Jawa dalam Catatan Mayor Thorn

Oleh : Fajar Kurnianto
Sinar Harapan, Sabtu-Minggu 28-29 Mei 2011

Judul : Penaklukan Pulau Jawa; Pulau Jawa di Abad Sembilan Belas dari Amatan Seorang Serdadu Kerajaan Inggris
Penulis : William Thorn
Penerbit : Elex Media Komputindo, Jakarta
Tahun : I, Maret 2011
Tebal : xxx+406 halaman

Peperangan era Kaisar Perancis Napoleon Bonaparte (1799-1815) mengubah wajah dunia ketika itu, khususnya di benua Eropa. Perang itu sebetulnya bersifat kontinental, karena berlangsung di benua Eropa, tapi kemudian merembet ke daerah-daerah koloni masing-masing negara yang terlibat, salah satunya Hindia Belanda (Jawa). Inggris saat itu adalah lawan yang paling tangguh bagi Perancis, terutama armada lautnya. Bahkan Inggrislah kemudian yang mengakhiri kekuasaan Napoleon pada 18 Juni 1815 dalam pertempuran Waterloo.

Pasukan Inggris di bawah kepemimpinan Lord Minto dan Letnan Jenderal Sir Samuel Auchmuty juga yang mengakhiri kekuasaan Perancis di Jawa. Jawa sebelumnya merupakan bagian dari koloni Belanda, tapi setelah Belanda dikuasai Perancis, kekuasaan atas Jawa pun berpindah tangan Perancis. Perancis kemudian menunjuk Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Ia memerintah di sana dari 1808-1811. Secara keseluruhan, Jawa diambil alih Inggris melalui pertempuran yang sengit di beberapa tempat, seperti di Batavia, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, hingga Madura.

Buku karya William Thorn ini merekam cukup detail penaklukan Jawa oleh Inggris, karena ia adalah salah satu tentara Inggris dengan pangkat Brigadir Mayor pada divisi pimpinan Sir Robert Rollo Gillespie. Sebelum ekspedisi ke Jawa, Thorn berpangkat Letnan dan terdaftar sebagai pasukan Light Dragoon ke-29 di India selama perang Maratha tahun 1803-1805, dan ikut terlibat dalam penaklukan Aligarth, Delhi, dan Agra tahun 1803. Ia juga ikut dalam penyergapan Bharatpur pada 1805. Pada 1807, Thorn dipromosikan sebagai Kapten dan diangkat sebagai Brigadir Mayor, ditempatkan di pangkalan militer di Bangalore. Ia juga berpartisipasi dalam penaklukan Mauritius pada 1810. Thorn meninggal pada 29 November 1843, di Neuwied, yang terletak di sungai Rhine, setelah menyatakan pensiun pada 1825.

Dalam buku yang selesai ditulis pada 1813 dan diterbitkan pada 1815 di London, Thorn tidak hanya mencatat jalannya peperangan yang terjadi di Jawa, terutama, yang kemudian berlanjut ke wilayah-wilayah lainnya, seperti Sumatera (Palembang), Kalimantan (Banjarmasin), Sulawesi (Makassar), hingga Maluku (Ambon). Ia juga mencatat cukup detail kondisi sosio-kultural masyarakat setempat. Tentang pola hidup masyarakat, kondisi lingkungan (iklim), mata pencaharian, struktur pemerintahan hingga ke tingkat bawah warisan Belanda, kota-kota, jalan-jalan, dan sungai-sungainya.

Sebagian besar catatan itu mulanya ditulis Thorn untuk kepentingan militer Inggris, misalnya untuk mengetahui lokasi-lokasi benteng pertahanan, pos-pos militer, kota-kota, dan pangkalan-pangkalan militer, lengkap dengan peta grafisnya. Tapi, Thorn kemudian melengkapinya dengan catatan-catatan lainnya. Thorn ini semasa dengan Sir Thomas Stamford Bingley Raffles yang mulai 1811 menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda setelah Jawa berhasil ditaklukkan. Seperti halnya Thorn, Raffles juga penulis buku tentang Jawa. Namun, bukunya yang berjudul History of Java baru terbit pada 1817, dua tahun setelah buku Thorn ini terbit.

Seluruh penduduk pulau Jawa dalam catatan Thorn ketika itu diperkirakan berjumlah lima juta jiwa. Orang-orang pribumi bisa dikelompokkan berada dalam dominasi orang-orang Jawa dan orang-orang Melayu. Orang-orang Eropa terhitung sedikit, seperti halnya Cina dan Arab. Orang-orang Melayu dikenal nekat dan suka merantau karena watak mereka yang gemar menjarah, berperang, dan melaut. Mereka ini, menurut Thorn, umumnya lamban, tapi juga di saat bersamaan grasak-grusuk, pendendam, dan pemberontak, serta tidak bisa dipercaya (hlm. 216). Meski begitu, keberanian mereka tidak perlu dipertanyakan lagi. Mereka tidak takut mati.

Dibandingkan dengan etnis Melayu, etnis Jawa jauh lebih banyak. Etnis ini terutama mendiami daerah pedalaman. Secara umum, mereka merupakan penggarap tanah (masyarakat agraris). Dalam pandangan Thorn, etnis Jawa ini dinilai luar biasa lamban sekali, dan boleh dikatakan tidak ada dorongan positif apa pun, ataupun didorong suatu kebutuhan hidup, ataupun menuntut kesenangan hidup, yang bisa membangkitkan mereka dari kondisi yang apatis itu, yang wajar-wajar saja bagi mereka (hlm. 218). Thorn cukup heran dengan kondisi seperti itu, padahal penguasa mereka (Belanda) dianggap jelas-jelas sangat lalim.

Secara fisik, Thorn melihat etnis Jawa jauh lebih menarik daripada etnis Melayu. Kaum perempuannya juga memiliki bentuk wajah yang lebih menarik dibandingkan perempuan-perempuan Melayu. Mereka biasanya memakai kebaya dan kain panjang hitam, dengan stagen lebar yang melingkari tubuh, yang berfungsi sebagai pakaian dalam. Sementara kaum laki-lakinya berbaju panjang katun warna hitam, berikut sarung yang diikat di pinggang atau sepasang celana selutut. Orang-orang dari kelas sosial yang lebih tinggi berdandan dengan kain bermotif, sutera, dan beludru yang sangat mereka sukai berhiaskan sulaman. Mereka memakainya terutama ketika mendatangi acara-acara perayaan dan acara-acara umum lainnya. Agama mereka umumnya Islam. Namun, untuk etnis Jawa, dalam beberapa hal terjadi percampuran dengan tradisi Hindu (sinkretis).

Buku ini menjadi salah satu rujukan berharga untuk melihat sosio-kultural masyarakat Jawa abad ke-19 ketika Jawa dikuasai Inggris, selain tentu saja jalannya perang Inggris di Jawa. Meski kekuasaan Inggris tidak lama di Jawa, karena seiring kekalahan Napoleon pada 1815, Jawa dan Hindia Belanda secara keseluruhan dikembalikan kepada Belanda, tapi catatan Thorn menjadi peninggalan penting untuk melihat Jawa ketika itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s