Pasar Bebas dalam Petualangan Jonathan

Oleh : Fajar Kurnianto
Bisnis Indonesia, Minggu 12 Juni 2011

Judul : Petualangan Jonathan Gullible; Sebuah Odisei Pasar Bebas
Penulis : Ken Schoolland
Penerbit : Freedom Institute, Jakarta
Tahun : I, Oktober 2010
Tebal : xiv+322 halaman

Sistem ekonomi pasar bebas (ekonomi liberal) sering kali dicap sebagai biang kerok dari keterpurukan, kemelaratan, dan ketertinggalan sebuah masyarakat, bangsa, atau negara secara ekonomi, serta munculnya problem-problem sosial seperti kriminalitas dan pengangguran.

Padahal, jika menimbang fakta bahwa negara-negara yang maju di dunia saat ini adalah negara-negara yang menganut ekonomi pasar bebas, seperti negara-negara Eropa, Amerika, dan Asia Timur, mestinya cap itu tidak buru-buru diterima apa adanya.

Masalah substansial sesungguhnya adalah bagaimana memahami filosofi pasar bebas dan menerjemahkannya ke dalam tataran praktis secara baik.

Melalui buku ini, Ken Schoolland coba menjelaskan dan memperkenalkan konsep-konsep mendasar ekonomi pasar dari para pemikir liberal seperti Ludwig von Mises, Frederik Hayek, Milton Friedman, Henry Hezlitt, dan Ayn Rand, melalui tokoh fiksi bernama Jonathan Gullible yang dikisahkan terdampar di pulau antah berantah.

Di situ Jonathan melihat berbagai peristiwa unik, menarik, aneh, dan lucu, yang menggugahnya untuk bertanya. Dari jawaban-jawaban yang diterima Jonathan dari orang-orang dalam peristiwa itulah Ken menjelaskan bagaimana wajah sosial, politik, dan ekonomi dunia saat ini yang menganut pasar bebas dengan berbagai persoalan yang dihadapinya.

Jonathan dalam buku ini oleh Ken digambarkan sebagai sosok yang memiliki falsafah hidup yang didasarkan atas prinsip kepemilikan pribadi. Hidup Anda adalah milik Anda. Tak seorang pun, atau kelompok orang, yang berhak atas hidup Anda. Tidak juga Anda berhak atas hidup orang lain. Hasil panen dalam hidup Anda adalah hasil kerja Anda, buah dari waktu, tenaga, dan bakat-bakat Anda.

Dua orang yang saling bertukar barang milik mereka secara sukarela sama-sama akan menikmati keadaan yang lebih baik, atau mereka tidak akan melakukannya sama sekali. Hanya merekalah yang berhak memutuskan itu untuk diri mereka sendiri.

Kepemilikan Bersama

Salah satu peristiwa yang cukup menarik dialami Jonathan, misalnya, adalah ketika ia bertemu dengan seorang bapak tua di pinggir danau yang tengah membersihkan seekor ikan kecil di atas talenan sambil bersimpuh. Pak tua itu menjelaskan bahwa pancingannya tidak bagus: ia hanya dapat yang kecil-kecil. Menurutnya, bukan masalah umpan di kailnya, karena ia sudah memberi pancingan yang terbaik, dan hanya itu yang ia dapatkan di danau.

Beberapa tahun sebelumnya, kata pak tua, ikan-ikan di danau itu sebenarnya besar-besar, namun semuanya sudah ditangkap. Sehingga, yang tersisa hanya yang kecil-kecil. Saat Jonathan mengatakan bahwa ikan kecil itu pada akhirnya akan menjadi besar, pak tua itu menanggapi bahwa baik ikan besar maupun kecil, semuanya sudah diambil.

