Pluralisme dalam Pemikiran Sufisme

Oleh : Fajar Kurnianto
Koran Jakarta, Kamis 13 Oktober 2011

Judul : Satu Tuhan Banyak Agama
Penulis : Media Zainul Bahri
Penerbit : Mizan, Bandung
Tahun : I, Agustus 2011
Tebal : xvi+536 Halaman

Pluralisme agama masih menarik dibicarakan, tidak hanya di tataran wacana (pemikiran), tapi juga di tataran praksis. Jika mencermati kondisi keberagamaan konteks negeri ini, kekerasan suatu kelompok terhadap kelompok lain yang keyakinannya berbeda meski agamanya sama, atau terhadap kelompok penganut agama lain, masih terjadi. Tindakan-tindakan intoleransi dan diskriminasi terutama terhadap umat beragama minoritas juga masih terjadi. Padahal, meskipun agama itu berbeda-beda, tapi sesungguhnya memiliki titik persamaan di ranah transendental yang menyatukan.

Pluralisme agama berupaya menjelaskan titik persamaan itu, yakni penyembahan terhadap Tuhan yang sebetulnya sama. Namun, alih-alih, paham ini justru dianggap sesat dan produk asing yang ingin menghancurkan dan mengacau-balaukan keyakinan atau akidah umat beragama.

Buku karya Media Zainul Bahri yang diangkat dari disertasi doktoralnya ini mencoba menilik persoalan pluralisme agama atau wahdatul adyan dalam tradisi pemikiran sufisme terutama dari tiga tokoh sufi besar dan ternama: Ibnu Arabi, Jalaluddin Rumi, dan Al-Jili. Mereka memang tidak menyebutkan istilah pluralisme agama, bahkan tidak menyebut satu pun istilah wahdatul adyan (kesatuan agama-agama). Namun, dari karya-karya mereka tersirat pesan ke arah itu.

Menurut Media, pemikiran pluralisme agama dari ketiga sufi itu antara lain berakar dari konsepsi mereka tentang tajalli (penampakan) Tuhan. Konsep ini sebenarnya hampir umum dikenal dalam pemikiran-pemikiran sufi selain mereka. Konsep tajalli bahkan menjadi keseluruhan bangunan pemikiran Ibnu Arabi dan teorinya. Konsep ini bermula dari pandangan bahwa Tuhan menciptakan alam agar dapat melihat diri-Nya dan memperkenalkan diri-Nya melalui alam. Alam adalah cermin bagi Tuhan. Melalui cermin itulah Dia mengenal dan memperkenalkan wajah-Nya. Tajalli adalah proses bahwa Dia menampakkan diri dalam beragam bentuk, pemikiran, dan keyakinan yang tak terbatas.

Pemikiran Rumi tentang tajalli Tuhan hampir sama dengan Ibnu Arabi. Beberapa peneliti menyebut Rumi terpengaruh Ibnu Arabi. Menurut Rumi, Tuhan menampakkan diri-Nya pada ribuan cara dan bentuk, serta selalu hadir di setiap saat pada ribuan cara yang berbeda pula (hlm 180). Umat manusia sesungguhnya menyembah Tuhan yang sama, namun kebanyakan mereka lebih condong kepada bentuk-bentuk yang tidak esensial dan sering berselisih karena persoalan itu dan hal-hal lain yang sepele. Rumi juga membedakan secara tajam antara bentuk dan makna. Bentuk adalah luar (eksoteris), sementara makna adalah dalam atau hakikat (esoteris).

Al-Jili, seperti dua sufi sebelumnya, juga bicara tentang tajalli Tuhan. Ia juga disebut-sebut terpengaruh pemikiran Ibnu Arabi. Menurutnya, alam semesta secara total adalah hamba (abdi) Tuhan yang diciptakan-Nya dengan natur demikian. Karena itu, tidak satu pun di alam semesta ini yang tidak mengabdi kepada Tuhan. Keyakinan, ritus atau ibadah, dan model-model keberagamaan umat manusia berbeda-beda, tak lain karena perbedaan pengaruh nama dan sifat-sifat Tuhan pada makhluk sebagai wadah tajalli-Nya (hlm 258).

Pada akhirnya, buku ini mengajak kita untuk melihat perbedaan agama secara bijaksana sehingga menumbuhkan toleransi terhadap agama lain. Karena pada hakikatnya, masing-masing agama menyembah Tuhan yang sama dengan ekspresi atau ritus-ritus penyembahan terhadap Tuhan yang berbeda-beda. Perbedaan itu hanya terletak pada sisi lahiriah (eksoteris), tapi tidak pada sisi batiniah (esoteris). Di titik esoteris inilah semua agama bertemu. Ini mestinya yang menjadi pegangan umat beragama dalam melihat agama lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s