Militerisme di Bumi Papua

Oleh : Fajar Kurnianto
Koran Jakarta, Kamis 20 Oktober 2011

Judul : Sekuritisasi Papua, Implikasi Pendekatan Keamanan terhadap Kondisi HAM di Papua
Penulis : Al Araf, Anto Aliabbas, Ardi Manto, dkk.
Penerbit : Imparsial, Jakarta
Tahun : I, Juni 2011
Tebal : xxxii+364 halaman

Bumi Papua, wilayah Indonesia paling ujung di sebelah timur, seperti tidak pernah sepi dari pergolakan, dalam kadar intensitas dan wujud yang berbeda-beda. Sejak rezim Orde Lama (Orla), Orde Baru (Orba), sampai Orde Reformasi, pergolakan belum terselesaikan secara tuntas. Suara yang menuntut Papua merdeka selalu terdengar, terutama menjelang hari Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus.

Buku yang merupakan hasil laporan tim Imparsial ini secara cukup luas mengungkap bagaimana pendekatan keamanan di Papua ini ternyata tidak menyelesaikan masalah, bahkan mengawetkan pergolakan itu, dan pelanggaran Hak-hak Asasi Manusia (HAM). Papua cenderung lebih dilihat sebagai wilayah berbahaya, sehingga harus ditangani dengan model pendekatan itu. Berbahaya, wilayah ini dikhawatirkan lepas dari Indonesia dengan adanya gerakan perlawanan bersenjata yang menuntut kemerdekaan, sehingga mengabaikan pendekatan lebih persuasif non militer.

Kekhawatiran lepasnya Papua bisa jadi cukup beralasan. Dalam sejarahnya, upaya pengembalian Papua (sebelumnya bernama Irian Barat) ke wilayah Indonesia itu sendiri melalui konfrontasi militer dengan Belanda, sebelum akhirnya pada 1 Mei 1963 Papua diserahkan oleh UNTEA (United Nations Temporary Executive Authority) kepada Indonesia.

Selanjutnya, melalui Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) pada 14 Juli hingga 2 Agustus 1969, Papua resmi masuk dalam wilayah Indonesia, yang kemudian dikukuhkan oleh Majelis Umum PBB melalui Resolusi Nomor 2504 dalam sidang 19 November 1969.

Secara de facto dan de jure, Papua menjadi wilayah Indonesia. Tetapi, tidak serta merta keadaan kemudian berjalan mulus. Tidak semua warga Papua ingin bergabung dengan Indonesia. Mereka inilah yang hingga kini, melalui berbagai cara, baik itu propaganda di dunia internasional, maupun dengan membentuk gerakan-gerakan separatis, seperti OPM (Organisasi Papua Merdeka), terus melakukan perlawanan dan tak kunjung padam.

Sayangnya, buku ini tidak menyinggung kemungkinan adanya kepentingan asing yang terus memainkan isu Papua sebagai harga tawar politik-ekonomi dengan Indonesia,

Pendekatan keamanan atau penggunaan cara-cara militeristik dalam penyelesaian masalah memang selalu punya implikasi buruk berantai yang efeknya sangat luas dan menyisakan luka yang dalam begitu lama. Berbagai pelanggaran HAM, seperti pembunuhan, pemerkosaan, pelecehan seksual, penyiksaan, penghilangan paksa, tindak-tindak kekerasan terhadap warga yang diduga anggota separatis, menjadi warna tragis penanganan Papua, yang justru memukul balik. Gerakan OPM, dengan dalih telah terjadi banyak pelanggaran HAM berat seperti itu, semakin gencar mengampanyekan Papua merdeka ke dunia internasional. Harga yang harus dibayar memang sangat mahal, setidaknya risiko yang harus ditanggung pemerintah Indonesia terlalu besar jika pendekatan militeristik ini terus dilakukan.

Pemerintah mestinya menempuh jalan lain yang lebih persuasif dan manusiawi. Seperti disebutkan di buku ini, berbagai persoalan Papua harus diselesaikan secara damai, aparat militer di Papua perlu dikurangi, impunitas atas pelanggaran HAM yang terjadi perlu dihilangkan, pengawasan publik dan otoritas sipil perlu ditingkatkan, pemerataan pembangunan dan kesejahteraan rakyat juga harus lebih diperhatikan.

Lebih dari itu, di tubuh militer (TNI) sendiri perlu dilakukan reformasi sehingga kebijakan keamanan di Papua lebih manusiawi, tanpa kekerasan, tanpa represi. Meski terkesan sangat memojokkan militer dengan mengungkap berbagai pelanggaran HAM, buku ini menjadi bahan penting bagi pemerintah sekarang dan selanjutnya untuk tidak melakukan hal yang sama, tidak hanya di Papua, tapi juga di daerah lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s