Berdakwah Tanpa Pembohongan Publik

save maryam - bunyanOleh : Fajar Kurnianto
Majalah GATRA, 4 – 10 April 2013

Judul : Maryam Menggugat, Menguak Propaganda Save Maryam
Penulis : Maulana M Syuhada
Penerbit : Bunyan, Yogyakarta
Cetakan : I, Februari 2013
Tebal : 240 halaman
ISBN : 978-602-7888-06-7

“Buku ini mengingatkan pentingnya dakwah dengan kejujuran seperti dilakukan Nabi, karena ini kunci keberhasilan. Apa yang dilakukan Mercy Mission tidak selaras dengan ajaran Islam.”

Kejujuran adalah salah satu kunci utama keberhasilan dakwah. Dalam sebuah hadis dinyatakan: kejujuran akan menunjukkan pada kebaikan, kebaikan akan menunjukkan kepada surga. Artinya, kejujuran adalah kunci menuju tercapainya keberhasilan yang gilang-gemilang. Sukses dakwah Nabi Muhammad tidak bisa dilepaskan dengan aspek kejujuran ini. Beliau sendiri digelari Al-Amin, yakni orang tepercaya karena kejujuran beliau.

Saat ini, dalam praktik dakwah, aspek kejujuran kerap dikesampingkan. Seperti dilakukan Mercy Mission, sebuah lembaga muslim yang berpusat di London, melalui video “Save Maryam” berdurasi 4 menit 48 detik yang diunggah di Youtube. Video ini, selain mengisahkan seorang muslimah bernama Maryam yang pindah agama, juga menyebutkan data bahwa 2 juta muslim Indonesia setiap tahun pindah agama. Akibatnya, pada tahun 2035 Indonesia akan kehilangan status sebagai negara bermayoritas muslim. Karena itu, masyarakat muslim dunia diseru untuk mendonasikan uangnya pada proyek “Save Maryam” untuk menyelamatkan Indonesia.

Maulana M Syuhada, dalam bukunya ini mencoba menyorot persoalan tadi. Ia tergelitik dengan data-data yang disodorkan pihak Mercy Mission yang ternyata sarat dengan ketidakjujuran, terutama mengenai akan hilangnya status Indonesia sebagai negara bermayoritas muslim pada tahun 2035.

Beberapa kejanggalan ditemukan. Misalnya, Mercy Mission mengklaim bahwa statistik ini berasal dari International Crisis Group (ICG). Namun, dalam video itu terlihat sebuah laporan dengan kop surat ICG, sementara tanggal yang tertulis adalah Jakarta/Brussel, 24 November 2012, padahal video ini diluncurkan pada 21 Juli 2012, sehingga tanggal pada kop surat laporan tersebut adalah fiktif.

Maryam, yang diperlambangkan dalam video “Save Maryam”, menurut Mercy Mission, adalah simbol dari generasi muda Indonesia yang potensial pindah agama. Menurut Syuhada, ini sangat berlawanan dengan realitas masyarakat muslim Indonesia yang justru terus berkembang. Realitas Islam Indonesia sama sekali tidak seperti yang diperlihatkan video “Save Maryam”.

Data dalam video itu, menurut Syuhada, juga tidak sesuai dengan data dari pemerintah Indonesia. Menurut lima data sensus terakhir, proporsi umat Islam Indonesia relatif tidak mengalami perubahan dan stabil pada kisaran 87% – 88% sejak 1971. Tidak ada trend yang mengindikasikan penyalipan (take over). Karena itu, klaim Mercy Mission itu hanyalah isapan jempol alias tidak benar. Data menunjukkan, dari total kenaikan jumlah penduduk antara tahun 2000 dan 2010 yang mencapai 3.639.933 pertahun, populasi muslim bertambah 2.964.739 pertahun. Sementara itu penduduk Kristen bertambah 548.141 pertahun.

Dari penelusuran Syuhada, Mercy Mission menggunakan data yang salah, sehingga hasil analisisnya pun keliru. Mercy Mission memakai data sensus tahun 2000 sebagai starting point, tetapi tidak menggunakan data sensus tahun 2010 sebagai end point. Mengapa mereka tidak mau menggunakan fakta (data sensus 2010), tapi menggunakan data prediksi untuk tahun 2009?

Mereka, menurut Syuhada, mengklaim melakukan prediksi terhadap jumlah penduduk Kristen pada 2009 menggunakan empat sumber berbeda, yaitu: World Harvest (20%), Secret Believers (17%), Secret Believers/ICG (15%), Kementerian Agama (12%). Lalu, mereka menghitung rata-rata dari empat sumber itu dan mendapatkan angka 16%. Selanjutnya, mereka mengklaim, proporsi penduduk Kristen tahun 2009 adalah 16% dari total jumlah penduduk.

