Historiografi Tanah Rengasdengklok

Oleh : Fajar Kurnianto
Alumnus UIN Jakarta

Judul : Rengasdengklok; Revolusi dan Peristiwa 16 Agustus 1945
Penulis : Her Suganda
Penerbit : Kompas, Jakarta
Tahun : I, Agustus 2009
Tebal : xxxviii+242 hlm

Rengasdengklok di era perjuangan kemerdekaan Indonesia hanya sebuah kota kecil di Karawang. Tetapi, kota ini pernah menorehkan peristiwa penting dalam belantika sejarah nasional. Peristiwa dramatis yang tidak akan pernah terlupa, meski di buku-buku sejarah tidak banyak diulas secara mendalam dan meluas. Peristiwa penting karena sehari setelah peristiwa itu, bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya, lepas dari segala penjajahan negara mana pun.

Buku berjudul Rengasdengklok; Revolusi dan Peristiwa karya Her Suganda ini bercerita tentang Rengasdengklok sebagai tempat penting yang mencerminkan dinamika, sikap, dan semangat para pemuda di Jakarta ketika itu. Para pemuda mendesak Sukarno dan Hatta agar cepat menyatakan kemerdekaan Indonesia setelah mendengar menyerahnya Jepang pada Sekutu, sebelum Sekutu datang dan Jepang menyerahkan Indonesia kepada Sekutu sebagai inventaris. Desakan yang sama Sjahrir lakukan sebelum itu. Sementara Sukarno dan Hatta, karena sudah membentuk PPKI, mereka tidak bisa begitu saja meninggalkannya.

Pagi itu, tanggal 16 Agustus 1945. Selepas makan sahur, Sukarno dan Hatta, beserta Fatmawati, istri Sukarno dan juga Guntur, anak Sukarno, yang masih kecil, dibawa ke Rengasdengklok oleh para pemuda di bawah komando Sukarni. Malam sebelumnya, 15 Agustus, terjadi perdebatan antara para pemuda dengan Sukarno. Diwakili oleh Wikana, para pemuda itu mendesak Sukarno untuk segera mengumumkan kemerdekaan pada malam itu juga, karena dikhawatirkan akan terjadi pertumpahan darah di Jakarta, seiring kabar menyerahnya Jepang kepada Sekutu sudah tersebar luas.

Mendengar tuntutan itu, Sukarno naik pitam, lalu mengatakan, “Ini leher saya, seretlah ke pojok itu, sudahilah nyawa saya malam ini juga, jangan menunggu sampai besok!” Mendengar itu, Wikana terperanjat, lalu buru-buru menanggapi, “Maksud kami bukan mau membunuh Bung, melainkan kami mau memperingatkan, apabila kemerdekaan Indonesia tidak dinyatakan malam ini juga, besok rakyat akan bertindak dan membunuhi orang-orang yang dicurigai, yang dianggap pro-Belanda.”

Tanggal 16 Agustus siang hari, Jakarta tidak terjadi apa-apa. Tidak ada revolusi atau pertumpahan darah seperti yang digembar-gemborkan oleh para pemuda itu. Akhirnya, Sukarno dan Hatta pun dibawa kembali ke Jakarta. Selama di Rengasdengklok, di asrama PETA, yang selanjutnya menumpang di rumah Djiau Kie Siong, tidak ada aktivitas yang berarti dilakukan oleh Sukarno dan Hatta. Menariknya, pada tanggal itu, di kawedanan berlangsung upacara penurunan bendera Jepang, Hinomaru, yang diikuti oleh penaikan Sang Saka Merah Putih. Peristiwa itu dilanjutkan dengan pernyataan kemerdekaan oleh camat setempat.

Setibanya di Jakarta, Hatta meminta Soebardjo untuk mengontak Hotel des Indes tempat para anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dibentuk tanggal 7 Agustus 1945, untuk mengadakan rapat di sana. Namun, hotel itu sudah tutup, karena sudah jam 22.00. Akhirnya, tempat rapat pun berpindah ke rumah Laksamana Maeda, orang Jepang yang simpati terhadap perjuangan Indonesia. Di tempat inilah rumusan teks Proklamasi dibuat, yang kemudian pada pagi harinya sekitar pukul 10.00 dibacakan oleh Sukarno di rumahnya, di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, akibat rencana pembacaan di lapangan Ikada bocor, sehingga tidak jadi di situ.

