Magnum Opus Tafsir Hadis

Oleh : Fajar Kurnianto
Alumnus UIN Jakarta

Judul : Fathul Bari Syarah Shahih Al-Bukhari
Penulis : Ibnu Hajar Al-Asqalani
Penerbit : Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Jakarta
Tahun : I, 2010
Tebal : xxii+692 halaman

Dalam konteks hirarki sumber ajaran Islam, hadis berada di level kedua setelah Alquran. Tetapi, dalam konteks urgensitasnya, hadis selevel dengan Alquran, yakni keduanya sama-sama menjadi sumber utama ajaran Islam. Alquran dan hadis menjadi satu koin yang sisi-sisinya tidak bisa dipisahkan. Memisahkan yang satu sama dengan mengingkari yang lainnya.

Para Sahabat Rasulullah, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in, tiga generasi yang disebut oleh beliau sebagai generasi terbaik, sangat mengerti hal itu. Karena itu, mereka sangat antusias dan respek dalam menjaga hadis, seperti mereka menjaga Alquran. Pada generasi Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in, intensitas pengoleksian dan penulisan hadis semakin tinggi, terutama setelah dipicu oleh kian merebak dan beredarnya hadis-hadis palsu yang disandarkan pada Rasulullah, padahal bukan.

Maka, muncullah ulama-ulama hadis yang mengodifikasi hadis melalui seleksi yang cukup ketat dan ilmiah dalam karya-karya mereka, di antaranya yang populer: Imam Malik, al-Muwaththa’; Imam al-Bukhari, Shahih al-Bukhari; Imam Muslim, Shahih Muslim; Imam Abu Dawud, Sunan Abi Dawud; Imam at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi; Imam an-Nasa’i, Sunan an-Nasa’i; Imam Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah; Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad; Imam al-Hakim, al-Mustadrak; ad-Darimi, Sunan ad-Darimi; al-Baihaqi, Sunan al-Baihaqi; ad-Daraquthni, Sunan ad-Daraquthni, Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibni Khuzaimah; serta yang lainnya.

Setelah generasi pengoleksi dan pengodifikasi hadis lewat, muncullah generasi berikutnya, yaitu generasi pensyarah, atau penjelas hadis. Hadis masuk laboratorium interpretasi, ditelisik dari berbagai sudut pandang keilmuan sang interpretator. Sebagaimana halnya Alquran, hadis memang harus dipahami. Apalagi, mengingat jarak antara ulama pensyarah atau penginterpretasi dengan zaman Rasulullah sangat jauh. Ada gap yang cukup lebar, yang jika dibiarkan akan menimbulkan misinterpretasi, yang akhirnya membuat pemahaman atas hadis melenceng jauh dari yang sebenarnya.

Karya-karya para ulama berisi koleksi hadis menjadi sumber acuan utama. Muncullah ulama-ulama pensyarah kitab-kitab hadis, baik ulama dahulu maupun sekarang, yang hingga kini masih populer, seperti al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani, pensyarah Shahih al-Bukhari; Imam an-Nawawi, pensyarah Shahih Muslim; Imam as-Suyuthi, pensyarah Sunan an-Nasa’i; Syamsul Haq al-‘Azhim Abadi, pensyarah Sunan Abi Dawud; al-Mubarakfuri, pensyarah Sunan at-Tirmidzi; dan seterusnya.

Dari ulama-ulama pensyarah hadis itu, al-Hafizh Ibnu Hajar adalah yang terbaik. Ia mensyarah Shahih al-Bukhari dan menamakan karyanya dengan Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari. Para ulama pensyarah yang muncul belakangan sering kali mengutip syarahnya di dalam karya-karya mereka. Jika di dalam bidang tafsir Alquran nama Imam ath-Thabari dengan Jami’ul Bayan-nya selalu dikutip, maka dalam bidang syarah hadis, bahkan kajian hadis itu sendiri, nama Ibnu Hajar dengan Fathul Bari-nya yang selalu jadi narasumber dalam memahami hadis.

