Salah Jalan Jawa Teroris

Oleh : Fajar Kurnianto
Alumnus UIN Jakarta

Judul : Orang Jawa Jadi Teroris
Penulis : M Bambang Pranowo
Penerbit : Alvabet, Jakarta
Tahun : I, Februari 2011
Tebal : xliv+256 halaman

Aksi terorisme dalam bentuk pengeboman di negeri ini pasca ditembak matinya gembong teroris Noordin M Top dalam sebuah penyergapan Densus 88 Antiteror di Jebres, Surakarta, Jawa Tengah (16/9/09), tidak ada lagi. Bom terakhir meledak di hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta (17/7/09). Namun demikian, bukan berarti terorisme benar-benar sudah tamat. Pasca tewasnya Noordin, teroris sekarang adalah generasi baru yang sudah menimba ilmu dari Noordin.

Berkaitan dengan terorisme, ada pertanyaan menarik, meski tampak sederhana. Kenapa seluruh teroris, sejak bom Bali I dan II, bom Kuningan, bom Marriott, bom Poso, dan terakhir bom hotel Ritz Carlton, adalah orang Jawa? Meski beberapa di antaranya bukan orang Jawa asli, tapi mereka tumbuh di lingkungan masyarakat Jawa. Kenapa orang Jawa menjadi teroris?

M Bambang Pranowo dalam buku ini menjawab pertanyaan tersebut dari perspektif sosiologis, kompatibel dengan spesialisnya di bidang sosiologi agama. Menurutnya, hal pertama yang harus dipahami adalah karakter orang Jawa itu sendiri. Menurut Pranowo, untuk memahami orang Jawa salah satunya adalah dengan melihat simbol karakter dalam wayang Pandawa Lima. Mereka adalah Puntodewo, Werkudoro (Bima), Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Putodewo, Nakula, dan Sadewa terkenal sebagai tokoh yang lemah-lembut dan suka mengalah. Sementara Arjuna adalah tokoh yang pandai, baik dalam diplomasi maupun perang. Sedangkan Werkudoro adalah tokoh yang lurus, pemberani, dan pantang menyerah (h. 16-17).

Secara umum, tutur Pranowo, sikap dan tutur kata orang Jawa sangat lembut, akomodatif, dan mudah bersahabat dengan siapa pun. Tapi, lanjut Pranowo, orang non-Jawa perlu berhati-hati dalam menyikapi orang Jawa. Jangan sekali-kali orang Jawa diremehkan atau dikecewakan. Karena, orang Jawa juga memiliki filosofi hidup tiga nga. Yaitu, ngalah, ngalih, dan ngamuk. Orang Jawa yang jadi teroris sedang ngamuk, namun sayangnya salah alamat. Mereka mengusung jihad melawan Amerika karena negeri Paman Sam ini dianggap tidak adil terhadap dunia Islam, seperti terhadap Palestina, namun yang diserang justru orang-orang yang tak berdosa di Indonesia. Para teroris itu pengecut, kata Pranowo, mengutip Misuari, pendiri Moro National Liberation Front (MNLF).

Buku ini sejatinya merupakan kumpulan artikel Pranowo di berbagai media yang ditulis sejak 1990. Judul buku ini sendiri diambil dari salah satu tulisan di dalamnya, sekaligus menjadi judul bab pertama dari lima bab di dalamnya. Melalui buku ini, Pranowo mengajak kita untuk merenungkan dan memikirkan keberagamaan (baca: keberislaman) di tengah berbagai persoalan sosial, politik, dan budaya, seperti terorisme dan ketidakadilan, serta bagaimana upaya menyikapinya. Tulisan-tulisan di buku ini berangkat dari keresahan seorang Pranowo yang melihat sikap dan cara pandang tidak kritis—malah cenderung keliru—sebagian umat Islam dalam menyikapi persoalan-persoalan sosial. Mereka melihat Islam secara sempit, sehingga fungsi Islam sebagai rahmatan lil alamin terabaikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s