Taubat; Titik Balik Meraih Kebahagiaan

Oleh : Fajar Kurnianto
Alumnus UIN Jakarta

Judul : Taubat; Surga Pertama Anda
Penulis : Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd
Penerbit : Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Jakarta
Tahun : I, April 2009
Tebal : xx+474 halaman

Setiap orang menginginkan kebahagiaan sejati dalam hidupnya. Andaikata kebahagiaan bisa dibeli, berapa pun harganya akan dikeluarkan. Atau, seandainya ia berada di suatu tempat, ia akan dicari sekuat tenaga. Mereka mengira kunci kebahagiaan hakiki ada pada harta yang melimpah, jabatan, pangkat, dan popularitas. Ternyata, bukan ini kuncinya. Apa sesungguhnya kunci untuk meraih kebahagiaan? Tidak lain adalah taubat kepada Tuhan.

Adolf Hitler, pemimpin Nazi Jerman era Perang Dunia II dikenal sebagai sosok yang rasis, congkak, ambisius, dan tiran. Mimpi terbesarnya adalah membentuk kekaisaran dunia yang mencakup semua negara dari segala penjuru bumi. Lebih dari tiga puluh lima juta orang ia korbankan demi ambisinya itu. Negara-negara di sekitar Jerman diserang. Tetapi, pada akhirnya, ia harus menerima kenyataan bahwa dirinya gagal, sebelum akhirnya ia sendiri tewas bunuh diri; ada yang menyebut dibunuh.

Albert Shiper, seorang Menteri Pertahanan dan Keamanan dalam pemerintahan Hitler bercerita tentang detik-detik terakhir kehidupan Hitler. Ia mengatakan, di akhir-akhir hidupnya, Hitler terlihat begitu panik. Peristiwa-peristiwa pahit yang dialaminya pada tahun-tahun terakhir memaksanya untuk menerima dan menanggung beban kehancuran. Pada saat-saat itu, ia merasa bahwa semua tujuan dan cita-citanya hancur. Ia mengalami depresi dan tekanan jiwa yang hebat.

Fisik Hitler begitu lemah dan tidak bergairah, layaknya orang tua renta yang tidak bisa apa-apa. Kedua bibirnya gemetar. Jalan sudah tidak setegap dulu, bahkan kakinya sangat lemas. Suaranya begitu parau, tidak jelas terdengar. Kepandaian dan kelalimannya lenyap. Suaranya yang dulu lantang sudah meredup. Pakaiannya yang dulu necis, berubah menjadi lusuh, penuh dengan ceceran makanan yang jatuh dari tangannya yang bergetar ketika makan. Ia pun akhirnya mati secara mengenaskan, bunuh diri—ada yang menyebut dibunuh—di dalam bunkernya.

Sepenggal kisah ini tercantum dalam buku Taubat; Surga Pertama Anda, karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd (h. 384-385), saat mengulas tentang taubat sebagai jalan menuju kebahagiaan. Hitler, penguasa yang gagah harus mengakhiri hidupnya secara tragis. Tidak ada kebahagiaan yang diraihnya di akhir hayatnya. Kekuasaannya justru menjadi malapetaka bagi dirinya. Cerita tragis juga dialami oleh Ummu Kultsum, seorang biduanita tenar kelas dunia yang dijuluki Bintang Kejora dari Timur. Di penghujung hidupnya, bukan kebahagian yang diraih, tetapi kesengsaraan dan penderitaan. Satu demi satu anggota tubuhnya lumpuh sebelum kemudian meninggal dunia.

Buku setebal 474 halaman ini ingin menegaskan bahwa kebahagiaan yang sejati tidak diraih dari aspek material, tetapi dari aspek spiritual, yakni kedekatan manusia dengan Tuhannya, kembali kepada agama. Kedekatan dengan Tuhan itu hanya bisa dicapai setelah seorang hamba melakukan taubat, titik balik kesadaran dari segala kesalahan, kekeliruan, dosa, dan maksiat, terhadap Tuhan, menjadi ketaatan total terhadap-Nya. Taat menjauhi dosa-dosa dan maksiat seperti yang telah digariskan oleh Tuhan dalam Kitab Suci-Nya dan Nabi dalam ajaran-ajarannya. Dan, taat menjalankan segala yang diperintahkan.