Pak tua itu lantas menunjuk ke arah tumpukan sampah di pinggir danau. Jonathan bingung, bagaimana bisa orang menangkap ikan di danau, tapi juga membuang sampah di danau itu. Milik siapa sebenarnya danau ini? Secara panjang lebar, pak tua menjelaskan bahwa danau ini bukan miliknya, tapi milik bersama, semua orang. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa yang menjadi milik semua orang sebetulnya bukan milik siapa pun. Maksudnya, bukan milik pak tua itu sampai ikan memakan umpannya, baru menjadi miliknya.

Jonathan kemudian mempertanyakan perihal perawatan. Mestinya, pak tua itu merawat ikan-ikan di danau itu. Pak tua itu mengatakan bahwa ia tidak mungkin melakukan itu sementara orang lain bisa datang kapan saja dan menangkapnya.

Jika orang lain melakukan itu, kemudian mengotori danaunya, sia-sialah upaya perawatan itu, tegas pak tua. Ia sebenarnya ingin danau ini menjadi miliknya, sehingga ia bisa memastikan ikan-ikan di situ terawat, seperti merawat binatang ternak. Jika danau ini menjadi miliknya, jelas pak tua, ia akan menernakkan ikan-ikan terkuat dan tergemuk, serta memastikan tidak akan ada pencuri atau pembuang sampah.

Sayangnya, itu tidak terjadi. Meski danau itu milik bersama, tapi sebenarnya dikelola oleh apa yang pak tua sebut sebagai Dewan Bangsawan. Setiap tahun, tuturnya, tuan tanah terpilih untuk menjabat di Dewan.

Kemudian, Dewan itu menyewa manajer dan menggajinya dengan pajak yang diambil dari orang-orang. Manajer itu semestinya menjaga agar tidak terlalu banyak penangkapan ikan atau pembuangan sampah di danau itu. Tapi, lucunya, katanya, teman-teman Bangsawan itu boleh memancing dan membuang sampah seenak perutnya sendiri. Ketika Jonathan menanyakan pengelolaan manajer, dengan menunjukkan ikan kecil di tangannya, pak tua mengatakan, “Lihat saja hasil tangkapan saya yang sedikit ini. Tampaknya ikan semakin kecil, sementara gaji si manajer semakin besar.”

Cerita ini mengacu pada konsep ‘Tragedi Kepemilikan Bersama’. Kepemilikan bersama mengacu pada apa saja yang dimiliki oleh yang berwenang atau negara demi kemaslahatan banyak orang.

Ken menyebut ada dua tragedi dalam hal ini. Pertama, semua orang seharusnya mendapatkan manfaat dari, dan merasa bertanggungjawab atas kepemilikan bersama ini. Tapi, yang kerap terjadi adalah tidak seorang pun yang mendapatkan manfaatnya karena setiap orang merebut sebanyak-banyaknya untuk diri mereka sendiri sebelum orang lain menikmatinya. Ini berarti, kata Ken, sumber daya diambil sebelum waktunya. Kedua, tidak ada seorang pun yang merasa bertanggung jawab atas berbagai akibatnya.

Ada 39 peristiwa lain dengan tema-tema beragam terkait dengan persoalan ekonomi, sosial, dan politik di alam pasar bebas, yang diulas secara sederhana, menarik, dan kritis oleh Ken.

Inti penting buku ini sesungguhnya adalah menampilkan wajah pasar bebas dengan segala persoalan yang dihadapi untuk dipikirkan pemecahannya. Karena, secara konseptual atau teoretis, pasar bebas bisa memberikan keuntungan bersama dan luas, yang pada gilirannya mampu menciptakan kesejahteraan rakyat, jika dalam tataran praktisnya diterjemahkan secara bertanggung jawab, adil, dan tanpa kecurangan.

Kemerdekaan atau kebebasan individu yang bertanggung jawab menjadi kapital penting dalam pasar bebas ini, seperti disiratkan oleh Ken ketika menampilkan seekor burung kondor yang bisa bicara di hadapan Jonathan, sebelum burung itu membawa Jonathan keluar dari pulau antah berantah, mengantarkannya ke dunia asalnya sebelum ia terdampar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s