Langkah Cepat Sukarno Memecah Kebuntuan

Oleh : Fajar Kurnianto
Alumnus UIN Jakarta

Judul : Terobosan Sukarno dalam Perundingan Linggarjati
Penulis : Rushdy Hoesein
Penerbit : Kompas, Jakarta
Cetakan : I, Mei 2010
Halaman : x+318 halaman

Pasca diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia, tidak secara de facto diakui oleh dunia, terutama Belanda. Menyusul kekalahan Jepang dari sekutu, Belanda kembali lagi ke Indonesia dengan mendompleng pasukan sekutu (Inggris) yang punya misi melucuti tentara Jepang. Belanda tidak mengakui kemerdekaan Indonesia, sementara sekutu tidak mendapati Indonesia ketika itu adalah sebuah negara yang berdaulat, karena yang mereka tahu Indonesia adalah milik Belanda yang dicaplok oleh Jepang.

Dengan kata lain, Indonesia masih menjadi koloni Belanda. Karena itu, jalan perundingan sebagai bentuk penyelesaian yang bermartabat dengan Belanda untuk menuju dekolonisasi Indonesia menjadi hal yang tidak terelakkan. Pihak Belanda menunjuk Mantan Perdana Menteri Willem Schermerhorn sebagai ketua delegasi perundingan, sementara dari Indonesia dimandatkan kepada Sutan Sjahrir selaku Perdana Menteri kabinet II RI yang diangkat oleh Presiden Sukarno.

Buku berjudul Terobosan Sukarno dalam Perundingan Linggarjati karya Rushdy Hoesein yang diangkat dari disertasi doktoralnya ini secara dramatis mengisahkan perjalanan diplomasi Indonesia pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia, antara tahun 1945-1947. Diplomasi yang cukup berat dilakukan karena posisi Indonesia ketika itu belum begitu kuat. Pada saat yang sama, Belanda ingin kembali menguasai Indonesia yang sebelumnya ia serahkan tanpa syarat pada pihak Jepang sebagai harga yang harus dibayar atas kekalahannya dari Jepang.

Perundingan Linggarjati menjadi diplomasi internasional pertama Indonesia dengan Belanda tanpa intervensi negara mana pun yang cukup sukses, meski di dalam negeri Indonesia dan Belanda hasilnya mengundang reaksi ketidakpuasan. Parlemen Belanda menganggap hasil perundingan itu sebagai pengakuan Belanda atas keberadaan Indonesia secara de facto, sementara parlemen Indonesia menganggap perundingan tersebut lebih sebagai bentuk mengikuti kemauan pihak Belanda. Perundingan ini disebut Linggarjati, karena meski diawali pada 22 Oktober di Jakarta dan diakhiri juga di Jakarta pada 15 November 1946, dengan lebih kurang 11 perundingan dalam rentang waktu itu, tetapi keputusan penting diambil di Linggarjati, Kuningan, Jawa Barat.

Rentang waktu yang diisi dengan 11 perundingan menjadi bukti alotnya perundingan menuju kata sepakat. Tercapainya kesepakatan dalam perundingan yang sangat alot ini tidak bisa dilepaskan dari ‘campur tangan’ Sukarno-Hatta. Kedatangan Sukarno-Hatta di Linggarjati mulanya merupakan keinginan dari delegasi Belanda agar mereka datang. Padahal, keinginan ini sempat ditolak oleh Sjahrir yang merasa Sukarno-Hatta tidak perlu dilibatkan, karena mereka sudah memandatkan pada Sjahrir. Akhirnya, Sukarno-Hatta memang datang ke Kuningan. Pertemuan informal mereka dengan Van Mook menjadi titik penting tercapainya kesepakatan. Sukarno-Hatta menyetujui semua materi yang diusulkan pihak Belanda, padahal beberapa materi itu menurut Sjahrir masih perlu dibicarakan lebih lanjut. Pada akhirnya, Sjahrir patuh pada apa yang menjadi keputusan Sukarno-Hatta.

Penulis buku ini menyebut peran Sukarno begitu krusial, dan menjadi terobosan penting, karena jika ketika itu ia tidak putuskan, kemungkinan besar kegagalanlah yang akan dituai pihak Indonesia. Ini diplomasi internasional pertama pasca proklamasi, sementara posisi Indonesia masih lemah. Sukarno melihat masalah yang begitu krusial saat itu hanyalah pengakuan secara de facto atas Indonesia dari Belanda, dan itu sudah tertuang dalam klausul perundingan yang dibawa oleh pihak Belanda. Ketika perundingan ini disepakati, otomatis Indonesia secara de facto diakui, dan dengan demikian tentu saja ini menjadi modal besar dan membuat posisi Indonesia cukup kuat untuk melakukan diplomasi-diplomasi selanjutnya. Para akhirnya, semua melihat bahwa ini merupakan kemenangan diplomasi internasional Indonesia atas Belanda, dan menjadi awal lepasnya Indonesia dari kolonisasi Belanda.*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s