Negara di Tengah Pusaran Globalisasi

Oleh : Fajar Kurnianto
Bisnis Indonesia, Minggu 2 Oktober 2011

Judul : Negara Centeng, Negara dan Saudagar di Era Globalisasi
Penulis : I Wibowo
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta
Tahun : I, Juli 2010
Tebal : viii+270 halaman

Globalisasi adalah kenyataan tak terelakkan yang mau tidak mau harus dihadapi umat manusia pada abad ini. Ide dasarnya adalah kebebasan (liberalisme). Bahwa masing-masing individu bebas mengembangkan potensi dan kemampuannya untuk berusaha dan menciptakan sesuatu tanpa dibelenggu oleh berbagai batas yang selama ini menjadi penghalang.

Salah satunya adalah batas negara-bangsa (state-nation). Globalisasi mencoba melenyapkan batas-batas negara, bahkan berusaha melenyapkan negara itu sendiri, demi kebebasan, di dunia yang dalam bahasa Thomas Friedman disebut dengan flat (datar).

Ekonomi menjadi kekuatan dominan dalam era globalisasi. Para pelaku ekonomi, yaitu para saudagar, para pelaku ekonomi perusahaan-perusahaan multinasional (MNC/Multinational Corporations), menjadi kekuatan yang daya jangkaunya melewati batas-batas negara, bahkan meminggirkan peran negara, atau meminimalisasinya.

Negara menjadi tidak berdaya, tunduk di bawah kekuatan mereka. Efeknya sangat dahsyat. Warga yang ada di bawah kekuasaan negara menjadi korban utamanya. Tunduknya negara pada kekuatan ekonomi dunia yang tak tersekat membuat negara kemudian tampil tidak lagi melindungi warganya, tapi melindungi para saudagar itu. Negara menjadi centeng atau satpam untuk menjaga kepentingan ekonomi mereka.

Buku I Wibowo ini mengungkap secara luas bagaimana wajah globalisasi, khususnya dalam bidang ekonomi, telah memberikan efek sangat dahsyat terhadap negara-negara di dunia dan masyarakatnya.

Dulu, negara dibentuk untuk mengorganisasi dan melindungi masyarakat dalam suatu wilayah tertentu dengan tujuan menciptakan kesejahteraan hidup mereka. Tapi, dalam perkembangan mutakhirnya, atas nama kebebasan, dalam hal ekonomi terutama, globalisasi terjadi, pasar bebas pun terbuka. Mitosnya, pasar bebas bisa menciptakan kesejahteraan warga dunia, karena pasar bebas memungkinkan tersebar dan meratanya keuntungan ekonomi di berbagai belahan dunia.

Akan tetapi, mitos itu dalam kenyataannya harus lebih dahulu berhadapan dengan eksistensi negara yang sudah terbentuk dengan segala perangkat dan sistemnya. Dua kepentingan kemudian berbenturan: kepentingan ekonomi pasar bebas yang dijalankan para saudagar, perusahaan-perusahaan multinasional, di satu sisi menginginkan tidak adanya pembatasan dalam aktivitas ekonominya karena orientasi keuntungan ekonomi yang dikejarnya, dan di sisi lain negara yang berkewajiban untuk melindungi warganya dan menjamin kesejahteraan hidup mereka.

Tapi, ironisnya, negara tidak memiliki cukup dana untuk itu, sementara para saudagar itu memilikinya, bahkan lebih banyak. Negara tidak bisa membangun tanpa dana yang itu banyak diperoleh dari masuknya para saudagar tadi ke wilayah negara dengan tanaman investasinya.

Dalam benturan ini, sering kali negara yang kalah. Baik karena terancam akan ditinggalkan para investor, maupun karena tidak kuasa diiming-imingi uang suap. Dua hal ini membuat negara pada akhirnya tunduk dan meladeni kepentingan para saudagar.

Tunduknya negara berarti pesta-pora bagi para saudagar. Sektor-sektor ekonomi negara dikuasai MNC, hingga perusahaan-perusahaan milik negara (BUMN) diprivatisasi. Warga negara yang kemudian menjadi korban utama, karena sektor-sektor ekonomi yang seharusnya melibatkan mereka dikuasai perusahaan-perusahaan multinasional. Ini terjadi di hampir semua sektor ekonomi, bahkan hingga pasar uang yang efeknya bisa benar-benar menggoyang ekonomi banyak negara, mengakibatkan terjadinya krisis ekonomi global.

Harapan warga terhadap negara seperti musnah, karena negara sudah tidak lagi menjadi pelindung mereka, tapi pelindung atau centeng bagi para saudagar. Kedaulatan negara benar-benar dalam masalah serius.

Peran negara kemudian dipertanyakan. Paling tidak, secara realistis dapat disebut bahwa negara menghadapi tantangan berat. Di satu sisi, negara ditantang untuk bisa melakukan negosiasi dengan kekuatan-kekuatan ekonomi multinasional, di satu sisi negara ditantang untuk tidak mengabaikan peran sejatinya sebagai pelindung dan penjaga kepentingan masyarakatnya.

Bagaimana negara tetap berwibawa, berdaulat, dan kuat, tidak menjadi centeng kekuatan ekonomi multinasional, tapi justru memanfaatkan mereka untuk kepentingan masyarakatnya. Menantang para saudagar multinasional tidak harus dengan cara ekstrem menutup atau mengisolasi diri, seperti beberapa negara di Amerika Latin yang tidak mau menerima investor asing. Juga tidak tidak terlalu terbuka hingga menjadi bulan-bulanan dan centeng bagi para saudagar multinasional yang berarti mengorbankan masyarakat.

Intinya negara harus kuat jika ingin membendung efek negatif globalisasi terhadap masyarakatnya. Itu berarti negara harus tetap eksis. Negara tidak boleh lenyap karena globalisasi.

Demokrasi menjadi modal utama penyokong eksistensi ini. Tapi negara tidak bisa berdiri sendiri. Gerakan global civil society (GSC) bisa menjadi partner di luar negara yang jangkauannya lintas negara untuk menetralisir jejaring kekuasaan globalisasi dengan terus menuntut dilaksanakannya nilai-nilai seperti hak asasi manusia, lingkungan, dan pembangunan, sekaligus menantang struktur ekonomi global baru di bawah WTO, World Bank, dan IMF.

PBB juga bisa mengambil peran untuk menjaga stabilitas dan keadilan dunia. Jika Kenichi Ohmae mengatakan bahwa akibat dari globalisasi adalah The End of the Nation State, maka sekarang orang mulai bicara The Return of the State, karena negara, kata I Wibowo, tetap diperlukan, tapi bukan negara fasis, otoriter, atau komunis. Banyak negara kuat dengan sistem demokrasi bagus, dan berhasil menciptakan welfare state di tengah globalisasi ekonomi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s