Hayek dan Kritik Terhadap Kolektivisme

Oleh : Fajar Kurnianto
Koran Jakarta, Rabu 23 November 2011

Judul : Ancaman Kolektivisme
Penulis : Friedrich A Hayek
Penerbit : Freedom Institute, Jakarta
Tahun : I, Oktober 2011
Tebal : xii+312 halaman

Di dunia pemikiran ekonomi-politik liberal klasik, nama Friedrich August Hayek (1899-1992) tidak asing lagi. Dia dikenal sebagai pembela demokrasi, kapitalisme, dan liberalisme di dunia Barat, khususnya di Inggris, pada era 1940-an dan sepanjang dekade 1950-an.

Pemikiran Hayek saat itu dianggap pinggiran dan dipandang sebelah mata. Namun, zaman terus berputar dan berubah. Pada 1974, Hayek mendapatkan Hadiah Nobel bidang ekonomi yang melambungkan namanya, dan sejak itu pemikirannya mulai banyak diadopsi.

Buku ini merupakan salah satu karya Hayek pada era berjayanya paham kolektivisme atau sosialisme. Edisi aslinya, The Road to Serfdom, terbit 1944. Kritik-kritiknya terhadap paham kolektivisme dalam buku ini begitu tajam dan sistematis.

Dari judulnya, terbaca jelas bahwa paham kolektivisme atau sosialisme, menurut Hayek, membawa kepada perbudakan. Sebuah gambaran manusia yang kehilangan kebebasan individunya. Kebebasan individu (individualisme) inilah yang menjadi ide dasar dari seluruh pemikiran Hayek.

Individualisme yang dimaksud Hayek sama sekali tidak terkait dengan egoisme dan keserakahan. Individualisme adalah penghargaan terhadap manusia sebagai manusia, yakni pengakuan terhadap pandangan dan cita rasa sendiri sebagai hal-hal yang agung di dalam wilayahnya sendiri, betapa pun sempit batas-batas wilayahnya itu.

Para penganut paham kolektivisme atau sosialisme juga menjanjikan apa yang mereka sebut “kebebasan baru”. Menurut mereka, kedatangan sosialisme akan menjadi lompatan dari dunia pemenuhan kebutuhan ke dunia kebebasan. Sosialisme akan membawa “kebebasan ekonomi” yang tanpanya, kebebasan politik yang sudah didapat “tak bernilai untuk dimiliki”. Hanya sosialisme yang dapat mewujudkan hasil pergumulan yang sudah lama untuk mendapatkan kemerdekaan, yang di dalamnya pencapaian kebebasan politik hanyalah langkah pertama.

Namun, menurut Hayek, kebebasan yang mereka maksud sesungguhnya adalah nama lain dari kekuasaan atau kekayaan. Dalam kenyataannya, demikianlah adanya, ketika sosialisme justru melahirkan Fasis di Italia (Mussolini) dan Nazi di Jerman (Hitler). Pada mulanya, mereka adalah orang-orang sosialis.

Sejarah dunia saat ini sudah berubah. Era kolektivisme atau sosialisme sudah lama berakhir. Di Eropa, selain Jerman, Rusia yang sebelumnya menjadi negara sosialis terbesar di dunia dengan nama Soviet sekarang sudah menjadi negara demokrasi. Hanya beberapa negara, seperti Kuba, yang masih bertahan. Hayek menjadi salah satu tokoh yang mengubah sejarah ini melalui buah pikiran-pikiran liberalnya. Hingga saat ini, buah-buah pikirannya banyak dipelajari dan masih relevan.

Hayek, seperti dikatakan Rizal Mallarangeng dalam pengantar buku ini, tidak melihat sistem ekonomi, politik, hukum, dan perilaku alamiah manusia, sebagai kotak-kotak yang terpisah. Ia mengaitkan semua itu dalam sebuah pandangan yang menyeluruh dan mengaitkannya dengan satu hal yang menjadi titik tolak pemikirannya, yaitu kebebasan manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s