Taubat sendiri adalah wujud ketaatan kepada Tuhan. Inilah yang disebut dalam buku ini sebagai ketakwaan dan penyerahan diri secara total kepada Tuhan. Ketakwaan yang menjadi sumber dan pangkal kebahagiaan sejati. Kebahagiaan laksana sumber air yang memancar dari dalam hati, bukan seperti air hujan yang turun dari langit. Hati yang selalu bersih dan jernih akan merasakan kebahagiaan, baik pemilik hati ini ada di dalam istana ataupun gubuk, kota ataupun desa, saat senang ataupun marah, saat bersama orang-orang ataupun sendirian (h. 405). Orang yang mendambakan kebahagiaan sejati tidak akan menanyakan, apalagi sampai ambisius mengejar kekayaan, kedudukan, rumah-rumah megah, aneka rasa hiburan. Karena kebahagiaan ada dalam hatinya, bukan dalam itu semua.

Ibnu Taimiyyah, seperti dikutip dalam buku ini, mengatakan bahwa di dunia ini tidak ada satu pun yang membuat seorang hamba merasa tenang, tenteram, dan bahagia, kecuali berhadapan dengan Allah. Siapa saja yang menyembah selain Allah, walaupun yang disembah itu mencintainya dan ia memperoleh kasih sayang dan kenikmatan dalam kehidupan ini, maka sesungguhnya hal itu lebih berbahaya daripada makan makanan beracun (h. 407).

Tidak ada satu manusia pun yang tidak pernah berbuat salah terhadap Tuhan. Tetapi, tidak banyak manusia yang sadar telah berbuat salah, kemudian bertaubat, sampai akhir hayatnya. Sehingga, di detik-detik akhir kehidupannya, tidak ada kebahagiaan yang didapat. Hanya penderitaan batin yang merambat ke fisik. Tuhan sendiri Mahakasih. Dia membuka lebar-lebar pintu taubat manusia-manusia yang bersalah pada-Nya, seberapa besar dan seberapa sering pun kesalahan itu dilakukan. Tuhan juga mengingatkan manusia untuk tidak pesimis terhadap ampunan-Nya (h. 37-43).

Buku ini mengupas secara mendalam persoalan taubat yang menjadi sumber kebahagiaan hakiki, atau yang diistilahkan dengan Surga Pertama, yakni Surga Dunia, Surga di dalam hati manusia yang berimbas dalam realitas kehidupannya. Dimulai dari definisi taubat, klasifikasi dosa, pintu taubat yang terus terbuka, keutamaan dan rahasia di balik taubat, masalah-masalah dalam bertaubat, kesalahan dalam bertaubat, taubat dari dosa-dosa tertentu, taubat jalan menuju kebahagiaan, hal-hal yang dapat membantu bertaubat, hingga cerita orang-orang top dunia yang tenggelam dalam dosa dan kemaksiatan sehingga tidak menemukan kebahagiaan serta cerita orang-orang terkenal yang menemukan kebahagiaan karena bertaubat dan kembali kepada Tuhan.

Nilai lebih buku terletak pada penguasaan sang penulis tentang materi taubat dan kebahagiaan sejati dalam perspektif agama, Islam lebih spesifiknya. Sayangnya, ada beberapa cerita tokoh-tokoh top dunia dalam buku ini yang dikupas secara tidak lengkap, karena memang cerita-cerita itu hanya sebagai suplemen. Inilah yang menjadi kekurangan buku ini. Meski begitu, buku ini menyadarkan kita yang acap kali lalai sekaligus memberi pencerahan dalam kehidupan kita tentang arti kebahagiaan yang hakiki dalam hidup ini, seperti yang kita inginkan. Kebahagiaan yang membuat kehidupan menjadi laksana Surga, begitu nikmat dan indah. Taubat adalah titik balik untuk meraih kebahagiaan itu.*

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s