Jika dihitung dari sensus pemerintah tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia 237.641.326 (100%), Protestan 16.528.513 (6.96%), Katolik 6.907.873 (2.91%). Jika digabungkan, Kristen (Protestan dan Katolik) adalah 23,436,386 = 9.86%. Angka prediksi yang dikeluarkan Mercy Mission, 16 % (2009), sangatlah jauh menyimpang dari realitas.

Inilah yang disebut Syuhada sebagai ketidakjujuran terhadap publik atas nama dakwah. Mercy Mission membuat video “Save Maryam” dengan data-data yang salah, lalu menghasilkan analisis yang salah, dan ini disebarkan ke dunia untuk menggalang dana dengan maksud menyelamatkan Indonesia. Ini tentu tidak bisa dibenarkan. Pihak ICG sendiri telah membantah data itu dan meminta agar Mercy Mission menghapus semua referensi yang terkait dengan ICG.

Kisah Kiki Syahnakri di Tanah Timor

timor timur untold story - kompasOleh : Fajar Kurnianto
Jurnal Nasional, Minggu 24 Februari 2013

Judul : Timor Timur, The Untold Story
Penulis : Kiki Syahnakri
Penerbit : Kompas, Jakarta
Cetakan : I, 2013
Tebal : xliv+436 halaman
ISBN : 978-979-709-683-0

“Lepasnya Timor Timur dari pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tahun 1999 dan menjadi negara sendiri bernama Timor Leste masih menyisakan kekecewaan yang mendalam bagi sebagian kalangan. Di antaranya adalah kalangan warga Timor Timur itu sendiri yang prointegrasi.”

Ada yang menyebut lepasnya Timor Timur merupakan kegagalan kepemimpinan nasional mempertahankan keutuhan NKRI, yang ironisnya justru terjadi di awal-awal reformasi pascajatuhnya rezim Orde Baru (Orba) pimpinan Soeharto. Di antara kalangan yang memendam kekecewaan atas lepasnya Timor Timur bisa disebut adalah warga Timor Timur sendiri yang prointegrasi. Setelah Timor Timur lepas, sebagian dari mereka harus mengungsi ke wilayah Indonesia, berada di kamp-kamp pengungsian, meninggalkan tanah kelahiran mereka. Kalangan lain yang kecewa adalah para pejuang prointegrasi dengan Indonesia yang bersama militer Indonesia harus mempertaruhkan nyawa demi bisa bergabung dengan Indonesia.

Kalangan lain yang kecewa adalah pihak militer Indonesia. Mereka yang berada di garis depan perjuangan mengintegrasikan Timor Timur ke wilayah Indonesia. Tidak kurang ribuan nyawa melayang untuk itu. Setiap saat bisa terjadi kontak senjata dengan pihak Fretilin, suatu kelompok politik berhaluan kiri di Timor Timur yang menginginkan kemerdekaan penuh dari Portugis (Portugal) pasca-Revolusi Bunga yang terjadi di Portugal tahun 1974 yang dimenangkan kalangan kiri. Kelompok ini juga yang berjuang untuk lepas dari Indonesia sejak integrasi tahun 1976 hingga akhirnya berhasil tahun 1999.

Di kalangan militer Indonesia, nama tokoh yang terkait masalah Timor Timur adalah Kiki Syahnakri. Bisa jadi nama beliau tidak terlalu dikenal luas. Padahal, dia salah satu tokoh penting di dalamnya. Dialah salah satu pemain lapangan yang terjun langsung dalam operasi tempur dan teritorial di wilayah ini. Dia yang pertama kali membuka arus pengungsian warga Timor Timur ketika terjadi konflik politik yang berujung perang saudara antarfaksi politik di sini pada akhir 1975. Konflik ini pula yang membuat Indonesia ikut campur, terutama setelah didesak pihak Amerika Serikat untuk menerjunkan pasukan di sini, khawatir Timor Timur jadi negara komunis.

Kisah perjalanan dan karier militer di Timor Timur inilah yang ditulis Kiki dalam bukunya, “Timor Timur, The Untold Story”. Bisa disebut, ini merupakan buku biografi militer Kiki. Di sini ada kisah pribadi, seperti pertemuannya dengan perempuan yang masih punya kerabat dengan orang Timor Timur yang kemudian menjadi istrinya, kemahiran Kiki berbahasa Tetun yang menjadi bahasa orang Timor Timur, juga kisahnya dalam konteks berbagai posisi di militer yang dijabatnya. Terakhir, ketika Timor Timur lepas, Kiki menjadi Pangdam IX/Udayana.

Beberapa kisah menarik diungkap Kiki, misalnya “gesekan” antara dirinya dengan Prabowo Subianto. Ini terjadi ketika Kopassus hendak menggelar operasi khusus di Timor Timur dengan sandi Operasi Melati pertengahan 1995. Ketika itu, Prabowo menjabat Wakil Komandan (Wadan) Kopassus. Operasi-operasi itu sebetulnya lazim. Tetapi, yang mengejutkan Kiki, dalam operasi itu ternyata ada program pembentukan “massa tandingan” untuk meredam gejolak demonstrasi yang terjadi. Ketika itu, Kiki adalah Komandan Korem. Kiki sangat menentang gagasan ini. Menurutnya, gagasan “massa tandingan” sama sekali tidak arif, pertimbangannya dangkal, dan ceroboh. Jika gagasan ini dijalankan, kata Kiki, akan memakan banyak korban, dan semakin lama akan kian meluas (hlm. 194).

