Menuju Kebangkitan Ilmu Sosial Asiasentris

Oleh : Fajar Kurnianto
Koran Jakarta, Senin 23 Mei 2011

Judul : Diskursus Alternatif dalam Ilmu Sosial Asia; Tanggapan Terhadap Eurosentrisme
Penulis : Syed Farid Alatas
Penerbit : Mizan, Bandung
Tahun : I, Desember 2010
Tebal : xxiv+268 halaman

Dominasi Barat (Eropa-Amerika) di hampir seluruh penjuru dunia tidak hanya dalam soal kecanggihan teknologi, tapi juga ilmu pengetahuan, salah satunya adalah ilmu sosial. Di Asia, ilmu sosial diperkenalkan oleh Barat, kemudian dikembangkan melalui lembaga-lembaga perguruan tinggi (universitas-universitas yang didirikan oleh Barat atau pemerintah lokal tapi mengajarkan ilmu-ilmu sosial) dengan mengacu pada hanya satu sumber pengetahuan Barat, sehingga membuat ilmu-ilmu sosial Asia banyak terpengaruh Barat (Eurosentrisme).

Syed Farid Alatas, Associate Profesor di Departemen Sosiologi National University of Singapore, dalam buku ini memaparkan cukup luas kondisi ilmu sosial Asia, menanggapi dan mengkritisi ilmu sosial Asia yang Eurosentris, serta mengupayakan pengembangan diskursus alternatif dalam ilmu sosial Asia. Tujuannya antara lain menjadikan Asia sebagai pusat studi ilmu sosial (Asiasentris) dan mengapresiasi realitas-realitas Asia dengan lebih baik lagi.

Dalam buku ini, Alatas mengidentifikasi delapan kondisi ilmu sosial Asia yang perlu dikritisi (h. 14-15). Pertama, ada bias Eurosentrisme. Kedua, ada pengabaian umum terhadap tradisi filsafat dan sastra lokal. Ketiga, kurangnya kreativitas atau ketidakmampuan para ilmuwan sosial di luar area budaya Euro-Amerika untuk melahirkan teori dan metode yang orisinal. Keempat, mimesis (peniruan) terlihat dalam pengadopsian atau peniruan yang tidak kritis terhadap model ilmu sosial Barat.

Kelima, diskursus Eropa mengenai masyarakat non-Barat cenderung mengarah pada konstruksi esensialis, yang ‘menginformasi’ bahwa dirinya adalah kebalikan dari Eropa: barbar, terbelakang, dan irasional. Keenam, tiadanya sudut pandang minoritas. Minoritas di sini bukan berarti minoritas etnik, tapi juga semua kelompok yang tidak beruntung dan terpinggirkan. Ketujuh, persekutuan dengan negara. Misalnya, antropologi dipakai negara untuk mempromosikan integrasi, kontrol atas kebijakan negara, dan penciptaan sebuah budaya nasional. Kedelapan, imperialisme akademis atau intelektual, yakni dominasi intelektual Dunia Ketiga (negara-negara berkembang) oleh kekuatan-kekuatan ilmu-ilmu sosial (AS, Inggris, dan Prancis).

Diskurus alternatif dalam ilmu sosial Asia menurut Alatas diupayakan bukan untuk ‘menghabisi total’ Eurosentrisme, tapi untuk mengkritisi Eurosentris dan Orientalisme; mengangkat masalah metodologis dan epistemologis dalam telaah masyarakat, historiografi, atau filsafat sejarah; menaruh perhatian pada analisis masalah yang ditimbulkan oleh pembagian kerja dalam ilmu sosial; merekonstruksi diskursus sosial dan sejarah; memunculkan masalah orisinal dalam telaah sosial dan sejarah; mengakui semua peradaban dan praktik budaya sebagai sumber ide ilmu sosial; tidak mendukung penolakan atas ilmu sosial Barat in toto (secara keseluruhan).

Bagi saya, buku ini menjadi salah satu perangsang untuk melihat kembali ilmu-ilmu sosial Asia secara kritis, kemudian coba mengembangkan diskursus alternatif di dalamnya. Terlalu total menyumberkan ilmu pengetahuan sosial dari Barat tanpa sikap kritis akan membuat Barat terus dan makin mendominasi, hingga gilirannya mendikte kawasan Asia, terutama kawasan yang masih berkembang. Membuat Asia akan terus merasa inferior atas Barat. Sudah saatnya ilmu sosial Asiasentris bangkit untuk menciptakan pengetahuannya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s