Biografi Kecil Keluarga SBY

Oleh : Fajar Kurnianto
Alumnus UIN Jakarta

Judul : Pak Beye dan Keluarganya
Penulis : Wisnu Nugroho
Penerbit : Kompas, Jakarta
Tahun : I, Januari 2011
Tebal : xx+308 halaman

Membicarakan sosok Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden Republik Indonesia saat ini, terutama dalam konteks politik, selalu menarik. Kemenangannya pada Pilpres 2009 lalu sekaligus membuka jalan baginya untuk membangun dinasti baru dalam sejarah kekuasaan di Indonesia. Namun, pembatasan masa jabatan Presiden hanya dua periode membuat SBY tidak mungkin menjadi penguasa selama Sukarno ataupun Soeharto. Maka, satu-satunya jalan yang bisa dilakukan adalah dengan mempersiapkan penggantinya, dari kalangan keluarganya. Istrinya (Ibu Kristiani Herawati Yudhoyono atau yang akrab dipanggil Ibu Ani) atau anaknya (Agus Harimurti Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono yang biasa dipanggil Ibas).

Pada buku Pak Beye dan Keluarganya karya Wisnu Nugroho ini, yang merupakan buku keempat dari Tetralogi Sisi Lain SBY, sepak terjang—kalau boleh disebut demikian, karena sebenarnya yang ‘menyepak’ dan ‘menerjang’ adalah SBY; selain SBY, lebih kelihatan sebagai figuran di samping atau di belakangnya saat manggung masa kampanye, bisa disebut ikut menempel pada pesona SBY—ibu dan anak SBY diceritakan. Selain tidak ketinggalan juga ayahnya (R Soekotjo), ibunda SBY (Ibu Siti Habibah), menantunya (Anissa Pohan, istri Agus), dan cucunya (Almira, putri Anissa-Agus). Tidak seluruhnya cerita-cerita tentang keluarga SBY bersinggungan dengan politik, tapi tidak bisa juga dianggap benar-benar lepas dari politik.

Istri SBY, Ibu Ani, sempat ramai diberitakan tengah dipersiapkan untuk menjadi pengganti SBY nantinya, maju dalam Pilpres 2014. Apalagi, jika melihat dari kalangan keluarga SBY sendiri, yang kerap kali muncul ke permukaan adalah dia dan anak bungsunya, Ibas. Menimbang Ibas masih terlalu muda, meski dalam Pemilu Legislatif 2009 kemarin menjadi juara dengan perolehan suara calon legislatif terbanyak se-Indonesia, yang—hebatnya, membuat kita geleng-geleng kepala—itu diraih tanpa susah payah, tanpa bersuara, tanpa orasi di depan massa. Cukup berdiri di samping atau di belakang ayahnya saat manggung kampanye, dan tersenyum melambaikan tangan.

Sebenarnya, selain Ibas ada Agus, kakaknya. Tetapi, Agus sepertinya lebih suka mengikuti jejak ayahnya dahulu, di jalur militer, berkarier sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD). Sempat ada spekulasi menyebutkan, Agus ini nantinya akan dipaksakan ikut pada Pilpres 2019 dengan asumsi bahwa pada tahun itu pangkat Agus adalah Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Mungkin memberi kesempatan dulu kepada Ibunya untuk maju di 2014. Namun, pengamat banyak meragukan ia secepat itu menjadi KSAD, karena paling tidak pada tahun itu pangkatnya mungkin baru Letnan Kolonel (Letkol), kecuali nasib berkata lain. Bukankah dalam politik segalanya menjadi mungkin?

Banyak pihak yang yakin Ibu Ani akan didorong pada 2014. Itulah kenapa mudah dipahami ketika WikiLeaks, misalnya, merilis berita utama di harian Australia, The Age (Jumat, 11/3/2011), yang menyebutkan bahwa SBY telah menyalahgunakan kekuasaannya dan menyinggung sosok Ibu Ani sebagai orang yang menggunakan koneksi politik untuk memperkaya diri, hal itu dipandang sebagai ‘serangan politik’ terhadap keluarga SBY. Tujuannya, selain ‘merusak’ citra SBY, sekaligus untuk ‘menjegal’ langkah Ibu Ani yang tengah membangun citra di samping SBY guna menuju 2014. Dalam politik yang segaduh saat ini, ketika Partai Demokrat (PD) ‘bermasalah’ di dalam tubuhnya sendiri, tampaknya impian ‘mendirikan dinasti’ agak sedikit terhambat. Selain itu, tiga tahun sepertinya tidak cukup untuk mengorbitkan Ibu Ani, kecuali mungkin dengan cara yang sangat instan dan ‘cepat saji’.

Seperti tiga buku sebelumnya, Pak Beye dan Istananya, Pak Beye dan Politiknya, dan Pak Beye dan Kerabatnya, gaya cerita Wisnu di buku ini tidak jauh berbeda: menuliskan kembali ingatan Wisnu tentang SBY yang kali ini terkait dengan keluarganya, mengajak pembaca untuk berpikir ringan dan sederhana dengan pancingan-pancingan pertanyaan yang menggelitik, dengan gaya bahasa yang enak, akrab, dan memberi kesempatan kepada pembaca untuk menilai sendiri perihal SBY, tanpa memaksa pembaca untuk mengikuti pendapatnya. Ciri khas tulisan seorang jurnalis yang matang. Buku ini, dan tiga buku sebelumnya, bisa disebut reportase ringan, yang menggugah pembaca, tapi tetap santai, untuk melihat seorang SBY dan keluarganya, terutama dalam konteks politik. Apakah SBY benar-benar ingin ‘membuat dinasti’? Waktu yang akan menjawabnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s