Indahnya Perbedaan yang Dibingkai Cinta

Oleh : Fajar Kurnianto
Alumnus UIN Jakarta

Judul : Pelangi Melbourne, Dua Dunia Satu Cinta
Penulis : Zuhairi Misrawi
Penerbit : Kompas, Jakarta
Cetakan : I, Januari 2011
Tebal : viii+552 halaman

Perbedaan bangsa, budaya, bahkan agama bukanlah penghalang bagi manusia untuk menjalin hubungan dan saling bekerjasama dengan sesama. Inilah yang coba dinarasikan Zuhairi Misrawi dalam novel berlatar Melbourne ini.

Novel ini berkisah tentang seorang pemuda Indonesia bernama Zaki Mubarak yang berangkat ke Melbourne, Australia, untuk belajar kursus bahasa Inggris selama enam bulan. Melbourne dikenal sebagai kota multikultural dengan tata kota, sarana-sarana transportasi, sarana-sarana belajar dan pengelolaan pemerintah setempat yang sangat baik dan modern. Di sini ada Universitas Melbourne yang sangat terkenal kualitas pendidikannya. Di tempat kursus inilah, Zaki yang beragama Islam bertemu dengan seorang perempuan asal Korea Selatan yang beragama Kristen Katolik, bernama Diana Lee, yang juga sama-sama kursus.

Keramahan dan kecerdasan Diana membuat Zaki seketika jatuh hati. Ternyata, Diana juga memiliki perasaan yang sama. Zaki, yang dalam novel ini digambarkan sebagai seorang yang intelek, berwawasan luas, beretika tinggi, lulusan pesantren dan aktivis sebuah LSM di Jakarta, benar-benar membuat Diana kesengsem. Tidak perlu waktu lama, mereka pun menjalin cinta. Tapi, berbeda dengan cinta yang lazim dilakukan anak-anak muda dewasa ini yang serba permisif dan bebas hingga kelewat batas, cinta Zaki dan Diana dibangun dengan tujuan yang luhur, untuk kemajuan bersama, meraih cita-cita untuk masa depan.

Perjalanan cinta mereka diisi dengan hal-hal positif, produktif dan konstruktif, seperti mendiskusikan masalah sosial, politik, budaya, hingga agama. Mereka saling melengkapi kekurangan masing-masing dalam proses belajar dan berbagi pengetahuan dan wawasan, di sela-sela mereka makan bersama, nonton bersama, liburan bersama dan ketika waktu istirahat kursus. Perpustakaan menjadi tempat favorit mereka untuk berdiskusi dan belajar bersama. Itu berlangsung hingga mereka lulus kursus dengan nilai yang baik, yang memungkinkan mereka bisa melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi: kuliah S-2 di Universitas Melbourne.

Selama di Melbourne, hampir tidak ada masalah yang dikhawatirkan dalam menjalin hubungan cinta, meskipun Zaki dan Diana berbeda bangsa dan agama. Kekhawatiran baru muncul ketika Zaki harus menceritakan kisah cinta dan keinginannya untuk menikahi Diana, kepada keluarganya; ibunya terutama. Mulanya, ibu Zaki kaget, tapi kemudian meminta pertimbangan kepada seorang ahli agama bernama Kiai Mustajab yang menurut ibu Zaki sangat mengerti agama sekaligus bijaksana. Menurut Kiai Mustajab, Alquran membolehkan nikah beda agama. Ibu Zaki pun ikhlas menerima kenyataan itu, bahkan merestui Zaki, karena ia menyadari barangkali ini sudah suratan takdir Tuhan yang tidak bisa ditolak. Tapi, berbeda dengan ibunya, paman dan bibi Zaki menentang keras bahkan melakukan propaganda negatif kepada orang-orang yang membuat ibu dan Zaki harus migrasi ke tempat lain.

Cinta Zaki dan Diana berujung manis. Mereka benar-benar menikah di Melbourne setelah masing-masing mereka dipastikan mendapatkan beasiswa untuk kuliah S-2 di Universitas Melbourne, meski konsentrasi studi mereka berbeda. Zaki konsentrasi di studi sejarah agama, sementara Diana di studi antropologi. Bulan madu mereka habiskan di Jerusalem, kota yang sangat dihormati dan dimuliakan tiga agama: Yahudi, Kristen dan Islam, sebelum mereka berdua memulai masa perkuliahan. Jerusalem menjadi kota simbol perekat tiga agama yang berbeda. Di Jerusalem sendiri, toleransi umat tiga agama itu begitu hidup. Berbeda dengan pihak-pihak di luar Jerusalem yang terlibat konflik politik dengan mengatasnamakan agama demi memperebutkan Jerusalem.

Novel ini juga menyertakan kisah dua muda-mudi Arab Saudi bernama Ahmad dan Raudha, teman kursus Zaki dan Diana, yang juga saling jatuh hati, tapi kandas karena perbedaan klan meski beragama dan berbangsa sama. Novel ini menarik. Alur ceritanya mengalir, meski sedikit tertangkap kesan tidak cair bahasanya. Konflik yang dibangun juga tidak tereksplorasi secara mendetail. Ini bisa dilihat ketika paman dan bibi Zaki menentang rencana Zaki menikahi Diana. Di sini, konflik yang ditampilkan tidak melibatkan Zaki secara langsung, tapi lewat ibunya. Hal lainnya, ada kesan janggal ketika Diana diceritakan tidak begitu tahu perihal Google, mesin pencari di dunia maya, sehingga Zaki menjelaskannya.

Pesan novel ini jelas, tentang perbedaan agama, bangsa dan budaya yang diikat dengan cinta suci dan tulus. Tidak banyak orang seperti Zaki, seorang muslim yang mendapatkan istri beda agama dan bangsa, tapi berhasil menjalaninya dengan baik. Di negeri ini, nikah beda agama masih jadi kontroversi di kalangan agamawan. Di sinilah Zuhairi menegaskan pemikirannya: perbedaan itu seperti pelangi, warna-warni, begitu indah, apalagi jika diikat dengan cinta. Dalam bahasa agama, perbedaan itu rahmat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s