Kata Sebagai Senjata Kebangkitan

Oleh : Fajar Kurnianto
Sinar Harapan, Sabtu 2 Oktober 2010

Judul : Menyemai Karakter Bangsa, Budaya Kebangkitan Berbasis Kesastraan
Penulis : Yudi Latif
Penerbit : Kompas, Jakarta
Tahun : I, November 2009
Tebal : xxiv+184 halaman

Berbagai persoalan serius bangsa seperti tiada henti datang mendera, meski umur kemerdekaan sudah melewati 65 tahun. Persoalan yang sayangnya disebabkan oleh penguasa yang tampak seperti miskin terobosan progresif sehingga membuat bangsa ini berjalan begitu pelan, dan terancam jatuh dan terpuruk jika tidak segera bangkit. Persoalan serius itu antara lain korupsi, kejahatan nomor wahid yang hampir terjadi di semua institusi pemerintah.

Buku Menyemai Karakter Bangsa, Budaya Kebangkitan Berbasis Kesastraan karya Yudi Latif ini menawarkan kebangkitan melalui tradisi kesastraan yang tiada lain adalah pemuliaan terhadap kata atau bahasa.

Hakikatnya manusia hidup di rumah kata atau bahasa. Martin Heidegger mengatakan, “Language is the house of being.” Kebangkitan mustahil terjadi tanpa melalui kata atau bahasa. Maka, kebangkitan mesti dimulai dengan terlebih dahulu memuliakan kata atau bahasa, dengan jalan membenahi kata atau bahasa terlebih dahulu, kemudian menjadikannya sebagai simbol kebangkitan, teraktualiasi dalam aksi yang konsisten dan penuh komitmen.

Partha Chatterjee (pemikir India) dan Reynaldo Ileto (pe¬mi¬kir Filipina) mengakarkan nasionalisme bukan hanya pa¬da mesiu, perundingan, kognisi Barat, dan kapitalisme percetakan (print capital), melain¬kan pada emosi Dion¬syan (passion) yang dipancarkan puisi dan daya kata (hlm 3).

Sejarah bangsa ini menunjukkan bahwa awal kebangkitan bangsa lepas dari kolonialisme dimulai dengan menggulirkan isu yang tersimbolkan dalam kata “kemadjoean” oleh para guru. Inilah simbol yang melandasi pemikiran generasi awal kebangkitan bangsa sekaligus menjadi sebuah cita-cita visioner yang dalam tahap aktualisasinya diwujudkan dengan cara membuat majalah pendidikan seperti Soeloeh Pengadjar di Probolinggo (1887) dan Taman Pengadjar di Semarang (1899-1914). Media inilah yang kemudian membuat penguasa kolonial ketika itu mulai melunak sehingga mengubah kebijakan pendidikan untuk pribumi.

Pada masa kemerdekaan, Sukarno menggemakan kata “revolusi” sebagai senjata guna membakar semangat nasionalisme bangsa untuk merdeka, mengambil alih kedaulatan bangsa yang dirampas kolonialisme, serta membangunkan bangsa untuk bahu-membahu berjuang mempertahankan kedaulatan dan mengisi kemerdekaan tanpa bergantung pada pihak asing. Pada masa Soeharto, kata yang menjadi senjatanya adalah “stabilitas”. Atas nama stabilitas, berbagai hal dilakukan olehnya, termasuk membungkam suara-suara kritis dari dunia kampus dan melengserkan jenderal-jenderal yang tidak seirama dengan Soeharto, dan itu berhasil, setidaknya hingga tahun 1998.

Berakhirnya era Soeharto menandai lahirnya kata yang menjadi senjata baru, menggantikan senjata lama, yakni “reformasi”. Dengan kata ini, posisi sipil diperkuat, militer dibatasi, tidak boleh merambah politik, dan bangsa pun merayakan kebebasannya. Silih berganti penguasa naik secara demokratis dan transparan.

Saat ini, dengan menginduk pada senjata “reformasi”, SBY menggemakan kata “antikorupsi” sebagai senjata barunya. Demikianlah kekuatan kata, terlepas dari kenyataan bahwa kata ini seperti senjata yang kehilangan fungsi dan makna, karena hanya terucap di lidah, pada aktualisasinya tidak sehebat ketika kata-kata itu diucapkan. Karena pemberantasan korupsi ternyata masih tersendat-sendat, tebang pilih, dan tidak menyentuh kelas kakap.

Kata adalah senjata kebangkitan. Sebuah kata merepresentasikan suatu dunia pemikiran, harapan imajiner, dan ilmu pengetahuan, yang dimulai dengan sebuah aktivitas pemuliaan terhadap kata itu sendiri.

Dengan kata lain, kata dalam pengertiannya yang luas adalah simbol dari ilmu pengetahuan yang melahirkan pemikiran-pemikiran yang teraktualisasikan kemudian menghasilkan perubahan.

Memuliakan kata dengan demikian memuliakan ilmu pengetahuan. Karena sejatinya kebangkitan selalu dimulai dari pengetahuan. Kata sebagai senjata kebangkitan inilah antara lain pesan yang ingin disampaikan oleh Yudi Latif dalam buku ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s