Menyelamatkan Bumi dari Kerusakan

Oleh : Fajar Kurnianto
Alumnus UIN Jakarta

Judul : Ratusan Bangsa Merusak Satu Bumi
Penulis : Emil Salim
Penerbit : Kompas, Jakarta
Tahun : I, Juni 2010
Tebal : xxiii+356

Revolusi industri pada abad ke-18 telah membuat perubahan yang begitu radikal dalam kehidupan umat manusia. Peran manusia sudah digantikan dengan mesin. Pembangunan dalam berbagai bentuknya dilakukan secara masif dan besar-besaran di berbagai penjuru dunia. Masyarakat dunia sudah membuka lembaran dan kisah baru. Bahwa kehidupan mereka jauh lebih baik, bahkan menjadi sangat maju dibandingkan dengan masa sebelumnya.

Akan tetapi, di balik berbagai kemajuan itu, muncul persoalan baru. Pembangunan di berbagai bidang melahirkan ancaman bagi kelangsungan hidup umat manusia. Ini memang konsekensi yang harus diterima, bahwa pembangunan selalu terkait dengan lingkungan hidup. Semakin masif pembangunan dilakukan, semakin lingkungan hidup tergerus dan menyempit satu demi satu. Kita bisa bayangkan bagaimana, misalnya, Jakarta tempo seratus tahun yang lalu, dengan sekarang. Belum lagi jika kita melihat bagaimana pembangunan pabrik-pabrik berlimbah yang mencemari lingkungan dan udara, yang sangat mempengaruhi iklim global, membuat cuaca seperti menentu. Dalam beberapa kesempatan, cuaca begitu ekstrim.

Tetapi, apakah dengan segala konsekuensi yang mengancam seperti itu pembangunan mesti dihentikan? Emil Salim dalam bukunya, Ratusan Bangsa Merusak Satu Bumi, ini menegaskan bahwa pembangunan tidak mesti dihentikan. Yang harus dilakukan, menurutnya adalah membuat peta pembangunan yang seimbang, dengan memerhatikan secara serius dampak bagi lingkungan hidup. Dengan kata lain, pembangunan apa pun itu mesti ramah lingkungan. Maka konsep penataan ruang dalam pembangunan mesti dibuat secara benar-benar matang.

Dalam buku ini, Emil Salim merasa begitu miris melihat bagaimana pembangunan yang justru merusak dan mencemari lingkungan hidup, sehingga sangat berbahaya bagi kehidupan umat manusia nantinya. Bayangkan, seperti ditulis dalam buku ini, dalam dua ratus tahun terakhir, seluruh negara di dunia membangun dengan merusak bumi yang hanya satu-satunya ini. Pemanfaatan tanpa batas minyak bumi dan batu bara sebagai penggerak utama pembangunan tanpa disadari telah menaikkan pelepasan gas rumah kaca (GRK) dari hanya 280 ppm pada masa sebelum revolusi industri (1780) menjadi 380 ppm. Inilah biang keladi terjadinya proses pemanasan global dan perubahan iklim yang mengancam dunia.

Melalui buku ini, Emil Salim yang pada masa Presiden Soeharto diberi mandat untuk menjadi Menteri Lingkungan Hidup, memberikan cukup banyak gagasan-gagasan progresif tentang pengelolaan lingkungan hidup demi menyelamatkan bumi dari kehancuran. Tidak hanya gagasan yang berupa kritik terhadap negara-negara maju yang menjadi penyumbang terbesar perusakan lingkungan hidup di bumi, tapi juga solusi dan rekomendasi yang mendorong umat manusia untuk melihat secara serius dan ikut berperan aktif menyelamatkan bumi.

Manusia adalah aktor utama perusak lingkungan hidup yang membawa bencana. Maka untuk mengurangi kerusakan lingkungan hidup, perilaku manusia sangat perlu diubah, dari perusak menjadi pelestari alam dengan cara menumbuhkan kembali ikatan manusia dalam jejaring kehidupan sosial yang serasi dengan jejaringan kehidupan lingkungan alam. Sehingga, pada gilirannya, pembangunan yang dilakukan oleh umat manusia ramah terhadap lingkungan, dan lingkungan pun ramah terhadap umat manusia. Karena apa yang dilakukan oleh umat manusia saat ini dampaknya akan dirasakan oleh generasi selanjutnya.*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s