Peran Kiki yang berat juga dia rasakan terutama pascareferendum. Ia harus berjuang menghadapi berbagai tudingan yang dialamatkan kepada pihak militer Indonesia sebagai pelanggar HAM, terutama pada masa darurat militer di wilayah ini. Tudingan itu kebanyakan dilakukan oleh media-media internasional dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat pegiat HAM. Pers lokal juga kerapkali menyudutkan militer Indonesia. Mereka banyak memberitakan sesuatu yang terkait dengan militer Indonesia tanpa konfirmasi atau verifikasi lebih dulu.

Disebutkan, misalnya, muncul tudingan terhadap Batalyon 613 yang bersiap untuk kembali ke basisnya di Kalimantan. Para prajurit batalyon ini dituding memperkosa 200 wanita di Qom, dekat Laga, tempat mereka menanti angkutan. Padahal, kata Kiki, Qom adalah kota kecil dengan jumlah penduduk tidak mungkin mencapai 200 orang, bahkan jika nenek moyang mereka ikut dihitung sekalipun. Isu lainnya, tentara melatih 15.000 milisi di Atambua untuk mengacaukan Timor Timur pascareferendum. Jika benar, tentu jumlah sebanyak itu akan jelas terlihat. Nyatanya, memang tidak ada.

Buku ini, melalui seorang Kiki, sesungguhnya merupakan suara pembelaan orang militer. Bisa dikatakan, curhat dari seorang yang tahu banyak tentang Timor Timur, karena hampir 11 tahun karier militernya berurusan dengan masalah Timor Timur. Kiki begitu merasa terpukul ketika akhirnya Timor Timur lepas. Ia dan pihak-pihak yang merasa telah berjuang mempertaruhkan nyawa selama ini merasa sia-sia. Ia tidak bisa mengerti bagaimana proses politik dan pelbagai pemikiran yang terjadi di Jakarta yang dipandangnya tidak tahu persoalan sebenarnya di Timor Timur dan bagaimana cara mengatasinya secara lebih elegan tanpa perlu referendum.

Indonesia di bawah Presiden BJ Habibie pada waktu itu memang tengah mendapat sorotan dari dunia internasional. Indonesia ingin memperlihatkan kepada dunia internasional komitmennya terhadap proses demokrasi pascarezim otoritarianisme Orba dan penegakan HAM. Habibie ingin menunjukkan diri sebagai seorang demokrat sejati dengan mengizinkan dilakukannya referendum untuk Timor Timur. Kiki menulis buku ini dalam perspektif militer yang tentunya berbeda dengan versi di luar militer. Buku ini setidaknya bisa menjadi sumber referensi pengaya terkait Timor Timur dari seorang militer, pelaku lapangan yang sudah lama berkecimpung di sini dan, seperti dikatakan penulisnya, sangat mencintai tanah Timor Timur dan masyarakatnya. Menarik disimak.

Melihat Dimensi Orba sebagai Kelanjutan Orla

soeharto murid soekarno - roy bb janisOleh : Fajar Kurnianto
Koran Jakarta, Sabtu 15 Desember 2012

Judul : Soeharto Murid (Penerus Ajaran Politik) Soekarno
Penulis : Roy BB Janis
Penerbit : Optimist, Jakarta
Cetakan : I, September 2012
Tebal : xx+306 halaman
ISBN : 978-602-97878-2-5

Orde Baru (Orba) di bawah Soeharto acap kali dianggap sebagai benar-benar baru, terlepas dari rezim sebelumnya, Orde Lama (Orla) pimpinan Soekarno. Pada satu sisi memang ada yang benar-benar baru, tetapi lebih banyak yang sama. Tepatnya, rezim Orba merupakan kelanjutan praktik sebelumnya. Orba hanya mengulang, melanjutkan, dan menyempurnakan rezim Orla.

Inilah yang ingin disampaikan Roy BB Janis dalam bukunya, Soeharto Murid (Penerus Ajaran Politik) Soekarno. Tidak ada yang benar-benar original dari rezim Orba. Contoh, dalam mempertahankan UUD 1945 sebagai konstitusi permanen melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Sejak kemerdekaan, Indonesia telah memiliki tiga UUD Sementara, yaitu UUD 1945 (berlaku dari 1945 sampai 1949), UUD 1949 (berlaku kira-kira setahun), dan UUD 1950 berlaku dari 1950 sampai 1959 (hlm 119).

