Heroisme Anak-anak Laut Makassar

Oleh : Fajar Kurnianto
Bisnis Indonesia, Minggu 10 Juli 2011

Judul : Perang Makassar 1669; Prahara Benteng Somba Opu
Penulis : SM Noor
Penerbit : Kompas, Jakarta
Tahun : I, April 2011
Tebal : liv+216 halaman

Sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonial Belanda (VOC/ Vereenigde Oostindische Compagnie) pada zaman dahulu selalu menarik diceritakan sebagai bahan perenungan, pelajaran, dan inspirasi, selain tentu saja menjadi wawasan bagi bangsa saat ini, terutama untuk generasi mudanya. Selalu ada nilai-nilai sejarah yang bisa diaktualisasikan untuk saat ini. Di antaranya, spirit membela tanah air, membela hak dari kezaliman, serta melawan segala bentuk monopoli, kecurangan, dan ketidakadilan.

Salah satu sejarah perjuangan bangsa yang sangat heroik dan sarat dengan nilai-nilai itu ditunjukkan oleh orang-orang Makassar yang dikenal sebagai ‘anak-anak laut’ pemberani. Dari dulu, orang-orang Makassar memang dikenal sebagai pelaut-pelaut yang ulung dan pemberani. Armada laut Kerajaan Butta Gowa (Makassar) di bawah Raja Hasanuddin pada abad ke-17 sangat ditakuti VOC. Beberapa kali pertempuran di laut, VOC kalah. Tidak hanya armada lautnya, tapi juga benteng Kerajaan Gowa yang sangat tangguh bernama Somba Opu.

Sejarah perjuangan orang-orang Makassar yang dinovelkan SM Noor ini berlatar belakang perang Makassar pada abad ke-17. Novel ini diprologi dengan kisah seorang putra Raja Bira bernama I Makkuruni yang berhasil menenggelamkan lima kapal VOC di laut Bone dalam sebuah patroli laut Kerajaan Gowa.

Keberhasilan ini melambungkan namanya di seantero Kerajaan Gowa, sampai-sampai ia diberi kehormatan untuk menghadap langsung Raja Hasanuddin dan menjadi orang kepercayaan putra raja, Karaeng Issong. Tidak hanya itu, ia bahkan menarik hati putri raja, I Patimang, karena sikapnya yang sopan santun, rendah hati, dan setia terhadap Raja Gowa, meski ia seorang kesatria tangguh.

Perang paling dahsyat dalam novel ini dikisahkan terjadi di laut Banda. Pada perang ini, VOC menjalin kerjasama dengan tiga kerajaan yang memang tidak suka dengan Kerajaan Gowa, yakni Kerajaan Bone, Buton, dan Ambon. Perang ini dipicu oleh kemarahan VOC di Batavia karena kapal-kapal VOC yang tengah menuju Fort Rotterdam di Jumpandang (Ujungpandang) disergap tentara Kerajaan Gowa di bawah pimpinan Karaeng Issong dan I Makkuruni hingga menewaskan Kolonel Van Den Lubbers, yang memimpin rombongan kapal-kapal VOC itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s