Pergumulan Pemikiran di Ranah Minang

Oleh : Fajar Kurnianto
Alumnus UIN Jakarta

Judul : Sengketa Tiada Putus; Matriarkat, Reformisme Islam, dan Kolonialisme Islam di Minangkabau
Penulis : Jeffrey Hadler
Penerbit : Freedom Institute, Jakarta
Tahun : I, Oktober 2010
Tebal : xlii+372 halaman

Ungkapan “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” (ABS-SBK) bagi masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat, sudah tidak asing lagi. Maknanya lebih kurang adalah adat bersendi atau berdasar syariat Islam, dan syariat bersendi atau berdasar Kitabullah (Alquran). Sebuah gambaran religiusitas Minangkabau. Sejak Islam masuk daerah ini sekitar tahun 1500-an, menggantikan Hindu dan Budha, perkembangan Islam begitu pesat. Minangkabau sendiri saat ini termasuk daerah yang menerapkan syariat Islam dalam peraturan-peraturan daerahnya (Perda). Jika menelusuri sejarahnya, di ranah ini sebenarnya terjadi pergumulan pemikiran, bahkan hingga kontak fisik (peperangan) di antara sesama dan pihak luar yang masuk kemudian.

Jeffrey Hadler dalam buku yang merupakan disertasi doktoral di Universitas Cornell (2000) ini secara jelas mengulas pergumulan tiga pemikiran arus pemikiran itu pada abad ke-19. Pertama, pemikiran adat atau budaya matriarkat untuk menyebut institusi-institusi garis keturunan dan pewarisan matrilineal serta residensi matrilokal yang menjadi komponen penting budaya mereka. Menurut adat Minangkabau, afiliasi utama seseorang adalah terhadap rumah gadang dan kampung suku atau klan maternal. Laki-laki menikah dengan anggota keluarga besar, tapi tetap terikat pada rumah ibu mereka. Budaya matriarkat hingga saat ini tetap bertahan, dan tidak mati, meski mengalami sedikit perubahan dalam perkembangannya. Ini yang menurut Hadler sangat menarik: ketahanan budaya Minang.

Kedua, pemikiran reformis Islam. Pemikiran ini dibawa oleh orang-orang Minang yang belajar agama Islam di Arab Saudi, kemudian pulang membawa paham Wahabi yang keras terhadap adat atau budaya setempat yang dinilai tidak Islami, seperti hukum waris, yang tidak sesuai Alquran dan aturan Nabi Muhammad. Mereka ini dikenal sebagai kaum Padri. Secara penampilan, mereka ini mengenakan sorban putih di kepala, jubah putih menutupi tubuh, dan jenggot panjang. Tokoh yang terkenal, misalnya Tuanku Imam Bondjol, Tuanku Nan Renceh, Tuanku Bujang, Tuanku Kaciak, Tuanku Nan Gapuk, Tuanku Nan Hitam, Tuanku Nan Tuo, dan Haji Miskin. Bondjol sendiri adalah tempat Tuanku Imam mendirikan bentengnya, dan dari tahun 1833-1837 memimpin perang melawan pendudukan Belanda di dataran tinggi Minangkabau.

Ketiga, pemikiran kolonial Belanda yang membawa progresivisme Eropa. Belanda kembali ke Minangkabau melalui bandar Padang pada 1821 dengan alasan pemulihan kondisi ekonomi negeri itu pasca perang Napoleon, dan lebih-lebih setelah Belgia pada 1830 memisahkan diri dari Belanda. Ketika kembali, situasi di Minangkabau begitu panas. Pertentangan antara kaum adat tradisionalis dan reformis Islam Padri sangat hebat, bahkan hingga berujung peperangan. Belanda sendiri datang dengan semangat baru setelah memenangkan perang atas Diponegoro di Jawa (1830). Awalnya, kaum adat menjalin perjanjian dengan Belanda dan mengalahkan kaum Padri pada 1832. Namun, kaum adat kemudian bersatu dengan kaum Padri melawan Belanda. Perlawanan baru berakhir pada 1838. Pemerintah kolonial, seperti halnya reformis Islam, berusaha membongkar adat matriarkat Minangkabau melalui peraturan pajak dan kontrol terhadap kehidupan keluarga dan populasi masyarakat Minang. Namun, itu tidak sepenuhnya berhasil.

Hadler cukup cermat membaca literatur-literatur lama sejarah Minangkabau dan dari berbagai catatan yang ada, termasuk karya-karya sastra Minangkabau yang menggambarkan kehidupan sosial dan budaya di sana pada abad 19, pada masa kolonial. Beberapa literatur yang dicantumkan Hadler, dikutip dari bahasa Melayu dan Minangkabau, masih dalam ejaan lama. Pada 2006, atau enam tahun setelah disertasi ini berhasil dia pertahankan, Hadler mengunjungi Minangkabau. Menurutnya, meski adat matriarkat Minangkabau diserbu gencar oleh dua kekuatan: reformis Islam dan progresivisme Eropa, hingga kini tetap bisa bertahan. Perda-perda syariat juga tidak sepenuhnya memberikan pengaruh besar bagi masyarakat Minangkabau.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s