Tidak hanya peristiwa bersejarah, Rengasdengklok juga menyimpan berbagai tanda tanya yang hingga kini masih misterius. Ini jika dilihat bahwa ketika itu Indonesia belum merdeka, sehingga siapa pun berpotensi menjadi pemimpin tertinggi dan pertama untuk sebuah negara yang baru merdeka nantinya. Ketika itu, pendulum pergerakan Indonesia berada di dua arus utama: pertama, pendulum Sukarno dan Hatta yang bergerak di ‘atas tanah’; dan kedua, pendulum Sutan Sjahrir dengan kaum muda seperti Sukarni, Wikana, Darwis, dan Chaerul Saleh, yang melakukan gerakan di ‘bawah tanah’. Kabar kekalahan demi kekalahan yang diderita Jepang dari Sekutu, hingga menyerahnya Jepang kepada Sekutu dengan dibomnya Hiroshima dan Nagasaki, juga berasal dari Sjahrir, karena hanya dia yang memiliki radio penerima siaran luar negeri.

Di ambang kekalahan dan menyerahnya Jepang, seluruh siaran radio luar negeri di Indonesia diblokir, sehingga orang-orang Indonesia tidak ada yang tahu. Hanya Sjahrir dan kelompoknya yang tahu, dan selalu memberi tahu pada Sukarno dan Hatta. Dan, ketika Jepang benar-benar sudah kalah, Sjahrir dan kelompoknya mendesak Sukarno untuk menyatakan kemerdekaannya sendiri, tidak perlu melalui PPKI yang dicurigai membawa misi Jepang. Karena ngotot menolak, Sukarno dan Hatta dibawa oleh Sukarni ke Rengasdengklok, sekaligus memperlihatkan kepada mereka bahwa Indonesia ‘telah merdeka’ dengan diturunkannya bendera Jepang dan diganti dengan bendera merah putih. Pernyataan kemerdekaan yang masih ‘lokal’ namun cukup membuat Sukarno dan Hatta menyadari betul perlunya percepatan pernyataan kemerdekaan Indonesia secara nasional.

Ancaman akan adanya revolusi berdarah-darah di Jakarta yang dijadikan alasan membawa Sukarno-Hatta ke Rengasdengklok mungkin saja memang ada, selain sebagai bentuk bentuk tekanan psikologis-politis terhadap Sukarno-Hatta. Jika memang demikian adanya, berarti rencana revolusi yang dipropagandakan oleh kaum muda itu gagal, karena ternyata memang tidak ada revolusi. Orang-orang PETA di Jakarta sendiri sudah kompak untuk tidak akan mematuhi perintah selain perintah dari Sukarno-Hatta. Inilah dinamika pemikiran kaum muda yang mencoba mengambil alih tampuk kepemimpinan ketika orang-orang yang lebih tua dari mereka terlihat kompromistis dengan Jepang, padahal tidak demikian kenyataannya.

Kaum muda mencoba melakukan pertaruhan politik dengan dua tokoh yang lebih senior dan sudah dikenal publik. Rupanya, semangat kaum muda belum cukup menjadi modal untuk ‘merebut’ simpati publik dan ‘mengalahkan’ pamor mereka berdua. Tetapi, meski demikian, apa yang dilakukan oleh kaum muda terhadap Sukarno-Hatta membuahkan hasil sangat signifikan dan krusial. Bukan revolusi berdarah-darah di Jakarta, tapi percepatan pernyataan kemerdekaan Indonesia. Hal yang memang sesungguhnya diinginkan oleh kaum muda. Sayangnya, pada saat pembacaan proklamasi, Sjahrir tidak tampak di samping Sukarno. Hanya Hatta yang tampak. Apakah Sjahrir kecewa revolusinya ‘gagal’?

Buku ini tidak hanya bercerita soal peristiwa Rengasdengklok tanggal 16 Agustus 1945, tapi juga cerita-cerita lain seputar Rengasdengklok yang tidak banyak diulas, seperti Rengasdengklok di masa lalu dengan keberadaan Candi Batujaya dan Cibuaya, tangsi dan asrama PETA wilayah Karawang, kisah pertempuran Suroto Kunto, Kapten Lukas, Kustarjo dan pasukannya—Rawagede banjir darah dibantai oleh Belanda, “Gedong Jangkung” tempat para pejuang disiksa Jepang, hingga peristiwa Huru-hara 30 Januari 1997 yang dipicu oleh isu SARA dan ketimpangan sosial, dan tentang nasib pembangunan Monumen Rengasdengklok. Menarik disimak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s