Menemukan Makna Hidup Lewat Filsafat

Oleh : Fajar Kurnianto
Alumnus UIN Jakarta

Judul : Philosophy and The Meaning of Life; Filsafat Sebagai Lentera Kehidupan
Penulis : Karl Britton
Penerbit : Ar-Ruzz Media, Yogyakarta
Tahun : I, Januari 2009
Tebal : 244 halaman

Arus modernisasi menerjang di segala sisi kehidupan manusia, hingga mengempaskannya pada keterasingan. Manusia kehilangan pegangan, dan tidak tahu makna hidupnya yang sejati. Bahkan, diri sendiri pun tidak tahu. Di tengah kehidupan manusia yang hampa dan asing itulah, manusia mulai lagi mempertanyakan makna hidup yang sejati, karena di situlah terletak kebahagiaan sejati.

Karl Britton dalam buku ini mencoba memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut, atau setidaknya yang ia anggap sebagai jawaban. Menurutnya, orang yang berhasil mengetahui makna hidup adalah orang yang terlebih dulu berhasil menjawab dua pertanyaan fundamental. Pertama, pertanyaan berkaitan dengan alam semesta. Kedua, pertanyaan berkaitan dengan diri manusia sendiri. Dua pertanyaan ini mutlak, karena manusia harus mengakui bahwa dirinya berada di lingkungan alam semesta, dan selalu terkait dengannya.

Ada beberapa jawaban atas pertanyaan tersebut yang dikritisi oleh Karl Britton, antara lain jawaban yang disebutnya sebagai jawaban otoritatif (Karl menyebut ini jawaban otoritatif karena orang-orang meyakini kebenaran jawaban ini dan berpegang kuat padanya) yang dilontarkan oleh kaum agamawan (h. 31-63). Karl juga mengkritisi jawaban-jawaban metafisis yang dilontarkan oleh kalangan rasionalis dan empirisis (h. 65-90). Selain itu, Karl juga mengkritisi beberapa jawaban informal praktis yang biasa dilontarkan oleh orang-orang secara spontan berdasarkan apa yang mereka alami dan rasakan dalam kehidupannya (h. 91-120).

Kehidupan tidak hanya dipahami dari sudut pandang teoretis semata, karena manusia juga bersinggungan dengan hal praktis. Baik kaum agamawan maupun rasionalis, memahami kehidupan yang sempurna berada di alam metafisis. Kaum agamawan di satu sisi menempatkan sosok Tuhan di atas segala-galanya, mengatur, menguasai, bahkan paling berhak mendefinisikan makna hidup yang diinginkan oleh manusia, tanpa memberi ruang pada manusia untuk menemukan makna hidupnya sesuai dengan yang ia persepsikan. Kaum rasionalis juga melihat bahwa kehidupan sejati hanya ada pada hal yang dianggap rasional, dan dalam beberapa hal Tuhan dianggap sebagai sesuatu yang irrasional. Ini berkebalikan dengan pandangan kaum agamawan.

Pandangan-pandangan informal tentang makna hidup juga tidak sepenuhnya memuaskan, karena sering kali secara logika itu tidak berlaku secara universal, terbatas pada per individu, sesuai dengan pengalaman masing-masing, atau sesuai dengan yang mereka persepsikan, meskipun itu sesungguhnya tidak rasional. Padahal, makna hidup itu bukanlah berlaku pada satu orang, tetapi pada semua orang, universal.

Melalui buku ini Karl Britton memberikan pencerahan kritis perihal makna hidup setelah mendedahkan makna hidup dalam semua pandangan yang berusaha memberikan jawaban terhadap dua pertanyaan tentang alam semesta dan diri manusia. Salah satu kesimpulan Karl adalah bahwa kehidupan ini memiliki makna. Ini untuk menegaskan kepada orang-orang yang menganggap hidup ini tidak bermakna. Dan, makna hidup itu tidak hanya di dunia teoretis, tapi juga dunia praktis. Aristoteles mengatakan bahwa hidup terbaik dan sempurna itu adalah kehidupan teoretis di mana manusia bisa mengontemplasikan apa yang ia pelajari dalam hidupnya. Tetapi, pada akhirnya dia juga mengakui bahwa kehidupan praktis tidak bisa diabaikan begitu saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s