Jalan Politik SBY

Oleh : Fajar Kurnianto
Alumnus UIN Jakarta

Judul : Pak Beye dan Politiknya
Penulis : Wisnu Nugroho
Penebit : Kompas, Jakarta
Tahun : I, September 2010
Tebal : xxviii+432 halaman

Kemenangan SBY pada Pilpres 2009 lalu tidak lepas dari strategi politik yang ia gunakan. Strategi yang konsisten ia gunakan sejak 2004. Meskipun SBY berlatar belakang militer, namun naluri berpolitiknya tidak mati. Naluri berpolitik yang mulai terlihat ketika ia menjadi salah satu kandidat calon Wakil Presiden yang diajukan untuk mendampingi Presiden Megawati Sukarnoputri pasca dicabutnya mandat Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai presiden oleh MPR (23 Juli 2001).

Buku Pak Beye dan Politiknya karya Wisnu Nugroho ini mencoba memotret sisi lain gaya dan model politik SBY sepanjang pesta demokrasi 2009 dan setelah ia kembali menjadi presiden untuk kedua kalinya. Buku ini merupakan buku kedua dari tetralogi sisi lain SBY. Buku pertama berjudul Pak Beye dan Istananya menjadi best-seller. Seperti buku pertama, buku ini juga berisi kumpulan posting-an Wisnu di social media Kompasiana. Posting-an Wisnu diakuinya berisi hal-hal yang tidak penting. Namun, justru hal yang tidak penting itu tetap menjadi penting untuk diketahui publik.

Strategi politik pencitraan lekat sekali pada diri SBY. Posisinya sebagai incumbent saat Pilpres 2009 benar-benar ia manfaatkan untuk tebar pesona demi citra dirinya di hadapan publik. Sebagai strategi politik, hal itu tentu saja sah, selama tidak melanggar konstitusi. Tetapi, strategi itu tidak dilakukannya sendiri. Fox Indonesia, konsultan politik SBY, sangat berjasa dalam hal ini. Fox Indonesia inilah yang merancang segalanya demi pencitraan SBY saat kampanye, di mana pun SBY berada. Tidak murah tentu saja untuk mempertahankan kekuasaan. Lihat saja, di setiap pagelaran kampanye, panggung kemegahan dan kebesaran selalu menjadi latar SBY.

SBY juga tahu betul peran media massa, baik cetak maupun elektronik, sebagai sarana efektif untuk menampilkan politik pencitraannya di hadapan publik. Dalam setiap kampanyenya, ia selalu mengajak para jurnalis media untuk ikut serta, tentu saja dengan fasilitas yang serba gratis untuk mereka. Tidak hanya saat kampanye, setelah menjadi presiden hingga saat ini SBY juga selalu akrab dan baik hati dengan para jurnalis itu. Ketika popularitas agak sedikit menurun, akibat berbagai isu tidak sedap yang menerpa pemerintahannya, ia buru-buru tampil di hadapan publik, menyampaikan tanggapan—yang lebih banyak normatifnya daripada solutifnya—demi menjaga popularitas di mata publik.

Sebagai seorang Jawa tulen, SBY juga tidak lepas dari ‘klenik’. Klenik menjadi judul Bab ke-7 buku ini (hlm. 391-429), sekaligus sebagai bagian penutup buku ini. Salah satu ‘klenik’ itu adalah percaya pada angka-angka keberuntungan. Angka sembilan seperti menjadi angka favorit SBY. Pada 2004, nomor urut Partai Demokrat adalah 9. Sementara pada 2009, nomor urutnya adalah 31. Angka ini merupakan hasil penjumlahan dari tanggal lahir SBY, yakni 9 September 1949, yang dipendekkan menjadi 9949. Angka ini juga menjadi nomor PO.BOX dan SMS di istananya. Jumlah lampu di pendapa puri Cikeas juga ada 9, seperti yang dihitung Wisnu.

Isi buku ini disebut Wisnu sebagai hal-hal yang tidak penting, tetapi bagi saya di situlah letak pentingnya buku ini. Pada hal-hal yang dianggap tidak penting, justru di situlah pentingnya. Melalui hal-hal yang tidak penting itu, Wisnu membongkar, menyentil, dan mengajak kita untuk melihat SBY sebagai sosok ‘manusia politik’ secara lebih luas melalui fragmen-fragmen gaya dan model berpolitiknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s