Menjawab Problem Lewat Teori Ideologi

Oleh : Fajar Kurnianto
Koran Jakarta, Rabu 14 Desember 2011

Judul : Setelah Marxisme; Sejumlah Teori Ideologi Kontemporer
Penulis : Donny Gahral Adian
Penerbit : Koekoesan, Depok
Tahun : I, Juni 2011
Tebal : vii+173 halaman

Bicara teori-teori ideologi, nama Karl Marx (1818-1883), filosof pembangun pemikiran Marxisme, tidak bisa dilewatkan. Teori ideologi sendiri bermula dari Marxisme, yang kemudian dalam perkembangannya dikritik filosof-filosof belakangan karena dinilai abstrak, terutama yang terkait dengan teori kesadaran palsu yang dibangunnya.

Bahkan, ada kesan bahwa teori-teori ideologi kontemporer setelah Marxisme menyudahi dan meninggalkan teori ideologi Marxisme yang melihat ideologi sebagai kesadaran palsu. Buku Donny Gahral Adian, dosen filsafat di Universitas Indonesia (UI), ini memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai perkembangan teori-teori ideologi setelah Marxisme dari para filosof seperti Georg Lukacs (1885-1971), Antonio Gramsci (1891-1937), Theodor W Adorno (1903-1969), Louis Althusser (1918-1990), Slavoj Zizek, Terry Eagleton, Jurgen Habermas, Roland Barthes (1915-1980), dan Michel Foucault (1926-1984).

Ideologi sendiri, seperti disebutkan di glosarium buku ini, dari bahasa Yunani, idea (ide atau gagasan), dan logos (ilmu pengetahuan tentang sesuatu). Secara harfiah, ideologi merupakan ilmu pengetahuan tentang asal-usul sebuah ide.

Secara peyoratif, ideologi dimaknai sebagai teoretisasi atau spekulasi dogmatik dan khayalan kosong yang tidak benar atau palsu. Ideologi sering digunakan untuk menutupi realitas (hlm 163). Marxisme mengawali teori ideologi dengan menyebutnya sebagai kesadaran palsu.

Gagasan, menurut Marxisme, tidak pernah netral. Ia selalu menyimpan kontradiksi, kepentingan kelompok berkuasa atau dominan. Ideologi Marx, menurut Donny, menekankan realitas materi sebagai titik tolak dari ilmu pengetahuan, tapi realitas materi itu juga dipahami sebagai sejarah yang dibuat manusia sehingga mudah diubah dengan aktivitas manusia sendiri.

Bagi Marx, kesadaran tidak pernah menjadi bentuk lain selain dari eksistensi-eksistensi manusia dalam proses hidup mereka yang sesungguhnya (hlm 16-17). Lukacs, misalnya, sedikit berbeda dengan Marx dalam melihat ideologi. Jika Marx menyebut ideologi sebagai kesadaran palsu, Lukacs melihat kesadaran palsu sebetulnya hanya masalah persepsi atau masalah pengetahuan.

Lukacs justru menawarkan ideologi sebagai sebagai solusi bagi masalah tersebut. Menurutnya, struktur masyarakat kapitalis yang irasional memproduksi kebutuhan teori-teori guna menjelaskan kebingungan dan kegilaan yang muncul di permukaan masyarakat kapitalis.

Gramsci kemudian muncul dengan Teori Hegemoni. Baginya, ideologi tidak hanya tumbuh dan bekerja dalam kelas buruh yang didominasi oleh kelas pemilik modal seperti dikatakan oleh Marxisme, tapi juga dapat berlangsung di setiap aspek kehidupan, mulai dari keluarga, lembaga agama, budaya politik, media massa, dan seterusnya, melalui mekanisme “hegemoni” (hlm 41).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s