Mengungkap Fragmen Sejarah Bangsa

Oleh : Fajar Kurnianto
Alumnus UIN Jakarta

Judul : Menguak Misteri Sejarah
Penulis : Asvi Warman Adam
Penerbit : Kompas, Jakarta
Tahun : I, Juli 2010
Tebal : xii+292 halaman

Mempelajari sejarah merupakan upaya penting untuk memajukan bangsa. Tentu saja sejarah yang objektif, bukan sejarah yang telah dimanipulasi oleh penguasa demi kepentingan kekuasaan. Bung Karno menulis di dinding situs Ende tentang pentingnya mempelajari sejarah. Di situ, ia mengkritik pandangan yang menyebutkan bahwa mempelajari sejarah adalah omong kosong. Bagi Bung Karno, sejarah sangatlah berguna. Dengan mempelajari sejarah, orang bisa menemukan hukum-hukum yang menguasai kehidupan manusia.

Dengan semangat inilah, Asvi Warman Adam mengungkap sejarah bangsa Indonesia dalam bukunya, Menguak Misteri Sejarah, terutama bagian-bagian sejarah bangsa yang hingga saat ini masih remang-remang atau misterius, sehingga masih menyisakan banyak pertanyaan yang belum terjawab secara tuntas dan memuaskan karena berbagai kendala dan hal, baik itu kendala teknis maupun nonteknis. Era reformasi memberi berkah tersendiri bagi pengungkapan sejarah bangsa, karena tidak ada lagi kekhawatiran seperti terjadi pada era Orde Baru.

Secara garis besar, buku ini dibagi ke dalam enam bab. Bab pertama mengulas tokoh-tokoh yang hampir terlupakan, seperti S.K. Trimurti, Hoegeng, Sarwono Prawirohardjo, Ang Yan Goan, Ibrahim Yaacob, dan Munir. Bab kedua mengulas kontroversi pahlawan, seperti soal heboh pahlawan nasional, tidak adanya penulisan sejarah polisi dan gelar pahlawan untuk tokoh dari polisi selain Hoegeng, tentang usulan kepahlawanan Gus Dur, tentang Tan Malaka dan tunangannya, serta Sjahrir dan gerakan Kirinya.

Bab ketiga mengulas tokoh-tokoh dan wacana seputar tragedi G30S, seperti Untung, tiga jenderal yang menjadi kurir Supersemar, Supersemar itu sendiri, G30S dalam pendidikan sejarah, kisah Saleh Basarah, dan kisah Omar Dhani. Bab keempat mengulas penulisan sejarah, seperti sejarah (kronik) versi Pramoedya Ananta Toer, posisi Mohammad Yamin dalam sejarah, pelajaran dari kudeta 17 Oktober 1952, perjuangan Kartini yang lebih dahulu dibanding Wahidin Sudirohusodo, tentang Kartini dan Partini, Sudirman, hingga Prabowo Subianto.

Bab kelima mengulas beberapa masalah belakangan ini yang menjadi topik hangat, seperti soal lambang negara yang dipasang di produk kaos, hari lahir garuda, Balibo Five, Malari (Malapetaka Lima Belas Januari), pendidikan kewirausahaan dalam diskriminasi sejarah, dan kampanye di khutbah-khutbah Jumat. Bagian keenam—sebenarnya merupakan kelanjutan dari bagian kelima—mengulas beberapa soal kekinian, seperti tentang larangan peredaran buku oleh Kejaksaan Agung, larangan pengungkapan kebenaran, pemakzulan (impeachment) terhadap Presiden SBY, interogasi berjamaah dalam kasus Century oleh Pansus, rehabilitasi Bank Indonesia (BI), hingga soal Susno Duadji.

Pesan sejarah

Mempelajari sejarah, baik itu menyangkut soal tokoh maupun fragmen peristiwa tertentu, berarti juga mengungkap pesan apa yang ingin disampaikan oleh sejarah. Mempelajari sejarah Jenderal Hoegeng, misalnya, bangsa ini—terutama para aparat penegak hukum—dipesani untuk menjadi para penegak hukum yang bersih, anti korupsi, dan anti suap. Tidak sekadar slogan atau ucapan lisan, tapi benar-benar dibuktikan secara nyata. Hoegeng berpesan, pemerintahan yang bersih haruslah dimulai dari atas, seperti orang mandi yang dimulai dari kepala.

Dari tragedi G30S, bangsa ini dipesani untuk tidak melakukan hal yang sama. Tragedi ini membekas begitu dalam, sebagai tragedi terbesar bangsa pasca kemerdekaan, ketika sesama anak bangsa sendiri harus terlibat dalam pertarungan politik yang sangat membahayakan, sehingga berbuah terbunuhnya jenderal-jenderal terbaik bangsa ketika itu. Yang lebih menyakitkan, pasca G30S sekitar setengah juta nyawa rakyat terbunuh, sementara sisanya dibuang ke pulau Buru hanya karena perbedaan ideologi politik dan tudingan tendensius-spekulatif yang tidak diklarifikasi atau verifikasi terlebih dahulu.

Maka benarlah yang dikatakan oleh Bung Karno, bahwa mempelajari sejarah itu sangat berguna bagi masa depan bangsa. Kita bisa lihat saat ini, bagaimana kondisi bangsa yang carut-marut, terutama dalam hukum, politik, dan ekonomi. Korupsi, mafia hukum, mafia pajak, lemahnya mentalitas aparat penegak hukum sehingga gampang disuap, dan tidak seriusnya aparat mengungkap kasus-kasus yang melibatkan pejabat kelas kakap, membuat hukum mudah dipermainkan oleh orang-orang berkantong tebal. Dalam politik, lembaga eksekutif dan legislatif malah sibuk saling serang untuk menjatuhkan, bukannya fokus mengurus negara. Dalam ekonomi, akibat pemerintah disibukkan dengan urusan hukum dan politik, rakyat di bawah menjerit karena harga-harga melambung tinggi. Kemiskinan semakin meningkat, pengangguran semakin membiak.

Melalui buku ini, Asvi tidak semata-mata menguak misteri sejarah, tapi juga mengungkap pesan di balik sejarah sebagai kritik konstruktif terhadap kondisi bangsa dan perilaku elit-elit pemegang kekuasaan saat ini yang tidak belajar dari sejarah, atau belajar sejarah tapi melupakannya, sehingga mereka seperti tidak memiliki arah yang jelas ke mana bangsa ini hendak mereka bawa. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Demikian pesan Bung Karno.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s