AS dan Berdirinya Rezim Orde Baru

Oleh : Fajar Kurnianto
Seputar Indonesia, Minggu 20 Maret 2011

Judul : Economists With Guns; Amerika Serikat, CIA, dan Munculnya Pembangunan Otoriter Rezim Orde Baru
Penulis : Bradley R Simpson
Penerbit : Gramedia, Jakarta
Tahun : I, Januari 2011
Tebal : x+458 halaman

Berdirinya rezim Orde Baru (Orba) yang mengganti Orde Lama (Orla) tidak lepas dari peran Amerika Serikat (AS). AS memang sangat berkepentingan terhadap Indonesia. Hal ini terutama kepentingan ekonomi.

Presiden AS John F Kennedy, tiga hari sebelum ditembak mati di Dallas, Texas, 1963, mengatakan bahwa Indonesia berpenduduk 100 juta dengan kekayaan sumber daya alam yang mungkin lebih besar daripada negara Asia lain. Tidak masuk akal bagi AS untuk mengucilkan sekelompok besar orang yang duduk di atas sumber daya alam ini, kecuali memang ada alasan yang sangat kuat.

Bradley R Simpson dalam buku ini mengungkap cukup detail upaya-upaya AS mewujudkan kepentingannya di Indonesia dengan aneka perdebatan yang ada di AS terkait kebijakannya terhadap Indonesia, sejak era Presiden Dwight David Eisenhower, Kennedy, hingga Lyndon B Johnson. AS menyebut kepentingannya adalah membangun ekonomi Indonesia.

Dana ratusan juta dolar digelontorkan AS untuk itu. Tidak hanya dana, tapi juga menarik para sarjana Indonesia, terutama di bidang ekonomi untuk belajar dan mendapatkan pelatihan di AS. Beberapa jenderal juga ditarik untuk menimba ilmu dan pelatihan di AS. Namun, sikap pemerintah Indonesia di bawah Soekarno yang cenderung sosialis, condong ke Soviet dan China yang komunis—selain besar dan kuatnya pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI) di dalam negeri—menjadi batu sandungan utama bagi AS.

Sepulang dari kunjungan ke Beijing dan Moskow pada 1956, misalnya, Presiden Soekarno menyatakan kesiapannya untuk “menerima pencapaian-pencapaian yang menonjol, terutama yang bersifat material, di bawah penguasa komunis”. Setelah tiga pekan kunjungan ke China pada 1957, Wakil Presiden Mohammad Hatta menyatakan kegembiraan dan kekagumannya atas yang dia lihat selama kunjungannya itu.

Pasca-Perang Dunia II, geopolitik dunia terbelah menjadi dua blok besar, yakni Blok Soviet (sosialis-komunis) dan Blok AS (kapitalis). Kedua blok ini saling bersaing memperoleh dukungan negara-negara di dunia, terutama yang sedang berkembang. Inilah era perang dingin. AS sangat khawatir Indonesia jatuh ke Soviet sehingga mengancam kepentingannya. Berbagai upaya untuk “menghindarkan” Indonesia agar tidak jatuh ke Soviet pun dilakukan. Hal itu terutama menyingkirkan Soekarno dan PKI serta mendorong militer untuk mengambil alih kekuasaan.

Pada musim gugur 1957, seperti dicatat Simpson, Presiden AS Eisenhower melancarkan salah satu operasi rahasia terbesar dan paling mengerikan selama era Perang Dingin dengan menyediakan dana jutaan dolar dan senjata-senjata modern secara sembunyi-sembunyi untuk para kolonel pembelot pemerintah yang memimpin pemberontakan regional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s