Ibnu Hajar bernama lengkap Ahmad bin ‘Ali bin Muhammad bin Muhammad bin ‘Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar. Lahir pada 773 H, di Mesir. Hingga ia meninggal dunia pada 852 H, seluruh hidupnya dihabiskan di Mesir. Guru-gurunya dikenal sebagai ulama yang ahli di bidangnya, seperti Ibnul Mulaqqin yang terkenal dengan banyak sekali karya; al-Iraqi, yang dikenal sebagai ahli hadis; al-Bulqini yang dikenal dengan banyaknya hafalan hadis dan telaahnya; al-Haitsami yang juga dikenal sebagai penghafal hadis; al-Fairuz Abadi yang terkenal kepakarannya dalam bidang bahasa; al-Ghumari, pakar bahasa Arab; al-Muhibb Ibnu Hisyam dan al-‘Izz Ibnu Jamaah yang terkenal dalam berbagai disiplin ilmu agama; dan at-Tanukhi yang masyhur dalam pengetahuan ilmu qira’ah Alquran dan memiliki sanad ‘ali (sedikit) dalam qira’ah.

Para ulama mengakui kepakarannya dalam bidang hadis. Al-Biqa’i, salah satu muridnya, mengatakan, “Kecepatan Ibnu Hajar dalam memahami sebuah permasalahan dan kekuatan hafalannya sangat menakjubkan. Ia mampu mendeskripsikan suatu permasalahan sampai-sampai hal itu dikira sebagai kasyaf (intuisi). Pemikirannya sangat mendalam. Ia mampu menyibak hal-hal detail yang selama ini masih misteri. Lebih daripada itu, ia memiliki kesabaran yang kuat dan ketegaran yang kokoh serta hati yang tegar dalam menghadapi berbagai cobaan.”

Fathul Bari merupakan karyanya dalam bidang syarah hadis yang paling monumental dan diakui oleh para ulama, baik pada masanya maupun sesudahnya. Di kitab inilah bertemu dua sosok hebat dalam bidang hadis dan ilmu hadis, yakni Imam al-Bukhari yang diberi gelar Amirul Mukminin dalam bidang hadis dan Ibnu Hajar yang diberi gelar al-Hafizh, yakni orang yang mampu menghafal lebih dari seratus ribu hadis. Shahih al-Bukhari sendiri adalah kitab hadis yang paling shahih daripada yang lainnya. Kitab ini berada di level teratas diikuti oleh kitab-kitab hadis lainnya. Sebenarnya, ada kitab lain yang mensyarah Shahih al-Bukhari, yakni ‘Umdatul Qari yang ditulis oleh al-Badrul ‘Aini. Namun, syarah ini masih kalah jauh dan lengkap daripada Fathul Bari. Sampai-sampai, ulama mengatakan, “Tidak perlu hijrah ke kitab lain selama ada Fathul Bari.”

Fathul Bari adalah kitab syarah yang terlengkap dan termendalam kajiannya. Kitab ini menerangkan banyak hal, seperti penjelasan makna sebuah kata dalam hadis secara etimologis dan terminologis, perbandingan redaksi riwayat-riwayat hadis, penjelasan kaidah ushul fikih, pengungkapan keterangan ilmu hadis, penjelasan tentang para perawi hadis dan matannya, hingga pelajaran penting atau hikmah dari hadis yang dibahasnya. Dalam penjabarannya, ia mengungkapkan pendapat-pendapat para ulama sebelumnya, kemudian mengkritisinya.

Buku yang ada di hadapan pembaca ini adalah terjemahan dari Fathul Bari. Buku ini berbeda dengan terjemahan yang sudah ada di pasaran. Di buku ini, semua redaksi di dalam Fathul Bari diterjemahkan semuanya, apa adanya, tanpa pengurangan ataupun penambahan, dengan tetap berpegang pada kaidah terjemahan yang akurat, luwes, serta sesuai dengan tata bahasa Indonesia yang baku. Buku ini juga dilengkapi dengan glosarium istilah-istilah dalam ilmu hadis dan nahwu-sharaf, sehingga memudahkan pembaca dalam memahaminya. Pengaturan jilidnya juga cukup rapi, sehingga makin membuat nyaman pembaca untuk menemukan tema yang diinginkan.

Buku ini kian lengkap karena kitab asli Fathul Bari yang diterjemahkan sudah di-tahqiq oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, ulama Timur Tengah yang sangat kompeten dan mumpuni keilmuannya, kemudian dilengkapi oleh muridnya, ‘Ali bin ‘Abdul Aziz bin ‘Ali asy-Syibl, dengan ta’liq (komentar kritis) di bawah bimbingan Syaikh bin Baz sendiri. Tidak semua hadis di-ta’liq, namun hanya pada hadis-hadis yang berkaitan dengan ‘aqidah. Membaca Shahih al-Bukhari akan semakin lengkap dengan keberadaan terjemah Fathul Bari, magnum opus tafsir hadis.*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s