Pancasila, yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 juga demikian, yang menjadi satu-satunya asas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Presiden Soekarno memperkenalkan tafsir terhadap Pancasila dengan Manipol-Usdek (Manifesto Politik UUD 1945, Sosialisme ala Indonesia, Demokrasi Terpimpin dan Kepribadian Indonesia). Manifesto ini merupakan materi pokok pidato Presiden Soekarno tanggal 17 Agustus 1959 berjudul “Penemuan Kembali Revolusi Kita” yang kemudian ditetapkan Dewan Pertimbangan Agung menjadi Garis-Garis Besar Haluan Negara (hlm 121).

Pada zaman Orba, UUD 1945 ini juga terus dipertahankan, bahkan disakralkan karena tidak ada amendemen. Pancasila juga demikian. Kelompok, organisasi, hingga partai harus berasaskan Pancasila.

Soeharto juga membuat penafsiran Pancasila yang didoktrinkan kepada masyarakat Indonesia lewat Pedoman, Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila yang dikuatkan dengan Ketetapan MPR No II/MPR/1978 (hlm 132).

Sistem kepartaian pada masa Orla juga dilanjutkan Orba. Kegagalan sistem Demokrasi Parlementer dan kekisruhan politik pascapemilu 1955 dengan banyak partai membuat Soekarno memperkenalkan ide Demokrasi Terpimpin dan konsep Nasakom (Nasionalis, Agama, dan Komunisme).

Dengan Demokrasi Terpimpin, Soekarno diangkat sebagai presiden seumur hidup, meski akhirnya terjegal di tengah jalan. Melalui Nasakom, Soekarno ingin mengganti sistem multipartai dalam Demokrasi Parlementer sebelumnya. Nasakom inilah yang akan menopang dan memperkuat jalannya pemerintahan.

Demokrasi era Orba memang bukan Terpimpin, tetapi Liberal. Hanya, praktiknya, kekuasaan terus-menerus diupayakan agar dipegang Soeharto. Dalam UUD 1945 disebutkan bahwa seorang presiden bisa dipilih kembali pada periode berikutnya. Inilah yang dilakukan Soeharto melalui mesin politik Golkar yang disokong militer begitu kuat.

Dari tiap pemilu, Soeharto terus terpilih karena Golkar selalu menjadi pemenang. Dia mundur pada Mei 1998 karena tekanan publik. Genap sudah 32 tahun sejak pertama Soeharto menjadi presiden tahun 1966. Krisis ekonomi 1997/1998 menjadi faktor lain yang ikut juga membuat kekuasaan Soeharto jatuh.

Faktor ini pula yang dulu menjadi penyebab rezim Soekarno jatuh dan berpindah tangan. Demokrasi Liberal era Orba ternyata hanya kulit. Isinya tidak berbeda dengan Demokrasi Terpimpin, yakni terciptanya otoritarianisme.

Melalui buku ini, Janis menegaskan bahwa doktrin “baru” pada rezim Orba tidaklah benar-benar “baru”. Dia justru merupakan kelanjutan atau meneruskan rezim sebelumnya. Soeharto tiada lain adalah “murid” atau “pelanjut” ajaran politik Soekarno.

Buku ini hanya fokus pada titik-titik persamaan, tidak menyentuh sedikit pun perbedaan yang bisa disebut “baru”. Misalnya, orientasi ekonomi Orla lebih cenderung ke sosialis, sementara Orba ke kapitalis.

Suara Kelompok Antiperubahan Iklim

Oleh : Fajar Kurnianto
Majalah GATRA, 22 – 28 November 2012

Judul : Kebebasan dan Politik Perubahan Iklim
Penulis : Vaclav Klaus
Penerbit : Freedom Institute, Jakarta
Cetakan : I, Juli 2012
Tebal : xxiv+154 halaman
ISBN : 978-602-99571-3-6

“Bertentangan dengan para aktivis lingkungan, Presiden Ceko ini memandang perubahan iklim sebagai mekanisme alamiah yang tak terkontrol. Ia menganggap Protokol Kyoto sebagai kesalahan fatal.”

Masalah lingkungan hidup dan perubahan iklim global menjadi isu yang selalu jadi pembicaraan para aktivis lingkungan, ilmuwan, hingga politisi dari berbagai negara. Sebagian kelompok, seperti Al Gore dan para pencinta lingkungan hidup, menyebut negara-negara industri harus ditekan untuk menekan pencemaran lingkungan. Kelompok lain, seperti Vaclav Klaus, menentang keras upaya itu dan menyebutnya sebagai upaya memasung kebebasan.

Klaus adalah Presiden Ceko saat ini yang beraliran liberal klasik, sejalan dengan pemikiran Von Mises dan Hayek. Dia memang dikenal dengan kritik-kritik tajamnya terhadap pemikiran para aktivis lingkungan hidup, salah satunya tertuang dalam buku ini. Menurut dia, isu perubahan iklim global terlalu dibesar-besarkan, sehingga menciptakan semacam kengerian akan nasib bumi dalam hitungan puluhan tahun ke depan. Ia memandang bumi sejak dahulu memang selalu berubah, dan menciptakan keseimbangan sendiri. Dan ini adalah sesuatu yang alamiah.

