Mengungkap Geng Motor Hell’s Angels

Oleh : Fajar Kurnianto
Alumnus UIN Jakarta

Judul : Hell’s Angels, Geng Motor Paling Berbahaya Sedunia
Penulis : Hunter S Tompson
Penerbit : Ar-Ruzz Media, Jogjakarta
Tahun : I, 2010
Tebal : 380 halaman

Di beberapa kota besar tanah air, seperti di Bandung dan Jakarta, terdapat geng-geng motor yang suka berbuat onar, kriminal, dan mengganggu keamanan. Sebenarnya, tidak semua geng motor berperilaku buruk seperti itu. Ada beberapa geng motor yang lebih merupakan hobi dan melepas penat, keluar dari beban akibat rutinitas, dan demi memuaskan hasrat kebebasan. Di Amerika, geng motor yang paling terkenal antara lain Hell’s Angels. Geng motor ini bahkan disebut-sebut sangat berbahaya.

Buku karya Hunter S Tompson ini mengungkapkan cukup detail bagaimana tindak-tanduk Hell’s Angels dan horor yang ditebarkan geng ini. Buku ini ditulis berdasarkan kisah nyata, karena Tompson selama hampir setahun lebih, sebelum menulis buku ini, bergaul bersama para anggota Hell’s Angels dan mengikuti setiap pergerakan mereka, sehingga ia cukup tahu dan kenal betul mereka. Tompson termasuk reporter (jurnalis) yang beruntung bisa masuk ke dalam lingkaran Hell’s Angels, karena geng ini sejatinya sangat anti dengan jurnalis.

Buku yang dalam edisi aslinya berjudul Hell’s Angels: The Strange and Terrible Saga of the Outlaw Motorcycle Gangs, dan terbit pada 1966, ini awalnya dari artikel Tompson berjudul The Motorcycle Gangs: Losers and Outsiders untuk surat kabar The Nation. Editor surat kabar ini, Carey McWilliams, kemudian menawari Tompson untuk menulis buku tentang geng motor, khususnya Hell’s Angels.

Hell’s Angels, seperti dicatat Tompson, mulanya didirikan untuk mengatasi kebosanan dan kegatalan para veteran perang pada sekitar tahun 60-an. Namun, dalam perkembangannya, menjadi gaya hidup. Hell’s Angels adalah kumpulan orang-orang yang menolak dunia yang di dalamnya mereka hanyalah masalah. Berbeda dengan kaum radikal pelajar yang memberontak terhadap masa lalu, Hell’s Angels berjuang demi masa depan.

Secara penampilan, anggota Hell’s Angels mudah dikenali. Anting-anting, tindik, rompi, rantai-rantai yang berjuntai, swastika, bandana atau ikat kepala Apache, minuman keras, mariyuana, pesta-pesta tak jelas, seks bebas, badan tatoan, jaket kulit atau denim, kaca mata hitam, rambut gondrong atau plontos. Tidak hanya anak-anak muda yang belum percaya diri, tapi juga pria-pria bangka berwajah angker, dengan motor-motor yang telah dipreteli atau dimodifikasi sendiri, yang suara knalpotnya sangat memekakkan telinga. Demikianlah Hell’s Angels. Gambar tengkorak kepala bersayap yang mengenakan helm, menjadi lencana atau lambang mereka.

Bagi masyarakat, geng Hell’s Angels adalah masalah. Polisi sendiri mesti ekstra ketat memantau mereka, terutama ketika mereka mulai bergerak ke suatu tempat untuk mengadakan pesta. Mereka juga kerap kali melakukan tindakan kejahatan, seperti memperkosa, merampok bar, bikin onar dan kerusuhan, mengisi bensin tanpa bayar, dan melakukan pelanggaran lalu lintas. Perkelahian sering terjadi, tidak hanya dengan geng-geng lain, tapi bahkan di antara sesama anggota Hell’s Angels sendiri. Kerusuhan atau perkelahian terjadi biasanya setelah mereka melakukan pesta minuman keras.

Meski sangat urakan, awut-awutan dan tak terorganisasi, tapi mereka memiliki beberapa orang yang mereka anggap pemimpin atau disegani, seperti Ralph ‘Sonny’ Barger dan Terry The Trump. Orang-orang seperti itu biasanya disebut sebagai pemimpin chapter atau kelompok yang ada di lokasi-lokasi tertentu sebagai basis berkumpulnya mereka. Setiap terjadi masalah antara anggota Hell’s Angels dengan pihak kepolisian, orang-orang itulah yang dipanggil untuk bertanggungjawab.

Ditulis dengan gaya reportase jurnalistik, buku novel nonfiksi ini mengajak pembaca bertualang mengikuti sepak terjang Hell’s Angels dengan segala masalah di dalamnya, di masa-masa awal. Masa-masa ketika Hell’s Angels muncul dan dikenal sebagai berandal kriminal yang meresahkan. Setelah setengah abad waktu berjalan, kini satu persen anggota ini memang masih ada yang berperilaku bandit, namun 99 persen lainnya merupakan pengendara motor yang lebih terhormat. Mereka bahkan sering kali melakukan kegiatan amal untuk anak-anak dan veteran. Stigma negatif masih dilekatkan pada geng ini. Itulah kenapa Hell’s Angels menyindir stigma itu dengan semboyannya di situsnya: Ketika kami melakukan hal yang benar tak seorang pun ingat, ketika kami melakukan hal yang salah tak seorang pun lupa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s