Jejak Pembaru Pemikiran Islam Indonesia

Oleh : Fajar Kurnianto
Alumnus UIN Jakarta

Judul : Api Islam Nurcholish Madjid; Jalan Hidup Seorang Visioner
Penulis : Ahmad Gaus AF
Penerbit : Kompas, Jakarta
Tahun : I, Agustus 2010
Tebal : xlii+382 halaman

Di kalangan kaum intelektual Indonesia, muslim terutama, nama Nurcholish Madjid atau yang akrab disapa Cak Nur, sudah tidak asing lagi. Dialah salah satu pembaru pemikiran Islam Indonesia terkemuka, terutama pada masa-masa penting tahun 60-70-an. Masa ketika wacana Islam berbenturan dengan politik Orde Lama (Orla) dan Orde Baru (Orba) yang represif terhadap gerakan Islam, atau gerakan-gerakan yang membawa simbol-simbol Islam, seperti Masjumi. Di era Orla, Masjumi dibekukan Soekarno karena diduga terlibat pemberontakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia). Di era Orba, Soeharto menolak rehabilitasi nama Masjumi.

Buku karya Ahmad Gaus AF ini dengan sangat baiknya mengungkap jejak Cak Nur baik sebagai seorang pemikir pembaru Islam maupun aktivis pergerakan di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), hingga kiprahnya mendirikan dan mengelola Yayasan Paramadina yang hingga saat ini eksis dengan Universitas Paramadina bentukannya, wujud dari komitmennya untuk mengembangkan gagasan-gagasan Islamnya. Cak Nur sebagai intelektual Islam dan Cak Nur sebagai manusia biasa yang hidup sederhana, menjalani pahit getirnya hidup selama menjadi mahasiswa dan setelah menikah, bersama istri dan anak-anaknya. Cak Nur yang mencoba terjun ke dunia politik praktis di era reformasi dengan keinginannya untuk masuk ke dalam bursa calon presiden melalui Golkar, meski akhirnya tidak jadi mengembalikan formulir pendaftaran. Juga peran krusial Cak Nur dalam jatuhnya Soeharto.

Sebagai pemikir pembaru Islam, nama Cak Nur mulai dikenal semakin luas ketika ia pada 2 Januari 1970, dalam acara forum silaturahmi, melontarkan gagasan yang menuai kontroversi, dengan makalahnya yang sangat terkenal berjudul “Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat”. Persoalan pertama terkait dengan proses liberalisasi pemikiran Islam yang menyangkut proses-proses lainnya, yaitu sekularisasi, kebebasan berpikir, serta idea of progress dan sikap terbuka. Sementara persoalan kedua terkait dengan masalah umat Islam dalam konteks strategi gerakan Islam politik pasca dibekukannya Masjumi dan ditolaknya rehabilitasi nama Masjumi.

Istilah sekularisasi dalam berbagai diskusi Cak Nur dengan teman-teman aktivis awalnya adalah desakralisasi. Namun, pada makalah itu Cak Nur tidak hanya menggunakan istilah desakralisasi, tapi juga istilah sekularisasi sebagai “sengatan”. Dengan desakralisasi, Cak Nur menyerukan kaum muslim untuk berhenti menyucikan sesuatu yang memang tidak suci. Pada masa lalu, wilayah suci itu relatif terbatas pada objek-objek fisikal yang dikenal masyarakat awam, sekarang wilayah suci itu berkembang lebih luas dalam wujud organisasi dan partai. Menurut Cak Nur, andaikata umat konsekuen dengan tauhid yang dianutnya, seharusnya terjadi desakralisasi pandangan terhadap semua yang selain Tuhan, karena tauhid merupakan pemutlakan transenden, semata-mata kepada Tuhan. Sakralisasi kepada semua objek selain Tuhan, kata Cak Nur, tidak lain adalah bentuk kemusyrikan, lawan dari tauhid.

Sementara persoalan kedua terkait dengan masalah gerakan Islam politik pasca dibekukannya Masjumi dan ditolaknya rehabilitasi. Menurut Cak Nur, yang penting adalah kualitas umat, bukan kualitas. Kata Cak Nur, “Islam yes, partai Islam no.” Ungkapan ini sebenarnya merupakan jawaban dari realitas yang diamatinya. Dalam makalah itu, ia mempertanyakan, sekaligus memberikan jawabannya: “…sampai di manakah mereka tertarik kepada partai-partai/organisasi-organisasi Islam? Kecuali sedikit saja, sudah terang mereka sama sekali tidak tertarik kepada partai-partai/organissi-organisasi Islam. Sehingga, rumusan mereka kira-kira berbunyi: Islam, yes, partai Islam no!” Cak Nur juga meragukan klaim partai-partai Islam sebagai wadah ide-ide yang hendak diperjuangkan berdasarkan Islam. Alasannya, ide itu sekarang dalam keadaan tidak menarik. Dengan kata lain, ide-ide dan pemikiran-pemikiran Islam itu sekarang sedang absolute memfosil, kehilangan dinamika.

Dua persoalan penting makalah inilah yang kemudian memicu kontroversi, terutama di kalangan aktivis gerakan Islam. HMI yang dikendarai Cak Nur sebenarnya lahir dari rahim Masjumi, untuk mengimbangi organ-organ PKI yang ada di sekeliling Soekarno, meski kemudian HMI menyatakan diri sebagai organisasi independen. Awalnya, makalah itu sepi tanggapan. Namun, setelah makalah itu dimuat di Harian Indonesia Raya secara utuh pada edisi Minggu 4 Januari 1970, kemudian media-media lain ikut memuatnya, seperti Pedoman, Mimbar Demokrasi, dan KAMI, polemik pun bermunculan semakin membesar.

Adalah Abdul Qadir Djaelani, seorang tokoh muda PII (Pelajar Islam Indonesia), yang dalam khutbahnya menyindir Cak Nur sebagai anak muda yang masih mentah pikirannya, yang imannya tidak sampai tenggorokan tetapi berani mengucapkan kata-kata Rasul. Natsir dan Hamka, dua punggawa Masjumi tidak secara frontal menyerang Cak Nur, hanya mengatakan bahwa pembaruan Islam mestinya tidak mengorbankan persatuan Islam. Kritik-kritik pedas dilontarkan Prof. Rasyidi, terutama pada ide sekularisasi Cak Nur yang dianggap berinti pada pemisahan antara agama dan negara: tidak ada negara Islam, serta liberalisme dan sekularisme.

Sepanjang hidupnya, Cak Nur memang kerap menuai kecaman dari lawan-lawan yang berseberangan, terutama terhadap pemikiran-pemikiran pembaruan Islamnya, bahkan meskipun masa sudah berlalu lama. Banyak kalangan masih menaruh curiga terhadapnya, bahkan hingga ketika Cak Nur meninggal dunia. Menurut mereka, Cak Nur meninggal dunia dalam keadaan yang buruk. Melalui buku ini, Ahmad Gaus ingin mengajak kita untuk melihat seorang Cak Nur secara objektif. Cak Nur disebut-sebut sebagai “Natsir Muda” namun membawa spirit pemikiran Islam ala Soekarno yang mengatakan bahwa umat Islam mestinya mengambil api Islam, bukan abunya. Dalam ungkapan yang sering kali diulang Cak Nur: mempertahankan tradisi masa lalu yang baik, dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s