Membincang Wanita Bekerja di Luar Rumah

Oleh : Fajar Kurnianto
Alumnus UIN Jakarta

Judul : Wanita Karir
Penulis : ‘Adnan bin Dhaifullah Alusy Syawabikah
Penerbit : Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Jakarta
Tahun : I, 2010
Tebal : xx+338 halaman

Persoalan wanita bekerja di luar rumah, atau yang populer disebut dengan wanita karier, hingga saat ini selalu relevan diperbincangkan dan dibahas. Ada yang pro ada yang kontra. Ada pula yang mengambil sikap moderat atau tengah-tengah. Masing-masing pihak memiliki pandangan dan argumentasi masing-masing. Namun, tidak semua pandangan dan argumentasi itu tepat.

Dalam Islam, wanita memang sangat dihormati dan dimuliakan. Kedatangan Islam sendiri antara lain membawa misi penyelamatan terhadap kaum wanita yang pada saat itu begitu marjinal, terhina, bahkan tidak dianggap sebagai manusia. Islam datang mengangkat wanita dari alam kegelapan ke alam yang terang-benderang. Kaum wanita pantas berterima kasih kepada Islam, karena ajaran-ajarannya memberikan perhatian yang sangat besar terhadapnya.

Akan tetapi, seiring makin tinggi dan terhormatnya kedudukan kaum wanita dalam pandangan Islam, masalah baru muncul. Mereka menuntut persamaan hak dengan kaum laki-laki yang antara lain wujud nyatanya adalah diberinya mereka keleluasaan untuk melakukan kegiatan di ruang publik, seperti halnya kaum laki-laki. Mereka menuntut kesetaraan dengan kaum laki-laki (jender). Mereka menganggap, kemuliaan yang disandangkan oleh Islam kepada mereka justru menempatkan mereka untuk lebih banyak beraktivitas di ruang privat (rumah).

Lebih jauh, mereka menganggap bahwa dengan ditempatkannya mereka di dalam ruang privat, ruang publik didominasi oleh kaum laki-laki. Dikotomi antara ruang privat dan ruang publik pun muncul. Kaum laki-laki berkuasa di ruang publik, sementara kaum wanita berkuasa di ruang privat. Mereka menganggap pada akhirnya, kenyataan ini tidak jauh berbeda dengan menghinakan dan merendahkan kaum wanita. Kaum wanita ingin bekerja di ruang publik, tetapi karena ruang publik sudah didominasi oleh kaum laki-laki, mereka pun tersingkirkan, tidak mendapat tempat.

Benarkah Islam secara mutlak melarang kaum wanita untuk beraktivitas di ruang publik? Islam melarang kaum wanita untuk bekerja di luar rumah? Islam melarang kaum wanita bekerja di berbagai bidang profesi? Islam sebenarnya sudah membuat garis dan aturan untuk menjawab masalah ini. Dalam kajian fiqih Islam, masalah ini tidak ketinggalan dibahas secara panjang lebar dengan argumen-argumen dalil syari’at yang ada.

Buku berjudul karya ‘Adnan bin Dhaifullah Alusy Syawabikah ini merangkum semua pandangan ulama fiqih mengenai persoalan kaum wanita berprofesi di ruang publik. Sang penulis lebih cenderung ikut pendapat yang mengatakan bahwa hukum kaum wanita di ruang privat itu hanya mustahab (sangat dianjurkan). Artinya, kaum wanita tidak dilarang untuk bekerja di ruang publik. Nah, yang jadi sorotan penulis kemudian adalah pada profesi apa sajakah kaum wanita diperbolehkan untuk berkecimpung? Apakah pada semua profesi? Sang penulis lebih cenderung tidak pada semua profesi pekerjaan. Dari sekian banyak perbedaan pendapat ulama, sang penulis lebih memilih yang paling kuat dalilnya.

Di dalam buku ini, sang penulis memaparkan cukup banyak bidang-bidang profesi dari yang bisa atau mungkin, hingga yang dilarang, untuk dimasuki oleh kaum wanita. Bidang-bidang profesi yang dibahas antara lain dalam bidang kepemimpinan publik, yang tercakup di dalamnya: masalah kaum wanita sebagai kepala negara, masalah wanita sebagai hakim (qadhi), dan bidang-bidang publik yang lainnya, seperti menjadi menteri, gubernur, legislatif (parlemen), panglima perang, dan bidang militer.

Dibahas juga profesi wanita dalam bidang pelayanan kesehatan, seperti menjadi dokter, perawat, memandikan jenazah, perbekaman, laboratorium kesehatan, kebidanan, apoteker dan penjual parfum, pengkhitanan anak, dan menyusui. Selain itu, dibahas juga profesi wanita dalam bidang lainnya, seperti bidang pendidikan, keterampilan dan kerajinan tangan, menenun dan menjahit, bertani, berniaga, penjagalan hewan, menggembalakan kambing, salon kecantikan, biduan dan pemusik, dan pramugari.

Dibolehkannya kaum wanita berkecimpung dalam beberapa bidang profesi bukanlah hukum asalnya. Wanita tetap lebih disarankan untuk berada di ruang privat, mendidik anak dan mengurus rumah tangga. Pembolehan itu tidak dimaksudkan untuk mereposisi kaum wanita dari yang tadinya di ruang privat menjadi di ruang publik. Berbagai profesi yang akan diambil itu diimbau untuk dicermati sedalam-dalamnya. Jangan sampai profesi yang dibolehkan itu justru mengorbankan dan menelantarkan tugas utama kaum wanita di ruang privatnya.

Ada bidang pekerjaan yang diharamkan, baik bagi kaum laki-laki maupun kaum perempuan. Ada yang diharamkan bagi kaum perempuan, namun dibolehkan bagi kaum laki-laki. Parameter boleh tidaknya kaum wanita bekerja di berbagai bidang itu dalam buku ini dijelaskan secara gamblang. Intinya tiada lain adalah agar kemaslahatan bersama (keluarga) tetap terjaga, kehormatan dan kemuliaan wanita juga tetap terjunjung tinggi. Buku ini memberikan wawasan yang cukup luas bagi kita semua untuk melihat masalah wanita bekerja secara lebih arif, sesuai dengan pertimbangan-pertimbangan syari’at. Karena, tidak mungkin syari’at itu dibuat untuk menjerumuskan kaum wanita. Justru, syari’at diturunkan untuk memuliakan kaum wanita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s