Memetakan Politik Indonesia dari Sisi Islam

Oleh : Fajar Kurnianto
Majalah GATRA, 13 – 19 Oktober 2011

Judul : Ideologi Islam dan Utopia, Tiga Model Negara Demokrasi di Indonesia
Penulis : Luthfi Assyaukanie
Penerbit : Freedom Institute, Jakarta
Tahun : I, Agustus 2011
Tebal : xviii+331 Halaman

Disertasi Luthfi Assyaukanie di Universitas Melbourne yang membedah pergulatan pemikiran para pemimpin Islam Indonesia tentang negara dan demokrasi. Melahirkan tiga model negara.

Polemik seputar hubungan Islam, negara, dan demokrasi telah melahirkan perbedaan pandangan di antara para tokoh Indonesia. Perbedaan pandangan itu bahkan telah memicu pergulatan yang hangat dari masa sebelum kemerdekaan hingga kini. Selain itu, juga memunculkan beberapa kutub yang kemudian dapat dipetakan.

Luthfi Assyaukanie menyajikan pergulatan pemikiran tersebut dalam rentang sejarah Indonesia dikaitkan dengan wacana demokrasi. Buku yang awalnya merupakan disertasi di Universitas Melbourne, Australia, ini berusaha memetakan wujud pergulatan pemikiran itu ke dalam tiga model negara demokrasi. Yaitu negara demokrasi Islam (NDI), negara demokrasi agama (NDA), dan negara demokrasi liberal (NDL).

Model NDI diusung terutama oleh Mohammad Natsir, tokoh paling penting “mazhab” ini. Tidak hanya orang pertama yang memperkenalkan istilah negara demokrasi Islam, melainkan juga pemimpin yang paling konsisten mendukung gagasan itu. Tokoh lainnya adalah Zainal Abidin Ahmad, Sjafruddin Prawiranegara, Mohamad Roem, Abu Hanifah, Hamka, dan Mohammad Rasjidi. Mereka semua adalah tokoh Masjumi. Sejumlah kecil pendukung model ini berasal dari Nahdlatul Ulama (NU), seperti Wachid Hasjim, Idham Chalid, Imron Rosjadi, dan Mohammad Dahlan.

Pada dasarnya, penjabaran demokrasi model ini, menurut Luthfi, terletak pada dua prinsip utama. Pertama, negara Islam bukan negara teokrasi. Kedua, negara Islam menentang negara sekuler. Yang pertama berarti bahwa tidak ada penyatuan agama dengan negara di bawah elite negara. Sedangkan pada prinsip kedua tidak ada pemisahan agama dan negara di bawah pemerintahan sekuler.

Lalu model NDA secara umum merupakan upaya generasi muda muslim santri untuk membenarkan atau menjustifikasi model pemerintahan rezim Orde Baru (Orba). Beberapa tokoh pendukung model ini oleh Luthfi Assyaukanie dikategorikan sebagai pendukung ataupun penentang (oposisi) Soeharto. Tercatat nama Mohammad Sjafaat Mintaredja dan Abdul Mukti Ali sebagai pendukung model ini yang sekaligus pendukung Soeharto. Sementara itu, dari kalangan oposisi, ada Lukman Harun dan Djarnawi Hadikusumo.

Penolakan terhadap sekulerisme, yang berakar pada keyakinan muslim bahwa Indonesia adalah negeri religius yang rakyatnya sangat menghargai nilai-nilai agama. Penolakan terhadap sekulerisme adalah prasyarat mutlak untuk membangun model ini. Isu utama yang banyak dibahas dalam model ini adalah soal hubungan agama-negara.

Model ketiga, NDL, antara lain diusung para pemikir Islam liberal, misalnya Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Tiga tokoh ini dianggap sebagai pemimpin liberal muslim. Peran mereka sangat penting dalam menyebarkan pandangan liberal di kalangan muslim Indonesia.

Fondasi model ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan fondasi model kedua. Perbedaannya, menurut Luthfi Assyaukanie terletak pada cara memandang dan memahami isu hubungan agama-negara. Model kedua sangat menjunjung peran agama dalam negara. Sedangkan model ketiga percaya pentingnya memisahkan dua wilayah itu. Dalam istilah Nurcholis, sekulerisasi. Namun, konsep ini tidak begitu jelas dan banyak orang menolak penerapannya dalam konteks Islam.

Melalui pemetaan pemikiran Islam dalam tiga model itu, Luthfi ingin menjelaskan tentang model yang ideal untuk Indonesia. Model pertama, menurut dia telah gagal, sebagaimana terbukti lewat pemilihan umum. Partai-partai Islam banyak menuai kekalahan, dan model itu pada saat ini hanya disuarakan sekelompok kecil umat Islam.

Model kedua berjaya selama rezim Orde Baru, tapi mendapat tantangan serius pasca-kejatuhannya. Ada harapan bagi model ketiga untuk mengambil alih, walau, sayangnya, belum sepenuhnya diterima masyarakat. Belum lagi harus menghadapi kelompok radikal yang menentang mereka. Tapi, secara umum, masa depan model ketiga cukup terbuka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s