unggulan ini bisa jadi kita nilai sebagai ironi ketika proses itu kemudian tertanam begitu kuat di masing-masing individu, hingga menjadi karakter masyarakat Singapura. Kemajuan memang perlu kerja keras dan kerja cerdas, dan ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang profesional yang dilahirkan dari sebuah sistem pendidikan yang sangat baik. Kita bisa melebihi Singapura karena kita selain kaya sumber daya manusia juga sumber daya alam. Pelajaran penting dari kemajuan Singapura bagi saya adalah dari sistem pendidikan. Negara-negara maju selalu menempatkan pendidikan di urutan pertama program pemerintah. Ini yang belum negara ini lakukan, setidaknya hingga saat ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s