Sementara itu, Al Gore dalam sebuah kuliahnya di New York secara gamblang menyatakan hal yang berlawanan. “Kita sedang berhadapan dengan darurat bumi. Dan kita sedang bergerak ke beberapa titik singgung yang dalam jangka waktu paling sedikit 10 tahun dapat membuat kita tidak mungkin lagi menghindari kerusakan yang tak mungkin diperbaiki,” ujarnya.

Menurut Klaus, pernyataan itu sangat menggelikan dan dapat dikategorikan sebagai upaya menakut-nakuti. Pernyataan itu mengabaikan kenyataan bahwa dalam sejarah planet kita, kondisi dan bentuk benua dan lautnya, struktur jenis hewan dan tumbuhannya, evolusi atmosfer, dan sebagainya, telah mengalami proses perubahan yang permanen yang disebabkan baik oleh mekanisme alamiah yang kompleks yang berasal dari dalam maupun oleh faktor-faktor luar yang tidak bisa dikontrol. Banyak dari mekanisme alam, seperti aktivitas Matahari, benar-benar di luar kekuasaan kita.

Klaus percaya, seperti sudah terbukti dalam sejarah, umat manusia saat ini dan masa depan akan mampu menghadapi situasi perubahan iklim tanpa perlu negara-negara di dunia memutuskan kebijakan pembatasan atau hingga pelarangan terhadap kegiatan-kegiatan ekonomi (industri) apa pun. Keputusan politik negara-negara dalam berbagai forum yang membahas perubahan iklim, lebih merupakan gambaran sentralisasi politik negara. Bagi Klaus, ini tidak sesuai dengan prinsip kebebasan manusia.

Dana yang digelontorkan negara-negara dengan dalih penyelamatan lingkungan untuk mengatasi pemanasan global, menurut Klaus, adalah sia-sia karena dana pajak itu diperuntukkan bagi sesuatu yang tidak pernah terbuktikan secara ilmiah. Mengutip George Kukla, ilmuwan Ceko di Columbia University, Klaus mengatakan, “Pemanasan yang terjadi saat ini merupakan proses alamiah, yang disebabkan oleh perubahan geometri orbit bumi terhadap matahari. Manusia tidak akan mampu menghentikannya, bahkan seandainya mereka ingin melakukannya.”

Ia juga menyodorkan hasil kajian ilmiah S. Fred Singer dan Dennis T. Avery (2005), “The Physical Evidence of Earth’s Unstoppable 1500-Year Climate Cycle”. Mereka Mereka tidak membantah bahwa pemanasan, meskipun sangat sedikit, memang terjadi. Namun, dari kajian mendalam itu, mereka yakin bahwa pemanasan kecil ini merupakan bagian dari siklus 1.500 tahunan dan bahwa kegiatan manusia hanya memainkan peran kecil dalam siklus itu.

Secara tegas, Klaus menyebut Protokol Kyoto sebagai sebuah kesalahan fatal. Pertama, protokol tersebut menetapkan sasaran yang tidak perlu, karena banyak sekali ketidakpastian dalam perdebatan tentang perubahan iklim. Kedua, protokol itu sulit dicerna karena tidak ada jalan keluar baik untuk efek yang berasal dari luar maupun proses dari dalam yang berlangsung secara alamiah. Ketiga, protokol itu menghambat pertumbuhan ekonomi, yang merupakan satu-satunya jaminan bahwa tantangan masa depan, termasuk tantangan ekologis, dapat diatasi. Keempat, seandainya protokol itu ditaati, tidak akan ada efek yang berarti. Kelima, protokol itu mengesampingkan prioritas lain yang jauh lebih besar, lebih mendesak dan lebih mungkin dijalankan dari perhatian kita.

Buku ini sejatinya merupakan kritik tajam atas isu-isu lingkungan yang diembuskan para enviromentalisme yang dituding sebagai kebangkitan politik terencana yang mengekang kebebasan ekonomi. Klaus bisa disebut seorang liberal radikal, meminjam kategorisasi Rainer Erkens yang diurai dalam epilog buku ini.

Epos Perjuangan Sang Nabi

Oleh : Fajar Kurnianto
Lampung Post, Minggu 4 November 2012

Judul : Ketika Bulan Terbelah (When The Moon Split), Jejak Biografi Nabi Muhammad
Penulis : Syaikh Shafiyyur Rahman Al-Mubarakfuri
Penerbit : Alita Aksara Media, Depok
Cetakan : I, September 2012
Tebal : xiv+384 halaman
ISBN : 978-602-92890-5-3
Harga : Rp85.000,-

Keberhasilan tidak lahir di ruang hampa. Ia merupakan buah kerja keras dan perjuangan yang tak kenal lelah, pantang menyerah menghadapi berbagai aral melintang. Aral yang tidak semata-mata bersifat bendawi mati, tetapi juga badani hidup. Demikianlah jalan hidup para nabi sejak Adam hingga Muhammad. Mereka semua telah bekerja keras menyebarkan ajaran Tuhan, menyampaikan kebenaran, mengeluarkan manusia dari “kegelapan” kepada “cahaya terang-benderang”, dalam konteks ruang dan waktu masing-masing.

