Membuka Tirai Sejarah Bangsa

Oleh : Fajar Kurnianto
Koran Jakarta, Selasa 6 April 2010

Judul : Membongkar Manipulasi Sejarah; Kontroversi Pelaku dan Peristiwa
Penulis : Asvi Warman Adam
Penerbit : Kompas, Jakarta
Tahun : I, April 2009
Tebal : xii+258 halaman

Jas merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Demikian salah satu pesan Bung Karno untuk bangsa ini. Pesan untuk tidak melupakan sejarah bangsanya sendiri. Benar. Bangsa ini telah melewati perjalanan panjang, bahkan sangat panjang, baik pada masa perjuangan melawan penjajahan, masa perjuangan meraih kemerdekaan, maupun pasca kemerdekaan hingga sekarang. Sejarah bangsa telah melahirkan tokoh-tokoh pahlawan hebat.

Buku Membongkar Manipulasi Sejarah; Kontroversi Pelaku dan Peristiwa ini merupakan kumpulan artikel Asvi Warman Adam di Harian Kompas sejak 1998 sampai 2008 dengan tema besar mengungkap sejarah bangsa yang selama ini dimanipulasi penguasa atau yang sengaja dikubur penguasa karena dianggap “membahayakan” kekuasaan, hingga bangsa ini tidak mengetahui sejarahnya sendiri, atau tahu sejarah tapi hanya satu versi: versi pemerintah Orde Baru. Namun, seiring runtuhnya penguasa Orde Baru tahun 1998, sejarah yang lama terkubur itu pun banyak kembali, termasuk oleh Asvi Warman Adam.

Buku ini dibagi menjadi empat bagian. Pertama, memaparkan beberapa tokoh utama sejarah bangsa yang telah menorehkan hasil bagi perjuangan bangsa Indonesia, baik pada masa perjuangan kemerdekaan maupun pasca kemerdekaan, namun sebagiannya sudah terlupakan atau tidak banyak yang tahu.

Kedua, mengulas drama sejarah bangsa yang masih menyisakan kontroversi hingga saat ini. Misalnya, tentang Supersemar, De-Soekarnoisasi, kasus biografi Soekarno, peristiwa Malari 1974, dan Supriyadi yang konon muncul lagi. Selama Orde Baru, upaya-upaya de-Soekarnoisasi gencar dilakukan. Sejarawan Prancis, Jacques Leclerc, mengatakan pada dasarnya Soekarno “dibunuh dua kali”, yakni bersatus tahanan rumah tetapi tidak dirawat kesehatannya sehingga kesehatannya memburuk lalu meninggal dan pemikirannya dilarang didiskusikan.

Ketiga, tentang kontroversi istilah G30S, cerita-cerita seputar G30S, tentang Latief, narasi tragedi 1965, pembantaian 1965, malam G30S, tentang Tap XXV/MPRS/1966, dan simalakama Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober. Meski menewaskan enam jenderal sekaligus dalam satu malam bukan di medan perang, dampak dari gerakan G30S sangat besar: pembantaian terhadap orang-orang PKI yang memakan korban lebih dari 500.000 jiwa dan pembuangan orang-orang PKI ke Pulau Buru pada 1969-1979.

Keempat, pelurusan sejarah di sekolah, meluruskan pendidikan sejarah, pembaruan pendidikan sejarah, pedoman sejarah nasional, diorama Monas, film sebagai agen sejarah, kekerasan dalam sejarah Indonesia, menghapus dendam sejarah, menghapus jejak sejarah, dan menyelamatkan arsip bangsa.

Asvi berhasil menjelaskan bagian sejarah penting bangsa secara baik dan objektif dengan mendiagnosis sumber sejarah yang ada. Ia berhasil membuka tirai sejarah bangsa yang terkubur dan terlupakan atau dimanipulasi penguasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s