Rahasia Kepemimpinan Pak Harto

Oleh : Fajar Kurnianto
Majalah GATRA, 17 – 23 Februari 2011

Judul : Soeharto di Bawah Militerisme Jepang
Penulis : David Jenkins
Penerbit : Komunitas Bambu, Depok
Tahun : I, November 2010
Tebal : xx+252 halaman

Pengalaman di Peta menjadi modal awal pembentukan karakter kepemimpinan Soeharto. Kemunculannya di panggung nasional tidak lepas dari kemampuannya membaca situasi.

Lahir dari keluarga petani, dewasa masuk dinas militer Tentara Kerajaan Hindia Belanda, KNIL. Kemudian masuk Peta bentukan Jepang, hingga menjadi bagian dari kekuatan militer pasca-kemerdekaan Indonesia. Lalu mencuat sebagai presiden pasca-Soekarno. Demikianlah Soeharto. Militer telah menjadi bagian dari dirinya sejak muda.

Tapi, apa sebetulnya yang benar-benar telah membentuk Soeharto? David Jenkins rupanya punya jawaban sendiri: Peta (Pembela Tanah Air). Jenkins adalah wartawan kawakan Australia yang memang banyak menulis tentang Soeharto.

Jepang menyerbu Jawa pada 1 Maret 1942. Hanya butuh sepekan bagi pasukan Dai Nippon untuk menekuk Belanda. Peralihan kekuasaan pun terjadi. Seiring dengan menyerahnya Belanda, seluruh kekuatan militer Belanda dilucuti, termasuk KNIL. Anggota-anggotanya pun ditangkapi.

Begitu Jepang berkuasa, Soeharto bergabung pertama kali sebagai anggota polisi. Tidak ada yang tahu bahwa dia adalah mantan KNIL. Andai tahu, pasti sudah ditangkap dan dipenjarakan. Soeharto tidak ingin itu terjadi pada dirinya, dan ia berhasil cukup lama menyembunyikan jati dirinya. Karena prestasinya cukup memuaskan, atasan Soeharto di kepolisian, Okamoto, merekomendasikan dia masuk menjadi anggota tentara yang langsung dilatih oleh Angkatan Darat ke-16 Jepang.

Jepang menerapkan kebijakan baru terkait strategi pertahanan di Indonesia, Jawa khususnya, terutama setelah kekalahannya dari Sekutu di berbagai tempat yang didudukinya. Ancaman terhadap kekuasaan Jepang di Indonesia kian dekat ketika Filipina direbut Sekutu. Pada 3 Oktober 1943, Jepang resmi mengumumkan pembentukan tentara sukarela yang direkrut dari orang-orang pribumi. Tentara inilah yang disebut Peta (Pembela Tanah Air). Dan, Soeharto masuk ke dalam Peta.

Selama di Peta, Soeharto menjalani dua bentuk pelatihan militer yang sangat keras. Pertama, pelatihan shodancho (komandan peleton). Kedua, pelatihan chudancho (komandan kompi). Ia melewati pelatihan keras ini secara baik, karena pengalamannya menjalani latihan yang hampir serupa ketika berada di KNIL. Kesan para perwira Jepang terhadap Soeharto beragam. Namun rata-rata mereka melihat Soeharto cukup berbakat, rendah hati, dan bisa dipercaya.

Belakangan, para perwira itu tahu bahwa Soeharto adalah mantan anggota KNIL. Tapi, mereka akhirnya tidak terlalu merisaukan hal itu. Bahkan, beberapa kali Soeharto diangkat sebagai pemimpin batalyon Peta, yang ditempatan di garis pertahanan pantai.

Soeharto beruntung menjadi bagian dari Peta, cikal bakal TNI (Tentara Nasional Indonesia) pada saat ini. Jepang memang cukup serius menggarap Peta, dari mulai alasan untuk diajak bekerja sama membantu Jepang menghadapi Sekutu dalam setiap pertempuran, hingga membentuk sebuah organisasi tentara Indonesia yang mandiri, karena Jepang menjanjikan kemerdekaan pada saatnya nanti.

Struktur komando dan pembagian wilayah di dalam Peta pun dibentuk sesuai dengan struktur organisasi tentara model Jepang. Karena itu, siapa pun yang ingin tahu struktur organisasi dan jejaring tentara Indonesia, harus tahu seluk beluk Peta dan struktur organisasinya. Soeharto adalah salah satunya. Ia termasuk orang yang tahu betul tentang hal itu. Modal yang sangat berharga baginya di kemudian hari.

Soeharto juga tidak memiliki hubungan dengan para pemimpin nasionalis. Baik karena alasan ia adalah mantan anggota KNIL maupun karena sikapnya yang tidak kritis terhadap Jepang. Tapi, dalam situasi Jawa yang mudah berubah dan berbahaya, terutama sejak Jepang menyerah kepada Sekutu, Soeharto memiliki sejumlah kartu penting. Ia punya kemampuan, pelatihan, pengalaman, pertimbangan, dan tekad. Ia juga memiliki hubungan yang luas dengan rekan-rekan di Yogyakarta yang telah terlatih bertempur.

Buku ini sedikit banyak menggambarkan sosok Soeharto muda dengan perjalanan hidupnya di Peta, yang telah membentuknya. Kemunculannya yang tiba-tiba di panggung politik pada 1965 dan seterusnya, tidak lepas dari kemampuannya membaca situasi. Kemampuan yang ia asah sejak zaman Jepang. Jadi, Soeharto memang bukan sosok sembarangan, meski awalnya tidak dikenal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s