Demokrasi Hakulyakin Indonesia

Oleh : Fajar Kurnianto
Sinar Harapan, Sabtu 23 Januari 2010

Judul buku : Demokrasi La Roiba Fih
Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Kompas, Jakarta
Tahun : I, Juli 2009
Tebal : 282 halaman

Demokrasi adalah harga mati untuk negeri ini. Bahkan, kalau perlu kematian dipersembahkan demi kehidupan demokrasi. Demokrasi La Roiba Fih, demikian judul buku kumpulan tulisan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) ini. Demokrasi sudah tidak perlu diragukan lagi untuk membawa bangsa ini menjadi makmur dan sejah¬tera, siapa pun pemimpinnya, siapa pun para pejabatnya. De¬mokrasi adalah hakulyakin.

Hanya sebagian kecil orang di negeri ini yang tidak percaya mantra dan keajaiban demo¬kra¬si. Hanya segelintir orang yang pesimistis dengan demo¬krasi. Hanya minimal suara-suara yang ingin mengganti demokrasi dengan paham lain. Hanya minoritas orang-orang yang merasa demokrasi sebagai biang keladi dari masalah bangsa. Hanya secuil orang yang mengambinghitamkan demokrasi sebagai penyebab keterpurukan dan perjalanan bangsa yang masih di tempat.

Demokrasi tidak pernah disalahkan ketika korupsi di negeri ini merajalela, menggurita, dan membudaya. Demokrasi tidak pernah disalahkan ketika para pemimpin dan pejabat lebih mementingkan diri sendiri dan kelompoknya serta menelantarkan rakyat banyak. Demokrasi tidak pernah disalahkan ketika skandal menyangkut dirampoknya uang rakyat sudah begitu terang di depan mata. Demokrasi tidak pernah disalahkan ketika energi habis hanya untuk urusan politik daripada pembangunan negeri.

Inilah hebatnya demokrasi. Demokrasi begitu sakral, sesakral kitab suci wahyu Tuhan. Demokrasi menjadi mukjizat terhebat yang ditemukan sepanjang peradaban manusia. Manusia boleh mati, tapi demokrasi tidak boleh mati. Demokrasi harus terus hidup. Karena ketika demokrasi mati, kiamatlah yang terjadi. Demokrasi adalah surga bagi umat manusia. Demokrasi memberikan nyawa pada manusia yang membuatnya merasa sebagai manusia yang dihargai dan dihormati, bukan manusia ala zombi: raga bergerak tanpa nyawa, hanya haus darah.

Hukumnya Wajib

Membela demokrasi hukumnya wajib bagi setiap individu. Haram hukumnya menolak demokrasi. Tidak ada satu pun teks kitab suci yang mengharamkan demokrasi, karena demokrasi memang fitrah manusia. Manusia harus hidup dalam alam demokrasi. Sejatinya, manusia dan demokrasi memang satu kesatuan, seperti dua sisi koin. Manusia tidak bisa hidup tanpa demokrasi. Dengan demikian, demokrasi memang adalah sesuatu yang melekat dalam diri manusia, bahkan sejak manusia belum berada di alam dunia.

Demokrasi tidak pernah salah, dan tidak akan pernah salah. Demokrasi selalu benar. Yang salah adalah manusia yang mengusung demokrasi. Demokrasi tidak punya celah untuk disalahkan. Orang boleh saja meragukan yang lainnya, tapi orang tidak boleh meragukan demokrasi. Meragukan demokrasi sama halnya dengan meragukan diri sendiri, meragukan kemanusiaannya sendiri. Demokrasi adalah kebenaran sejati, yang lainnya hanyalah kebenaran semu yang bisa diganti-ganti. Demokrasi tidak bisa dan tidak boleh diganti-ganti.

Manusia tidak bisa hidup di alam selain demokrasi. De¬mokrasi adalah habitat manusia. Keluar dari demokrasi sama seperti keluarnya ikan dari air: mati. Mereka yang menginginkan digantinya demokrasi dengan paham lain di negeri ini tidak menyadari betapa berbahayanya apa yang mereka inginkan. Tidak ada alternatif lain untuk negeri ini selain demokrasi. Demokrasi memang segala-galanya untuk negeri ini. Mayoritas orang ¬sepakat dengan demokrasi. Demokrasi menjamin kehidup¬an berjalan normal, stabilitas terjaga, dan manusia bisa mengekspresikan apa yang ingin ia ekspresikan. Watak demokrasi memang tidak pernah menolak, menyingkirkan, atau membuang. Demokrasi selalu mempersilakan.

Buku ini adalah kumpulan artikel yang ditulis oleh Cak Nun dalam berbagai kesempatan. Cak Nun cinta demo¬krasi di negeri ini yang saat ini banyak membuahkan hal-hal positif. Cak Nun bukan tipe orang yang suka mencela individu atau institusi tertentu secara blak-blakan. Cak Nun lebih memilih membesarkan, tidak mengerdilkan, mengecilkan. Cak Nun bukan berarti tidak kritis, justru kritisnya ada pada upayanya membesarkan ini. Sentilan-sentilannya sangat tajam, tapi diung¬kap dengan gaya seorang bu¬da¬yawan luar biasa yang memberikan ketenangan batin, men-cerahkan hati, dan pikiran kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s