Teguh Memegang Prinsip Jurnalisme

Oleh : Fajar Kurnianto
Alumnus UIN Jakarta

Judul : ‘A9ama’ Saya Adalah Jurnalisme
Penulis : Andreas Harsono
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta
Tahun : I, 2010
Tebal : 268 halaman

Menjadi jurnalis atau wartawan, dan terjun ke dunia pemberitaan, entah itu di media cetak (koran, majalah) maupun elektronik (televisi, radio, internet), sesungguhnya adalah panggilan jiwa atau nurani, panggilan profesi. Panggilan untuk menjadi pewarta kebenaran, hidup dalam industri media yang independen, dan sepenuhnya mengabdi untuk kepentingan masyarakat, serta menjadi profesional di dunia tulis-menulis kabar ini. Tapi, ketika media sudah masuk menjadi bagian dari industri seperti industri-industri lainnya, yang mengejar profit, tidak semata-mata pewartaan, profesionalisme mereka yang hidup dan dihidupi industri ini menghadapi ujian cukup berat.

Adakah media jurnalisme yang benar-benar independen saat ini? Ini pertanyaan klasik, tapi selalu dan tetap relevan. Independensi menjadi salah satu bagian utama industri media jurnalisme. Ini adalah salah satu dari 9 elemen jurnalisme yang ditulis Bill Kovach dalam karya terkenalnya yang sekaligus menjadi panduan para jurnalis di dunia saat ini, The Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and The Public Should Expect (April, 2001), bersama rekannya, Tom Rosenstiel. Independen berarti bebas dari berbagai intervensi dan kepentingan lain di luarnya. Hanya kepentingan menyampaikan kebenaran dan membela kebenaran, inilah yang menjadi pegangan.

Buku Andreas Harsono, salah satu murid langsung dari Bill Kovach, ini merupakan catatan-catatan reflektif seputar dunia jurnalisme dengan segala rona dan dinamika persoalan yang dihadapi. Misalnya, perihal laku wartawan, penulisan, dinamika ruang redaksi, dan peliputan. Dengan bekal ilmu jurnalis yang diperolehnya langsung dari Kovach, Andreas benar-benar ingin menegaskan pentingnya para jurnalis dan pihak-pihak yang bergerak di dunia jurnalisme untuk memegang teguh prinsip-prinsip jurnalisme. Jurnalisme harus dijadikan semacam “agama” yang dijunjung tinggi dan dipegang erat-erat. Ini jika memang para jurnalis ingin menjadi benar-benar profesional, bekerja untuk melayani dan membela kebenaran.

Sebagai sebuah karya yang disusun dari berbagai artikel dengan tema-tema yang berlainan, buku ini memang tidak cukup menggambarkan dunia jurnalisme secara utuh. Ada cukup banyak dari artikel-artikel itu sesungguhnya yang bisa dielaborasi lebih jauh. Tapi, meski begitu, artikel-artikel yang pada umumnya merupakan tanggapan atas berbagai persoalan yang muncul terkait dunia jurnalisme ini menjadi semacam prakata atau pendahuluan yang merangsang dan menggugah kita untuk mengetahui persoalan-persoalan besar dan cukup kompleks terjadi. Setidaknya, gambaran di permukaan menjadi potret bagaimana wajah dunia jurnalisme saat ini untuk menciptakan wajah jurnalisme ke depan yang lebih baik.

Dalam salah satu artikelnya di buku ini, Andreas misalnya menulis tentang “Independensi Bill Kovach” (h. 204-209). Di sini, dia bercerita tentang pengalaman Kovach yang menyelidiki tentang “pembelian” suara pada pemilihan presiden Amerika Serikat yang ternyata melibatkan temannya sendiri, Homer Peas. Peas ini adalah teman baik Kovach ketika mereka sama-sama duduk di sekolah menengah atas. Pada saat yang bersamaan, mereka juga masuk dinas militer tahun 1951 saat Perang Korea pecah. Kovach masuk ke Angkatan Laut dan Peas jadi paratrooper atau prajurit payung. Ketika keluar dari dinas militer, Kovach kuliah, lalu menjadi wartawan. Sementara Peas masuk ke dunia politik, jadi aktivitis Partai Demokrat.

Pada 1960, ketika Nixon sedang bertanding melawan Kennedy untuk jadi presiden Amerika, Peas ikut bekerja memenangkan Kennedy. Peas membujuk para veteran perang untuk memberikan suara mereka dengan imbalan sebotol wiski. Kovach berhasil mengungkap keterlibatan Peas dalam “pembelian” suara, sehingga Peas pun diadili. Peas kemudian diberi pilihan: masuk penjara atau ikut dinas militer lagi. Rupanya, Peas ikut dinas militer dan dikirim ke Vietnam. Pada 1966, Peas tewas di Vietnam dalam sebuah pertempuran.

Kematian Peas membuat Kovach sedih. Gara-gara dia yang mengungkap keterlibatan Peas, akhirnya Peas dikirim ke Vietnam dan tewas di situ. Kovach dengan nada sedih berkata, “Saya sering sedih dan marah karena secara langsung saya ikut menyebabkan kematian teman saya. Kalau saya tak menyebut nama Homer, dia jelas takkan berangkat ke Vietnam dan mati di sana. Tapi saya juga tahu bahwa keputusan untuk berbuat salah atau berbuat benar adalah keputusan Homer sendiri. Homer bisa menolak untuk ikut kejahatan yang membahayakan demokrasi kami. Tapi Homer memilih berbuat salah.”

Ketika Andreas menanyakan bagaimana sikap Kovach kalau ia menghadapi pilihan yang sama, dia menjawab, “You and I are journalists! Tugas kita adalah memberitahu warga kalau ada penyalahgunaan kekuasaaan. Warga harus tahu apa yang salah, apa yang benar, sehingga mereka bisa mengambil sikap dengan informasi yang lengkap. Kalau saya harus menghadapi ini lagi, saya kira saya akan melakukan hal sama dengan apa yang pernah saya lakukan terhadap Homer.” Kovach lebih mementingkan kebenaran daripada kepentingan selainnya. Inilah independensi Kovach, dan seorang jurnalis profesional mesti berpegang teguh pada independensi semacam ini.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s