Epos mereka direkam dalam kitab-kitab suci, abadi di tangan para pengikut mereka hingga kini, terus-menerus hidup dan dihidupkan karena menjadi teladan ideal dalam kehidupan. Shafiyyur Rahman Al-Mubarakfuri dalam buku ini menghadirkan epos dahsyat Nabi Muhammad, seorang nabi yang merupakan matarantai para nabi dan rasul sebelumnya. Ketika Bulan Terbelah (When The Moon Split) menjadi gambaran dahsyat perjuangan beliau menyebarkan kebenaran di tengah masyarakat pagan-politeis padang pasir Jazirah Arab, dimulai dari Mekah dan berlanjut di Madinah, dua kota suci yang hingga kini tak pernah sepi, seperti Jerussalem di Palestina.

Bulan memang pernah terbelah pada masa Nabi Muhammad, demikianlah sejarah menginformasikan. Abdullah bin Mas’ud, yang dikenal juga dengan nama Ibnu Mas’ud, salah satu dari “Abadilah Khamsah” (lima orang sahabat Nabi Muhammad yang bernama awal Abdullah), mengisahkan: orang-orang Quraisy Mekah meminta Nabi untuk memperlihatkan mukjizat kepada mereka, karena seperti yang mereka dengar dari cerita-cerita nenek moyang mereka, para nabi dan rasul terdahulu punya mukjizat yang diperlihatkan kepada kaumnya.

Nabi Muhammad lantas berdoa kepada Tuhan agar diberi mukjizat untuk diperlihatkan kepada mereka. Doa beliau dipenuhi: Nabi membelah bulan menjadi dua bagian. Setiap belahannya berada di dua sisi bukit Hira. “Lihatlah bulan itu! Saksikanlah!” kata Nabi kepada orang-orang. Mereka pun menoleh ke arah bulan dan melihatnya, takjub. Tetapi, mereka malah menyebut itu sebagai sihir. Seorang dari mereka mengatakan, “Mungkin Muhammad memantrai kita. Jadi, mari kita tunggu sampai beberapa musafir tiba di Mekah, dan menanyakan kepada mereka apakah mereka melihat sesuatu yang ajaib di tengah perjalanan mereka.”

Musafir atau kafilah niaga Quraisy yang tiba di Mekah beberapa hari kemudian pun segera mereka tanyai tentang terbelahnya bulan. Mereka menjawab bahwa mereka memang melihat terbelahnya bulan beberapa hari lalu, dalam perjalanan mereka. Ada begitu banyak orang yang menyaksikan bulan terbelah. Bukan hanya mereka yang ada bersama Nabi, tetapi juga para kafilah niaga di tengah perjalanan pulang mereka (hlm. 126-127). Sebagian kita saat ini, seperti halnya mereka, bisa jadi bertanya-tanya, benarkah bulan terbelah? Ada yang meyakini tanpa tanggapan, ada yang menyebutnya mungkin saja terjadi tetapi dengan perspektif atau penafsiran yang berbeda, ada juga yang tidak mengakuinya sama sekali.

Al-Mubarakfuri dalam buku ini meyakini dan menyebutnya sebagai mukjizat luar biasa Nabi Muhammad, seperti mukjizat-mukjizat yang juga dimiliki para nabi dan rasul sebelumnya. Tetapi, ia tidak memfokuskan buku ini pada aspek itu saja. Jalan hidup Nabi Muhammad justru tidak kalah dahsyatnya dengan mukjizat terbelahnya bulan. Sejak menerima wahyu Tuhan, lalu menyebarkannya di tengah-tengah masyarakat, berbagai reaksi keras bermunculan. Awalnya sebatas kata-kata celaan, hinaan, cemoohan dan cibiran. Semakin lama perlakuan buruk secara fisik, baik terhadap Nabi maupun para pengikutnya yang kian hari bertambah banyak.

Babak baru perjuangan Nabi dimulai di Madinah setelah hijrah dari Mekah. Peperangan demi peperangan dilalui beliau. Meski begitu, ini tidak berarti beliau mengabaikan pembangunan manusia. Dibandingkan dengan waktu untuk perang, waktu untuk bersama umat jauh lebih banyak. Karena perang dilakukan hanya ketika musuh mengumandangkan perang. Hingga wafat, capaian beliau sungguh luar biasa. Jazirah Arab berubah total. Yang tadinya bermayoritas pagan-politeis menjadi mayoritas monoteis. Hingga kini, hasil perjuangan beliau dapat dilihat di berbagai belahan dunia. Islam ada di mana-mana, hidup berdampingan dengan agama-agama lain. Bulan terbelah memang dahsyat, tetapi hanya dalam tempo 23 tahun Nabi membuat perubahan besar, ini juga tidak kalah dahsyat. Menarik dibaca.

