Mendiskusikan Bahasa Indonesia

Oleh : Fajar Kurnianto
Alumnus UIN Jakarta

Judul : Bahasa!
Penulis : Amarzan Loebis, Ayu Utami, Danarto, Goenawan Mohamad, dll.
Penerbit : Pusat Data dan Analisa Tempo, Jakarta
Tahun : I, 2008
Tebal : xviii+301 halaman

Bahasa menunjukkan bangsa. Ini ungkapan populer yang sudah tidak asing di telinga kita, terutama di kalangan pemerhati bahasa. Kondisi sebuah bangsa memang dapat dilihat dari kondisi bahasa yang digunakan. Semakin baik bahasa yang digunakan, berarti semakin baik juga bangsa. Maka, membicarakan bahasa pada titik ini menjadi penting. Karena membangun dan menciptakan bahasa yang baik bisa menjadi jalan untuk membangun dan menciptakan sebuah bangsa yang baik. Dalam konteks bangsa Indonesia yang didera banyak masalah, memperbaiki kondisi bisa dilakukan dengan memperbaiki bahasa.

Bicara bangsa Indonesia adalah bicara bangsa dengan banyak bahasa daerah sebanyak suku-suku di dalamnya. Bahasa Indonesia yang induk semangnya adalah bahasa melayu dalam perkembangannya banyak mengambil bahasa-bahasa daerah itu. Ada semacam nada protes di kalangan pemerhati bahasa bahwa dari antara bahasa-bahasa daerah yang masuk menjadi bahasa Indonesia, tepatnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang kemudian dibakukan dan resmi menjadi bahasa nasional, ternyata lebih banyak dari bahasa Jawa. Bisa jadi ini menimbang bahwa orang-orang Jawa sudah banyak menyebar dan bahkan hampir ada di setiap penjuru nusantara.

Masalahnya adalah, ada satu kata dalam bahasa Jawa misalnya, yang masuk dalam KBBI, ternyata kata yang sama dalam bahasa daerah lain memiliki makna lain. KBBI sebenarnya tidak sedikit kemudian yang memberi keterangan di dalamnya bahwa dalam bahasa daerah memilik makna lain. Tantangan bahasa Indonesia salah satunya memang ini, yakni bagaimana mengakomodasi bahasa-bahasa daerah menjadi bahasa baku nasional yang sekali diucap langsung merujuk pada pengertian yang sama. Kata-kata yang diserap dari bahasa asing, misalnya Inggris, Belanda atau Perancis, relatif tidak memiliki masalah secara maknawi. Masalah utamanya lebih banyak terletak pada bagaimana mengindonesiakan bahasa itu, baik secara pelafalan maupun tulisan.

Terkait dengan ini, ada baiknya bahasa Indonesia dibandingkan dengan bahasa Malaysia. Dalam penulisan, untuk kata-kata yang diserap dari bahasa asing, Malaysia mengambil kebijakan untuk menulisnya sesuai dengan bunyi, jadi bukan tulisan asli dari bahasa itu. Misalnya, kata computer. Malaysia menuliskan sesuai dengan bunyi pelafalan dalam bahasa Inggrisnya, yakni kompyuter. Sementara bahasa Indonesia ditulis sesuai dengan kata Inggris, dengan hanya mengubah huruf depan, jadilah komputer. Masalah serapan kata dari asing untuk dibakukan ke dalam bahasa Indonesia sering menimbulkan perdebatan di kalangan ahli bahasa, tapi kemudian bisa diredakan oleh otoritas yang ditunjuk negara untuk mengurusi masalah bahasa ini.

Masalah-masalah bahasa Indonesia lainnya cukup banyak dikupas di buku ini. Buku ini merupakan kumpulan 69 artikel bahasa di kolom Bahasa Majalah Tempo yang rutin setiap minggu dengan para pemerhati bahasa, atau yang peduli dengan bahasa, seperti Amarzan Loebis, Ayu Utami, Danarto, Goenawan Mohamad, Harimurti Kridalaksana, Hasif Amini, dll. Para penulis ini memiliki latar belakang yang berbeda, tapi rata-rata mereka adalah budawayan dan para penulis karya sastra. Buku ini memberikan gambaran kepada kita tentang bahasa Indonesia dengan segala permasalahan yang ada. KBBI yang menjadi semacam kitab babon bahasa Indonesia rupanya juga tidak luput dari berbagai kritik. Tidak banyak memang, jika dibandingkan dengan jumlah kata yang sudah disusun dalam kamus ini. Buku ini sekaligus menggugah kita untuk peduli dengan bahasa kita, karena seperti dikatakan di awal, bahasa menunjukkan bangsa.

Berbahasa yang baik dan benar tampaknya menjadi tujuan utama yang diharapkan dari diterbitkannya buku kumpulan tulisan-tulisan bahasa di kolom Bahasa Tempo ini. Baik berarti teratur, rapi, runut dan lurus serta tidak asal-asalan. Benar berarti tepat penggunaan pada kata dan kalimatnya, tidak salah kaprah, dan sesuai dengan kaidah berbahasa Indonesia. Para pakar dan pemerhati bahasa tampaknya mesti berjuang keras, apalagi ketika bahasa saat ini mendapat tantangan keras dengan hadirnya bahasa-bahasa baru anak zaman sekarang yang dikenal dengan bahasa gaul atau bahasa alay yang tampak lebih mirip kode-kode rahasia ala intelejen. Kita pastinya tidak ingin bahasa Indonesia tergerus dan habis ditelan zaman. Peran media massa, seperti juga disinggung di buku ini, sangat penting. Demikian juga dengan buku-buku yang diterbitkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s