Membunuh Soekarno Tiga Kali

Oleh : Fajar Kurnianto
Sinar Harapan, Sabtu 13 November 2010

Judul: Bung Karno Dibunuh Tiga Kali? Tragedi Bapak Bangsa Tragedi Indonesia
Penulis: Asvi Warman Adam
Penerbit: Kompas, Jakarta
Tahun: I, Juli 2010
Halaman: xiv+202 halaman

Ungkapan “Habis manis sepah dibuang” barangkali tepat dialamatkan kepada sosok Presiden pertama Republik Indonesia (RI) pertama, Ir Soekarno.

Perjuangan untuk bangsa Indonesia yang dimulainya sejak muda, baik itu perjuangan via pemikiran, organisasi pergerakan, dan partai politik (PNI), hingga mengantarkannya menjadi orang nomor satu pertama RI, justru berakhir tragis. Ironisnya, ini dilakukan oleh orang yang sangat ia beri kepercayaan “untuk melakukan hal-hal yang dianggap perlu” ketika peristiwa G30S terjadi.

Buku Bung Karno Dibunuh Tiga Kali? Tra¬gedi Bapak Bangsa Tragedi Indonesia kar¬ya sejarawan Asvi Warman Adam ini mencoba mengungkap kembali tragedi Bung Karno yang telah banyak dilupakan bangsa ini.

Buku ini memuat 14 buah judul artikel Asvi yang dibagi dalam dua bagian besar. Bagian pertama bertema “Sukarno Naik”, sementara bagian kedua bertema “Sukarno Jatuh”. Pasca jatuhnya, Soekarno secara lahiriah dan batiniah mengalami pembunuhan dua kali pada tahun 1970. Demikian sejarawan Prancis, Jacques Leclerc, menyebut tragedi yang dialami Bapak Bangsa Indonesia ini.

Pertama, tanggal 21 Juni ia wafat setelah menderita sakit dan tidak mendapatkan perawatan yang semestinya. Padahal ia adalah mantan presiden RI. Resep dokter, misalnya, tidak ditukar di apotek, tetapi justru disimpan di laci. Tidak ditemukan catatan medis, tetapi hanya catatan perawat yang belakangan diketahui bahwa ia bukan perawat rumah sakit, namun perawat Kowad. Tes urine Soekarno juga tidak dilakukan di laboratorium rumah sakit, tetapi di laboratorium Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (IPB). Coba bandingkan dengan perawatan terhadap kesehatan Soeharto menjelang meninggalnya yang ekstra ketat dan istimewa!

Kedua, tanggal 1 Juni, peringatan Hari Lahir Pancasila dilarang oleh Kopkamtib. Kemudian, pemikiran-pemikirannya dilarang disebarkan dan didiskusikan. Desoekarnoisasi pun gencar dilakukan. Nugroho Notosusanto, misalnya, menyebut bahwa yang pertama kali mengungkapkan Pancasila bukanlah Soekarno. Menurutnya, ada empat rumusan Pancasila, yakni rumusan Muhammad Yamin (29 Mei 1945), Soekarno (1 Juni 1945), berdasarkan hasil kerja Tim Sembilan yang dikenal dengan Piagam Jakarta (22 Juni 1945), dan seperti termaktub dalam UUD 1945 (18 Agustus 1945). Lalu, dari empat rumusan itu, yang paling otentik adalah yang termaktub dalam UUD 1945. Padahal, Muhammad Yamin sendiri mengakui bahwa Soekarno adalah yang pertama berpidato tentang Pancasila.

Pembunuhan ketiga disebut oleh Megawati ketika menanggapi buku berjudul Sukarno File, Berkas-berkas Sukarno 1965-1967, Kronologi Suatu Keruntuhan yang ditulis oleh Antonie CA Dake yang diluncurkan pada tahun 2005 di Jakarta, sebagai character assassination atau “pembunuhan karakter” terhadap Bapak Bangsa. Buku Dake menyimpulkan bahwa Soekarno merupakan biang yang sebenarnya dari apa yang terjadi pada paruh akhir 1965. oleh karena itu, menurut Dake, ia secara langsung harus memikul tanggung jawab atas pembunuhan enam orang jenderal. Secara tidak langsung pula ia juga harus bertanggung jawab untuk pembantaian orang-orang komunis dan bukan komunis yang berlangsung kemudian.

Buku-buku lain yang sejenis, yang juga terbit pada tahun yang sama, antara lain: Pembantaian yang Ditutup-tutupi, Peristiwa Fatal di Sekitar Kejatuhan Bung Karno karya Lambert Giebels, dan buku Kudeta 1 Oktober 1965, Sebuah Studi tentang Konspirasi karya Victor Miroslav Fic. Semua buku ini mengarah pada upaya desoekarnoisasi.

Lebih Adil

Buku Asvi ini bukan bertujuan mengultuskan seorang Soekarno dan membelanya secara membabi-buta dengan menguak luka lama dan hal-hal menyakitkan yang dialaminya di masa-masa jatuh hingga wafatnya. Atau, membangkitkan lagi rasa dendam bangsa Indonesia. Akan tetapi, buku ini ingin mengungkapkan sejarah secara lebih adil tanpa tendensi apa-apa selain mengabdi pada kebenaran sejarah. Karena, sebenarnya, sejarah bangsa ini masih menyisakan banyak kontroversi akibat penguasa rezim Orde Baru yang menutup-nutupi kebenaran dan menelikungnya, sehingga bangsa ini buta terhadap kebenaran sejarahnya sendiri.

Bagi generasi bangsa saat ini, terkhusus lagi generasi muda, penguakan dan pelurusan sejarah yang benar sangat perlu. Karena tidak ada bangsa yang maju tanpa belajar dari sejarahnya sendiri.

Soekarno adalah salah satu bapak bangsa Indonesia yang berjuang demi kepentingan bangsa dan negara. Tentu sangat tidak adil jika setelah ia lengser diperlakukan tidak semestinya karena sebuah kesalahan yang sama sekali tidak pernah dibuktikan di peng-adilan. Lebih tidak adil lagi ketika kemudian pemikiran-pemikirannya dilarang didis¬kusi-kan dan disebarkan, serta upaya-upaya ¬desoekarnoisasi begitu gencar dilakukan. Belum lagi dengan “pembunuhan karakter” Soekarno melalui buku-buku yang memojokkannya sebagai biang tragedi terbesar bangsa pada G30S, yang kemudian berlanjut dengan terjadinya pembantaian massal. Padahal, sebenarnya hal itu lebih merupakan fitnah, karena tidak pernah terbukti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s