Memahami Warisan Islam Tanpa Prasangka

Oleh : Fajar Kurnianto
Majalah GATRA, 18 – 24 Oktober 2012

Judul : Jejak Sejarah Islam
Penulis : David Nicolle
Penerbit : Alita Aksara Media, Depok
Cetakan : I, September 2012
Tebal : 192 halaman
ISBN : 978-602-92890-6-0
Harga : Rp150.000,-

“Lewat pemaparan tentang sejarah dan warisan Islam di dunia, Nicolle berusaha menyajikan kepada dunia Barat sebuah pemahaman tanpa prasangka dan kecurigaan”

Islam akhir-akhir ini menghadapi tantangan hebat. Tidak hanya dari internal, tapi juga eksternal. Kekerasan yang dilakukan sebagian pemeluknya terhadap sesama hanya karena berbeda paham dan keyakinan masih belum kunjung usai. Demikian pula ulah kelompok ekstrem yang anti-Barat dan menggemakan perang terhadap Barat.

Dari eksternal, Islam kerap berhadapan dengan persepsi hingga visualisasi negatif dan buruk yang digaungkan orientalis dan sebagian kecil masyarakat Barat. Islam digambarkan sebagai agama teroris hanya karena sebagian pemeluknya melakukan kekerasan. Malah ada yang memvisualisasikan Islam serta tokoh sentralnya, Nabi Muhammad SAW, dengan gambaran sangat buruk dan ahistoris.

Buku ini ditulis oleh intelektual Barat yang berupaya menjelaskan Islam secara objektif, dengan memaparkan rentang sejarah Islam yang panjang dari awal hingga abad ke-21. David Nicolle adalah sejarawan asal Inggris, spesialis sejarah militer Abad Pertengahan, khususnya di Timur Tengah. Dia pernah bekerja di BBC Arabic Service serta mengajar seni dan arsitektur dunia Islam di Universitas Yarmuk, Yordania. Dia juga pernah menjadi editor di Medieval History Magazine, majalah yang khusus mengulas sejarah Abad Pertengahan.

Buku ini ditulis sebagai ungkapan kegelisahannya terhadap sebagian masyarakat Barat yang ia anggap tahu Islam, tetapi keliru menilainya. Mereka melihat Islam berdasarkan mitos dan prasangka buruk yang menyebar luas. Pandangan mereka seolah memperoleh pembenaran dengan aktivitas kelompok ekstrem yang melakukan aksi-aksi brutal mengatasnamakan Islam. Padahal, aksi-aksi itu bertentangan dengan prinsip-prinsip fundamental dalam Islam yang mengajarkan toleransi, perdamaian, keadilan, kasih sayang, kesucian kehidupan, serta martabat manusia.

Buku ini penuh dengan gambar dan foto ekslusif. Sejarah Islam sejak kemunculannya di Mekkah pun dipaparkan dengan gaya feature. Secara perlahan-lahan tetapi pasti, Islam yang dibawa Nabi Muhammad ini mengalami perkembangan dan kemajuan yang sangat pesat. Kepribadian beliau yang jujur dan amanah membuatnya begitu disukai masyarakat, bahkan jauh hari sebelum beliau menjadi nabi di usia 40 tahun.

Pemaparan Nicolle Ini jelas berbeda jauh dibandingkan dengan gambaran buruk yang dibuat Sam Bacile dalam filmnya baru-baru ini, Innocence of Muslims. Nabi, kata Nicolle, justru sangat merasa terganggu dengan keegoisan dan pelanggaran susila yang beliau temui di Mekkah.

Bahasan tentang sosok Nabi Muhammad di buku ini tidak banyak. Nicolle lebih melihat Islam dalam dimensi yang lebih luas. Islam yang menyejarah dan menciptakan peradaban dengan berbagai capaian besar di berbagai bidang: agama, tata pemerintahan, budaya, seni, politik, ilmu pengetahuan, dan seterusnya. Itu terjadi pada masa Dinasti Umayyah yang berpusat di Syam (Syria), kemudian Abbasiyah di Baghdad (Irak), Mongol Islam (India), lalu Islam di Andalusia (Spanyol), Mesir (Dinasti Fatimiyah), dan di Turki (Utsmani), hingga redupnya Islam abad ke-21.

Nicolle tidak hanya menghadirkan sejarah Islam dalam aspek dinamika para pemeluknya, yang menyebar keluar dari Jazirah Arab. Ia membeberkan juga aspek warisan yang ditinggalkan peradaban Islam yang hingga kini masih terlihat. Kota-kota di Timur Tengah, Afrika Utara, Afrika Timur, dan Spanyol bagian selatan, juga di bagian timur di India dan Cina, hingga Indonesia. Semua menjadi saksi bisu persinggungan Islam dengan dunia luar Arab, melahirkan corak Islam yang beragam, lalu memberikan pengaruh pada budaya setempat. Ini terlihat jelas pada berbagai seni dan arsitektur bangunannya.

