Benturan Islam Puritan dan Islam Sinkretis

Oleh : Fajar Kurnianto
Sinar Harapan, Sabtu 15 Januari 2011

Judul : Benturan Budaya Islam: Puritan & Sinkretis
Penulis : Sutiyono
Penerbit : Kompas, Jakarta
Tahun : I, November 2010
Tebal : vi+362 halaman

Dalam sejarahnya, Jawa sebelum kedatangan Islam sudah lebih dahulu berkenalan dengan Hindu dan Budha. Sebelum dua agama ini datang, Jawa, seperti juga umumnya daerah-daerah lainnya, lekat dengan kepercayaan animisme dan dinamisme.

Pamor Hindu dan Budha meredup seiring meredupnya Kerajaan Majapahit, akibat perkembangan Islam yang sangat cepat, terutama di wilayah pesisir. Majapahit runtuh, muncullah Demak sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa berpusat di pesisir. Kekuatan Mataram kemudian muncul di pedalaman, membuat Demak meredup, dan peralihan pun terjadi, dari pesisir ke pedalaman.

Dakwah Islam yang sifatnya ekspansif membuatnya harus berbenturan dengan tradisi atau budaya lokal yang sudah melekat. Benturan ini tidak hanya terjadi di Jawa, tapi bahkan di hampir semua wilayah yang didatangi Islam. Benturan itu ada yang mengambil bentuk konflik, ada yang mengambil bentuk akomodatif-adaptif. Bentuk yang terakhir inilah yang dikenal dengan sinkretisme, yakni percampuran antara dua tradisi atau lebih, sebagai bentuk adopsi atas kepercayaan baru tanpa meninggalkan kepercayaan lama (John R Bowen, 2002).

Buku Benturan Budaya Islam: Puritan & Sinkretis karya Sutiyono ini mencoba melihat benturan budaya antara Islam puritan dengan Islam sinkretis. Islam puritan yang dimaksud di buku ini adalah masyarakat Islam petani yang masuk ke dalam Muhammadiyah, orga¬nisasi Islam yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan (1912). Sementara Islam sinkretis di sini adalah masyarakat Islam yang memadukan antara ajaran-ajaran Islam dengan tradisi lama yang dipegang kuat berupa warisan Hindu, Budha, dan animisme.

Muhammadiyah sangat terkait dengan gerakan Wahabi di Saudi Arabia yang dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahab, meski dalam tingkat tertentu tidak menggunakan cara kekerasan dan jangkauan politik seperti lazimnya kaum Wahabi. Inti dari gerakan Wahabi adalah kembali kepada Alquran dan hadis Rasulullah dengan menghilangkan praktik-praktik yang menyimpang dari Islam, seperti bidah dan syirik. Dalam jargon Muhammadiyah, pemberantasan takhayul, bidah, dan khurafat.

Buku ini merupakan hasil riset Sutiyono di daerah Klaten, terutama di Mojokuto dan Senjakarta, yang dalam sejarahnya dikenal menjadi pusat kaum sinkretis, dan pada saat yang sama menjadi lahan dakwah penyebaran Islam puritan sejak Islam masuk ke wilayah ini pertama kali (sekitar abad ke-14) hingga saat ini. Berbagai tradisi seperti slametan perkawinan, slametan kematian, slametan alam, ziarah kubur, dan ngalap berkah, hingga saat ini masih bertahan.

Islam yang didakwahkan Muhammadiyah di daerah ini disikapi masyarakat setempat secara beragam. Ada yang benar-benar meninggalkan sinkretisme, kemudian berbalik haluan melawan dan mengecam praktik-praktik sinkretisme, ada pula yang tetap dengan sinkretismenya.

Beberapa orang Islam sinkretis yang kemudian masuk Muhammadiyah pun ada yang tidak sepenuhnya meninggalkan sinkretisnya. Di kalangan tokoh-tokoh Muhammadiyah sendiri tidak seragam dalam menyikapi Islam lokal yang sinkretis.

KH Ahmad Dahlan, misalnya, meski belajar Islam di lingkungan Islam puritan Mekah (Wahabi), sikapnya lebih toleran dan moderat. Ini berbeda dengan sikap Haji Rasul (ayah Hamka) di Minangkabau yang bersikap keras terhadap tradisi sinkretis.

Perubahan

Riset Sutiyono menunjukkan telah terjadi perubahan sosial keagamaan di wilayah itu, dari masyarakat Islam sinkretis menjadi Islam puritan. Masyarakat yang telah berubah menjadi puritan ini pun terbagi menjadi dua, yang radikal dan moderat. Yang moderat tidak menjadi soal, karena ia tetap menjadi bagian dari masyarakat setempat, dan untuk sebagian tidak meninggalkan tradisi lama yang sinkretis.

Sementara yang radikal justru tidak jarang melakukan tindak perusakan terhadap tempat-tempat kaum sinkretis, mirip yang dilakukan oleh kaum Wahabi. Mereka terus melakukan tekanan-tekanan hingga mendapatkan perlawanan yang kuat juga dari orang-orang Islam sinkretis.

Studi Sutiyono ini juga menunjukkan bahwa puritanisme tidak selalu radikal. Tapi, radikalisme agama selalu muncul dari puritanisme agama. Dan, selalu benturan keras lebih banyak terjadi antara orang-orang Islam puritan radikal de¬ngan Islam sinkretis. Meski begitu, seperti ditunjukkan juga oleh riset ini, pola dakwah radikal ternyata membuahkan hasil yang cukup signifikan.

Di Mojokuto, misalnya, seperti diungkap Sutiyono, ada sekitar 11.000 orang sinkretis yang menjadi puritan, padahal gerakan Islam puritan di sini mengambil bentuk radikal. Riset ini menjadi antitesis terhadap tesis Geertz yang menyatakan bahwa gerakan radikal akan mendapat partisipasi yang rendah dari masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s