Pada umumnya, arsitektur peninggalan Islam adalah masjid dengan ukiran-ukiran kaligrafi yang sangat indah. Di Cordoba, Spanyol, yang dulu pernah menjadi basis Dinasti Umayyah, tercatat pernah ada 470 masjid. Yang paling penting adalah Masjid Agung di tepi sungai Guadalquivir. Selain itu, Nicolle mencatat ada 200.000 rumah untuk para tukang dan pedagang, 60.000 rumah untuk para pejabat dan pegawai pemerintahan lainnya, dan lebih dari 80.000 macam toko.

Pendek kata, di mana pun Islam hadir, selalu membawa kemajuan. Apalagi di tempat-tempat yang menjadi pusat kekuasaan Islam, Islam menjadi bagian dari mata rantai peradaban dunia dengan capaian-capaian yang mengagumkan di banyak bidang. Melalui buku ini, Nicolle ingin menyampaikan kepada masyarakat Barat gambaran Islam yang objektif sehingga mereka memahami Islam tanpa prasangka dan kecurigaan.

Menelusuri Jejak Yesus Historis

Oleh : Fajar Kurnianto
Koran Jakarta, Senin 24 September 2012

Judul : The Mystery of Historical Jesus
Penulis : Louay Fatoohi
Penerbit : Mizan, Bandung
Cetakan : I, April 2012
Tebal : 852 halaman
ISBN : 978-979-433-615-1

Yesus menjadi salah satu tokoh dunia yang paling banyak dibicarakan dari berbagai dimensinya, baik dimensi spiritual (ajaran-ajarannya) maupun historis (kehidupannya). Buku Louay Fatoohi ini membicarakan sosok Yesus historis berdasarkan Injil-Injil, Al Quran, serta sumber-sumber lainnya. Penulis kelahiran Bagdad, Irak, ini sebetulnya spesialis bidang sains. Gelar PhD-nya diraih dalam bidang astronomi dari Departemen Fisika, Universitas Durham, Inggris (1998).

Meski begitu, ia juga tertarik mengaji studi perbandingan agama. Buku ini juga merupakan studi perbandingan dari berbagai sumber untuk melihat Yesus secara historis. Beragam tema Fatoohi sajikan perihal Yesus. Misalnya, orang tua Yesus (Maria), saudara-saudara Yesus, juga sahabat-sahabat Yesus. Di sini juga dikupas kisah kelahiran Yesus yang ajaib, masa kecil, dan masa muda sampai meninggalnya.

Berbagai mukjizat Yesus juga dikupas. Fatoohi secara konsisten menyebutkan perihal Yesus dari sumber-sumber Injil yang beragam, lalu terakhir dibandingkan dengan sumber-sumber Al Quran. Dari sumber-sumber itu ada beberapa yang sama dan berbeda. Kelahiran Yesus disebutkan ajaib karena tanpa melalui hubungan laki-laki dan perempuan karena Maria, ibu-Nya, tetap perawan.

Dalam hal ini, sumber-sumber Injil dan Al Quran memiliki titik-titik kesamaan. Injil Matius, Lukas, dan beberapa naskah apokrip menggambarkan Yesus dikandung dalam keperawanan Maria karena mukjizat (halaman 158). Menurut Injil Matius, Maria akan mengandung seorang anak melalui Roh Kudus sebagaimana dikabarkan malaikat, tanpa melalui hubungan seksual dengan Yusuf (suami Maria).

Dalam Injil disebutkan bahwa kelahiran Maria menerima kabar dari malaikat yang mengatakan, “Maria! Perawan yang kepadanya Tuhan paling berkenan! Perawan yang penuh karunia” (halaman 159). Al Quran menegaskan hal yang sama perihal kelahiran Yesus melalui Maria yang perawan tanpa melalui hubungan seksual. Di sini, Fatoohi menyebutkan setidaknya 10 daftar penegasan eksplisit dan implisit di dalam Al Quran (halaman 184-187).

Misalnya, ketika malaikat datang mengabarkan kepada Maria bahwa Tuhan akan memberinya anak, dia berkata, “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!” (Al Quran, 19:20). Selain itu, nama Yesus disebutkan “Isa bin Maryam” yang berarti “Yesus Putra Maria.”

Hal menarik dari studi perbandingan Fatoohi ini adalah dalam pandangannya, apa yang tertera dalam Al Quran tentang Yesus bersifat konsisten. Buku ini memberi kita informasi yang cukup kaya tentang Yesus secara historis dari berbagai sumber. Penguasaan penulisnya terhadap sumber-sumber itu dan pemaparannya yang tekun dan cukup jelas menjadikan buku ini enak dibaca dan sebaiknya tidak dilewatkan, khususnya tentu saja bagi mereka yang berminat dalam studi agama.